.
.
.
.
.
Luthfi sedang sibuk didapur rumahnya, pagi ini dia sedang membuat sarapan untuknya juga Andra. Mereka ada kuliah pagi ini, jadi mereka akan berangkat bersama.
"Andra, cepet sarapan!!!" Luthfi berteriak memanggil Andra, dia bisa mendengar suara langkah mendekati ruang makan.
"Lo kenapa?" Luthfi mendekati Andra yang baru saja duduk dimeja makan. Pemuda itu terlihat pucat.
"Gue gak papa, Fi." Luthfi menatap Andra tidak percaya.
"Gak usah kuliah dulu ya, pucet gitu." Andra menggeleng.
"Cuma ngumpul tugas doang kok hari ini, habis itu gue balik." Luthfi menyerahkan sepiring nasi goreng pada Andra. Pemuda itu segera menyuap nasi gorengnya.
"Enak." Luthfi tersenyum.
"Habis kuliah langsung pulang ya, gak usah main dulu, istirahat." Andra mengangguk, dia menatap Luthfi yang mulai memakan nasi gorengnya.
Luthfi selalu memperlakukan dia seperti seorang adik sejak dulu, walaupun kenyataannya dia adalah kakak sepupu Luthfi, harusnya dia yang menjaga Luthfi, tapi ini justru sebaliknya.
.
.
.
.
.
Andra berjalan kearah kelasnya, hari ini dia memang hanya akan menyerahkan tugas pada dosennya, tidak ada mata kuliah hari ini, jadi dia bisa pulang dan beristirahat dirumahnya.
Bicara soal rumah, apa rumahnya baik-baik saja? apakah ada lagi barang yang pecah selama dia tidak pulang, dia sedikit takut sebenarnya.
"Andra!!!" Andra menoleh, dia melihat Vano berjalan cepat kearahnya.
Plak
"Bangsat, sakit!" Vano tanpa aba-aba menggeplak kepala Andra, membuat Andra mengumpati pemuda tinggi itu.
"Kemana aja lo, bolos gak ajak-ajak." Andra meninggalkan Vano yang sedang merajuk.
"Andraaa, masa cogan lo tinggal gini." Vano berjalan mengejar Andra yang sudah berada lumyan jauh, tapi jangan lupa kaki Vano cukup panjang untuk dapat menyusul langkah kecil Andra.
"Gue lagi pusing nih, jangan ngoceh dulu Van." Vano kicep, Andra kalau lagi badmood suka jadi macan soalnya.
"Iya iya." Vano hanya bisa mengikuti Andra dari belakang, tujuan mereka sama saat ini, kelas mereka untuk menyerahkan tugas.
.
.
.
.
.
Edzard menemani Dane ditaman pagi ini, seperti biasa setelah sarapan Dane akan pergi ketaman. Ada beberapa perawat dan dokter yang lewat dan menyapa Edzard. Mereka tidak heran lagi saat melihat Edzard ada disekitar Dane.
"Dokter Edzard, pak kepala memanggil anda." Edzard menoleh saat ada seorang perawat menghampirinya.
"Sekarang?" Perawat itu mengangguk, Edzard mengalihkan tatapannya pada Dane yang berada dibelakangnya. Perawat itu memperhatikan Edzard dan Dane, dia tau Dane tapi tidak mengenal pasien spesial itu.
"Dane, aku mau keruangan pak tua dulu, kamu mau tunggu disini atau mau ikut?" Perawat itu terkejut mendengar Edzard menawarkan Dane untuk ikut ke ruangan pak kepala. Dane yang mendengar tawaran Edzard segera bangun dan memegang sneli Edzard.
"Ikut." Perawat yang sedari tadi memperhatikan mereka terkejut, setaunya Dane tidak pernah berbicara sedikitpun, pada orang lain. Tapi baru saja dia mendengar pemuda itu menjawab Edzard.
"Ya udah, ayo ikut."
"Kamu bisa kembali bekerja." Edzard meninggalkan perawat itu bersama Dane.
.
.
.
.
.
Andra membuka pintu rumahnya, kondisi rumah masih sama seperti saat Andra meninggalkannya tiga hari lalu, artinya kedua orang tuanya tidak pulang kerumah. Dibelakangnya ada Vano yang mengekor, itu membuat Andra berdecak kesal.
"Aduh Vano, kenapa lo ngikutin gue mulu sih." Vano cemberut, dia kan mau main.
"Gue kan mau main Ndra, bosen dirumah." Andra jadi tidak tega sendiri saat melihat tatapan memelas Vano.
