05| Hari yang buruk

202 42 1
                                        

Jam menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit. Chaeyeon baru saja selesai mengoperasi seorang anak kecil yang menderita kanker hati dengan transplantasi dan saat ini tengah berjalan menuju ruang kerjanya.

Seharusnya ia sudah beristirahat dari setengah jam yang lalu, namun saat baru saja keluar dari ruang operasi, ia ditelepon oleh Prof. Yoon untuk mengobrol di ruang kerja beliau.

Seperti biasa, hanya mengobrol tentang perkembangan keahliannya dalam mengoperasi bagian dalam tubuh pasien, memberikan petuah-petuah kecil serta meyakinkan wanita beranak dua tersebut untuk lebih percaya diri.

Karena terkadang ketika mendapatkan job yang lebih sulit, Chaeyeon mudah menyerah dan enggan mengambil tugas tersebut lalu memilih untuk memberikannya pada dokter senior.

"Hei dokter baru!"

Chaeyeon menoleh ke kiri dan kanan ketika suara seseorang memanggil seakan menginterupsinya. Menerka-nerka apakah orang itu memanggil dirinya atau justru dokter lain.

"Hei kau!"

"Dokter baru!"

"Yak kau dengar aku gak?!"

Ia akhirnya menoleh ke belakang untuk memastikan. Karena nyatanya seorang lelaki bersnelli putih tersebut agaknya sedari tadi memanggil dirinya.

"Saya?" Tunjuk Chaeyeon pada diri sendiri.

"Iya, kau!" Dokter itu mengangguk. "Kemari sebentar,"

Ia lantas menurut dan berjalan mendekat kearah si pemanggil. "Namaku Jung Chaeyeon, bukan dokter baru." Tukasnya ketika kini berada di depan dokter tanpa nama tersebut. "Dan lagi, bukannya kamu yang baru disini? Saya gak pernah melihat kamu sebelumnya."

"Jangan banyak omong." Dokter tersebut memberikan tiga kotak berisi alat kedokteran baru padanya. "Bawa ini ke bagian apotek."

"Tunggu," Chaeyeon menarik jas snelli lelaki itu. "Saya seniormu! Kau gak bisa main suruh gitu aja!"

"Aku berhak atas hidupmu, Jung Chaeyeon."

"Memangnya kau siapa?"

"Jangan banyak bicara. Cepat antar itu ke Apotek!"

"Saya baru selesai operasi!"

"Hubungannya denganku apa?"

"Lagi-lagi kau menggunakan bahasa informal."

"Jung Chaeyeon, dengar." Dokter tersebut maju satu langkah. "Aku adalah atasanmu, Cha Eunwoo. Jadi kau sekarang berada dalam kuasaku."

"Kuasa-apa tadi?" Chaeyeon menengadah, bermaksud menantang lelaki itu. "Yak! Kau dokter baru disini jangan bertingkah seakan-akan paling berkuasa! Mana adab mu sebagai seorang dokter junior padaku? Bisa-bisanya berkata demikian!"

"Padahal kau baru lima bulan disini." Dokter Cha mendecih. "Cepat antar barang-barang itu. Para apoteker membutuhkannya."

"Gak mau!" Chaeyeon justru menaruh ketiga kotak itu ke atas lantai. "Aku bukan budak." Balasnya yang kini berubah menjadi bahasa informal.

"Aku meminta bantuanmu, Dokter Jung."

"Kalau minta bantuan bukan begini caranya, barusan itu kau menyuruh!"

Dokter Cha menghela nafas. "Oke kalau kau gak mau bantu," Diambilnya tiga kotak tersebut oleh lelaki itu. "Kau akan menyesal nanti, Jung Chaeyeon."

Kemudian, dokter tersebut pergi dari hadapan Chaeyeon yang saat ini tengah menaikkan satu dahinya.

"Ada emangnya dokter kayak gitu?" Dumal ia yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruangan.

Benar-benar menyebalkan! Kalau saja tadi ia tak berbalik dan menghampiri dokter itu, mungkin dirinya sudah beristirahat di ruangannya sembari meminum cokelat hangat.

Mom's Struggle [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang