Chapter Fourty Four : A Boy From Fiapeless

4 2 0
                                        

Lee Jungshin berulang kali mengumpat seiring dengan langkah kakinya. Pria itu tidak henti-hentinya memaki atas nama Minho, mantan murid mereka. Ah, dia bersama Joonhyuk yang tampak menikmati perjalanannya.

"Anak kurang ajar itu harusnya mencari tempat yang sedikit bagus daripada mengajak kita ke tempat sialan ini?! Memangnya hal penting apa yang ingin dikatakannya?"

Joonhyuk terkekeh. Dia tidak terlalu peduli akan ocehan rekannya itu. Sambil menghindari beceknya jalan, pria yang berstatus sebagai guru olahraga itu hanya bersiul kecil.

Hei, mereka sudah berjalan kurang lebih tiga puluh menit. Menyusuri gang demi gang kecil di pinggiran kota, menyisiri jalan yang dipenuhi bau busuk yang menyengat hidung hanya demi informasi berharga yang ditawarkan oleh mantan murid mereka.

"Lagipula informasi apa yang ditawarkan anak itu? Bukannya masalah ini sudah selesai?"

Joonhyuk hanya mengedikkan bahunya acuh dan kembali fokus untuk mengamati perjalanannya. Seraya bersiul seraya diiringi oleh makian Jungshin yang masih belum berhenti.

"Oh, Lee-ssaem! Nam-ssaem!"

Minho melambaikan tangannya dari ujung jalan sana. Bibirnya yang tampak tersenyum sumringah dibalas senyum tipis dari Joonhyuk dan umpatan kesal dari Jungshin.

"Bagaimana perjalanan kalian?"

Jungshin berniat memukul kepala Minho jika saja Joonhyuk tidak menghalanginya. "Aku bersumpah akan menguburmu hidup-hidup jika kau tidak memberikan informasi penting yang kau maksud."

Minho tertawa kecil lalu mengajak kedua gurunya itu masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang ada di belakangnya. Tampak seperti rumah tak terpakai dengan berbagai tumbuhan liar dan tumpukan kardus-kardus yang tersebar di sekitarnya.

"Apa ini rumahmu?"

Minho menggeleng lalu berdecak kesal atas pertanyaan Jungshin. "Hyung, dengar! Apartemenku lebih keren daripada tempat ini."

"Lalu kenapa kita tidak bertemu di apartemenmu saja?" tanya Joonhyuk yang masih mengikuti langkah Minho. Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi yang ada di tengah ruangan.

"Ingin aku dibunuh atau masuk penjara?" sahut Minho seraya memasukkan pin pada pintu besi itu. "Aku masih ingin bernafas bebas dan menikmati pekerjaanku sebagai pengacara."

"Dibunuh apanya? Jika ada yang membunuhmu, orang itu adalah aku." Jungshin menyahut asal lalu kembali mengedarkan pandangannya untuk mengamati ruangan ini. Debu, gelap dan bau, benar-benar seperti rumah yang sudah tidak dihuni selama puluhan tahun.

Pintu besi itu terbuka dan memperlihatkan sebuah tangga menurun ke bawah. Kedua gurunya mengernyit heran lalu mengikuti Minho yang sudah mendahului langkahnya.

"Kalian akan mengetahuinya nanti."

Setelah menuruni tangga di lorong yang gelap itu, ketiganya kembali berhenti di depan sebuah pintu besi. Sedikit berbeda dengan pintu tadi, Minho harus menempelkan ibu jarinya di sebuah alat deteksi yang terpasang di bawah ganggang pintu sampai bunyi bip terdengar.

Pintu terbuka dan Minho kembali memimpin jalan. Sebuah basement terang menyambut mereka. Keadaan yang sangat berbeda dengan bagian rumah yang mereka masuki sebelumnya. Di bagian kanan terdapat beberapa komputer yang dibiarkan menyala lalu di seberangnya ada sebuah dinding tralis yang membatasi bagian ruangan tersebut dengan ruangan gelap di sebelahnya. Di tengah ruangan, tepat di bagian depan mereka terdapat sebuah meja besar dengan sebuah notebook yang dibiarkan menyala dan beberapa lembar kertas serta buku yang entah apa isinya.

"Oh, temanmu sudah datang?"

Satu suara dari balik dinding tralis yang gelap terdengar diiringi langkah kaki yang kian mendekat. Siluet hitam muncul dari sana sambil mengapit sesuatu di ketiaknya.

Fiapeless Class [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang