Apa aku salah?

4.3K 398 61
                                        

Part ini kalian akan melihat bagaimana Satria dari sudut pandangnya, ya:)

Pov Satria

-

Aku melepas kacamataku setelah pasien terakhir keluar dari ruanganku. Aku ingat dia! Dulu waktu kami SMA dia adalah gadis yang selalu di idolakan di angkatannya. Namun, dengan melihat keadaannya sekarang miris rasanya. Dia membawa kedua anaknya untuk menemaninya berobat karena tidak ada yang menjaga mereka. Wanita itu memang menikah muda karena kesalahannya dulu.

Aku terdiam mengingat percakapan kami sebelumnya.

"Gak salah memang semua guru kita menyukaimu, Satria. Kau sukses sekarang" Ucapnya lirih begitu aku selesai memeriksakan penyakitnya.

Kanker.

"Apa yang terjadi denganmu, Sarah? Kemana suamimu?" Tanyaku prihatin pada wanita yang merupakan teman lamaku ini.

"Kami bercerai setelah anak kedua ku lahir, Satria. Dia punya istri lain"

Aku terdiam mendengarnya, bahkan kertas yang kugunakan untuk mencatat tanpa sadar teremas kuat.

"Kamu tau, aku paling benci suamiku. Tapi aku lebih membenci istri barunya" ucapnya sambil menyeka air matanya yang berjatuhan.

"Kenapa pria gak pernah cukup dengan satu wanita?" Tanyanya lirih yang sarat akan kemarahan.

Jantungku berdetak kian cepat mendengarnya. Sakit rasanya melihat kesengsaraan teman sendiri disebabkan oleh suaminya sendiri, namun aku sadar kelakuan suaminya tak jauh berbeda denganku.

"Aku yakin suamimu pasti punya alasan" tanyaku hati hati, lebih kearah untuk menenangkan diriku sendiri.

"Kau benar. Dia ada alasan, yang tak lain hanyalah nafsu"

Deg

"Hm, baiklah Sarah ini jenis obat yang harus kamu tebus di apotek, dan jangan lupa minggu depan kemoterapi pertamamu. Semangat Sarah!" Tak ingin berlama lama menyelami suasana ini, aku segera memberikan sebuah kertas berisi catatan obat kepadanya.

"Terima kasih, dokter Satria" dia terkekeh dan beranjak keluar sambil menggandeng kedua putrinya.

Segera setelah jadwal praktek ku habis, aku segera mengemasi tas kerja dan mengambil jas putih ku yang sebulumnya tersampir di kursi untuk kubawa pulang.

Aku berjalan keluar dengan perasaan campur aduk di hatiku. Apa benar aku seburuk itu? Tapi aku menikah bukan hanya karena nafsu. Aku hanya menganggung kaku saat menyapa beberapa perawat yang menyapaku.

"Eh pak dokter. Lama tidak berjumpa dok" aku terkesiap dan menatap ke arah pria di depanku yang tersenyum dengan smirk andalannya yang begitu memuakkan. Aku menggeram marah dan berusaha melewati pria paruh baya tersebut.

"Salam untuk Amanda ya, dokter Satria" ucapnya yang membuatku langsung mengepalkan kedua tangan dengan kuat.

"Kemarin saya tidak sem--"

"Jaga ucapan anda, pak! Amanda masih istri saya jika bapak melupakan itu" sahutku tegas.

"Saya pikir anda akan melupakan istri pertama anda setelah ada yang kedua" ejeknya dengan nada sinis.

"Tidak usah ikut campur urusan saya jika anda tidak ingin kebusukan anda saya publikasikan" ancamku murka. Aku lekas lanjut berjalan menuju mobil yang telah terparkir sempurna. Menghela nafas kasar, aku menghidupkan mobil dan menjalankanya kerumah.

Drttt

Bunyi notifikasi pesan muncul membuatku menjamah benda tersebut di kantong celana dan melihat nya.. Ternyata dari Amanda.

SELTRIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang