Pukul 06.00 wib
Aku lekas bangit dari ranjang dan perlahan melepaskan pelukan mas Satria. Mas! Terdengar manis bukan? Batinku tersenyum.
Aku mengemasi baju milik ku dan mas Satria yang berserakan begitu saja di lantai dan kemudian membawanya ke kamar mandi karena aku juga harus keramas dan membersihkan diri. Begitu sampai di dalam kamar mandi, aku menatap seluruh tubuhku yang you know lah penuh dengan tanda kepemilikan seorang pria. Aku tidak tau bagaimana mengungkapkan perasaan ku saat ini, yang jelas terdapat sedikit rasa lega setelah dengan suka rela memberikan dokter Satria hal yang seharusnya di dapatkannya dari seorang istri.
Begitu selesai mandi dan merias diri, aku menyiapkan pakaian dokter Satria beserta tas kerjanya. Dia memang menaruh sebagian baju nya dikamarku dan sebagian lagi di kamar Bu Amanda yang katanya untuk mewanti wanti di mana dia menginap. Mengenai tas kerja? Aku tidak tau dari mana asalnya yang pasti benda tersebut sudah tergeletak asal di meja riasku. Aku bertepuk tangan kecil begitu selesai mengatur letak bajunya, dengan perlahan aku berjalan menghampiri dokter Satria dan menyentuh dahinya yang tidak berkerut lagi. Aku sering mendapatinya tertidur di ruang kerjanya dengan dahi berkerut dan keringat dingin yang membasahi. Pria ini sulit tertidur nyenyak, namun kali ini aku melihatnya tertidur dengan damai sehingga membuatku tak tega untuk membangunkanya. Tapi, aku harus karena dia punya kewajiban lain di luar rumah.
"Mas, wake up" ucap ku seraya mengelus dahinya. Dia bergerak pelan karena terusik dengan sentuhanku namun pria itu tetap bergeming sehingga membuatku sedikit menghela nafas sabar.
"Mas, bangun!" Nada bicaraku sedikit keras membuatnya segera menggerakkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Begitu telah terbuka sempurnya, dia tersenyum manis sambil memandangku.
"Morning, sayang" sapanya lembut.
"Morning, dok. Ok, it's time to go to work!" Aku hendak bangkit namun di tahan oleh tangannya sehingga aku berhasil terduduk kembali. Dia menatap lekat ke dalam mataku sehingga membuatku gugup seketika. Ya tuhan, kenapa pria ini tampan sekali?
"Try to say 'mas' dek, mas seneng dengarnya. Bisa kan, hm?" Tanyanya lirih. Aku terdiam bukan karena tidak tau menjawab apa melainkan jantungku seakan meloncat keluar. Sudah kah aku bilang jika pria berlesung pipi ini punya senyum yang luar biasa manis. Aku berani bertaruh jika aku belum pernah melihat senyum seperti ini sebelumnya.
Dengan senyum manis aku mengangguk mengiyakannya. Toh, bukan permintaan yang sulit juga kan?
***
Pagi ini seperti biasa dilalui dengan suasana yang menegangkan karena sedari tadi bu Amanda terus memandangku dengan tajam.
"Kau kuliah hari ini?" Tanya wanita itu setelah berhasil menguasai emosinya.
"Iya mbak" bu Amanda dan dokter Satria tiba tiba memandang penuh kepadaku setelah mengucapkan kata kata yang bahkan aku sendiri tidak menyadarinya.
"Eh maksud ku, iya bu" aku segera meralat kembali ucapanku namun dokter Satria masih memandangku dengan tatapan takjub.
"Tidak masalah. Sepertinya saya lebih suka dipanggil mba, karena saya merasa menjadi ibu kamu dengan panggilan sebelumnya"
Aku tersenyum menanggapi pernyataan positif darinya. Menjadi wanita lebih baik bukan masalah besar atau jalan yang salah bukan?
"Aku siap, aku berangkat dulu ya mas mba. Ada kelas pagi hari ini" Aku bangkit setelah sebelumnya membersihkan bibirku dengan serbet yang tersedia disana. Bu Amanda hanya memandang sekilas, namun dokter Satria juga ikut berdiri dan meletakkan sendoknya.
"Ayo mas antar! Kebetulan Alesya hari ini libur, jadi mas punya waktu mengantar mu ke kampus terlebih dahulu" mendengar tawarannya aku refleks menatap ke arah bu Amanda yang langsung menundukkan kepalanya, namun aku melihat cengkraman kuat pada sendok di tangannya. Jelas saja dia tidak suka mendengar perkataan suaminya dan aku menyadari itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SELTRIA
Romantik[NEW COVER] Wajib Follow sebelum baca✨️ ××× Dia Selena, gadis belia yang harus merasakan ketidak-adilan dalam hidupnya. Semuanya kacau berantakan karena sedari awal dia sudah salah dalam memilih, namun ketahuilah bukan hanya itu saja keadaan terburu...