"Ya udah iya, lagian tumben banget sih, biasanya lo sibuk tebar pesona." Andra mengambil dua botol soda dari kulkas dan memberikan salah satunya pada Vano.
"Gue mau tobat, neng bidadari gak suka sama buaya." Andra mengerjap, dia tidak salah dengarkan, seorang buaya macam Vano mau tobat? apa dunia sudah akan kiamat?
"APA??" Vano menutup telinganya, suara teriakan Andra memang sangat waw.
"Gak usah teriak lah."
"Ya habisnya gue kaget, gue jadi kepo nih siapa yang bisa buat buaya buntung kayak lo tobat, kenalin ke gue lah." Vano berdecak, gimana mau ngenalin, kalau dia sendiri aja gak tau nama gebetannya, cuma tau wajahnya doang sama fakultasnya.
"Nanti lah, kalau gue udah berhasil dapetin dia." Andra mengangguk, sambil sesekali menyesap soda nya.
"Ndra, lo belum jawab pertanyaan gue tadi." Andra mengernyit.
"Pertanyaan yang mana?"
"Lo kemana aja tiga hari gak kuliah?" Ah yang itu, haruskah Andra jawab sejujurnya, tapi sepertinya tidak mungkin.
"Jalan-jalan sama San." Vano berdecak, dasar bucin, kemana -mana berdua, kan Vano iri. Dia juga ingin seperti itu dengan neng bidadari.
"Udah jadian lo?" Andra menggeleng, memang benar kan dia belum jadian sama San.
"Yah, gue kira udah jadian, gagal dapet peje deh." Andra melempar kepala Vano dengan bantal sofa yang saat ini mereka duduki.
"Dasar gila."
.
.
.
.
.
Edzard membuka pintu ruangan Praja dengan sopan, hal itu menimbulkan tatapan heran dari Praja.
"Tumben sopan?" Edzard menggeser tubuhnya, hingga tubuh Dane yang berada dibelakangnya terlihat. Pemuda itu berdiri dengan tangan kanan memegang sneli Edzard, dan tangan kiri memegang sebuah boneka minion. Praja jadi ingat cerita istrinya tentang Edzard yang membeli boneka, dan menjawab itu untuk calon menantu mereka. Jadi orang itu Dane.
"Oh sama Dane, pantes sopan." Edzard sebenarnya sudah ingin mengumpati ayahnya itu, tapi dia ingat kalau Dane tidak boleh mendengar umpatan.
"Jadi dia ya?" Edzard mengikuti pandangan Praja, yang tetuju pada boneka minion Dane. Edzard mengangguk mengiyakan.
"Apa yang ingin anda katakan pak?" Praja tersenyum, Edzard masih saja selalu to the point.
"Tidak ada hanya iseng." Edzard melotot tidak percaya, apa ayahnya sedang kegabutan.
"Kamu mau bawa dia keluar kapan?" Edzard tau kemana arah pembicaraan ayahnya.
"Anda serius, jadi saya sudah dapat tanggung jawab penuh?" Praja mengangguk.
"Bagaimana jika bulan depan, sehari sebelum kontrak perawat ira berakhir." Praja mengangguk. Dia mendekati Dane yang terdiam sejak tadi.
"Dane mau keluar dari sini?" Dane menatap Praja, sebelum kembali menatap Edzard seolah bertanya apakah dia bisa menjawab atau tidak. Dane melihat Edzard mengangguk.
"Mau." Praja tertegun, pemuda yang menjadi pasien selama tiga tahun ini akhirnya berbicara. Dia menatap Edzard dan tersenyum bangga, dia tau Edzard pasti bisa melakukannya.
"Bagus, jika kamu berbicara lebih sering, kamu akan cepet keluar dari sini." Dane mengangguk.
"Kamu bisa cerita sama Edzard ya, dia baik kok." Dane kembali mengangguk.
"Apa sudah selesai? Jika sudah saya akan membawa Dane kekamarnya."
"Ya sudah bawa Dane istirahat dulu."
.
.
.
.
.
Vano menatap Andra yang terlelap di sofa, dia tidak tega melihat tubuh mungil sahabatnya itu tertidur disofa. Dengan perlahan Vano mengangkat Andra dan memindahkannya kedalam kamar.
"Kayaknya lo sibuk banget cari sesuatu."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still Here
FanfictionEdzard, seorang psikiater muda barusia 26 tahun. Ditarik sebuah rumah sakit jiwa untuk menangani pasien spesial mereka. Danendra, seorang pemuda berusia 23 tahun. Mengalami berbagai hal yang melukai fisik dan mentalnya, dan harus berakhir dirumah sa...
