1.1 | Jaga Jarak

15.2K 1.2K 350
                                        

Vote!

Coment!

Bantu koreksi kalo ada typo!

***

"Masih sakit?"

"Mau makan lagi?"

"Atau mau minum?"

"Kamu gapapa'kan?"

Luby menggeleng untuk kesekian kalinya, ia bahkan merasa sudah lelah dengan cerocosan Tanzil yang belum selesai juga. Sebanyak itu ia menggeleng, dan sebanyak itu pula Tanzil menanyakan sesuatu hal padanya.

Meskipun begitu, tetap saja dalam hati Luby tersenyum sumringah. Tanzil tidak berbeda sejak dulu, masih sama pedulinya pada diri dia.

"Luby.."

"Apalagi Jio?" jawab Luby mulai lelah.

Tanzil membetulkan posisi rambut Luby yang menutupi matanya. "Mau apa?"

"Mau pulang, aku udah nggak papa."

Ini ketiga kalinya ia meminta pulang, tapi tak juga diperbolehkan. "Besok ya."

Kepala Luby menggeleng tak setuju. "Sekarang."

"Masih sa---"

"Udah enggak, pokoknya mau pulang."

Tanzil mendesah pasrah, "Oke."

Saat sampai di depan rumah bernuansa klasik itu, Tanzil memapah tubuh Luby dan perlahan masuk ke dalam sana. Masih sangat sepi, Bondan masih berada di rumah sakit.

"Rora baik-baik aja'kan Jio?" Luby tiba-tiba saja bertanya, bahkan saat mereka baru saja duduk di sofa ruang tamu. "A---aku nggak tau." gugup Tanzil bingung.

Luby menatap kaget. "Nggak tau? Kenapa? Kamu udah ketemu sama dia 'kan?"

"Iya."

"Terus kenapa nggak tau?"

"Udah mending sekarang kamu tidur ya, istirahat biar nggak sakit."

"Kamu mau kemana?"

"Nggak kemana-mana."

"Jangan bohong, Jio..."

Tanzil menggaruk tengkuknya. "Boy." jawabnya. "Hati-hati ya, makasih udah jagain aku hari ini." ucap Luby dengan senyum.  "Kalo ada apa-apa langsung telfon aku." titah Tanzil sebelum akhirnya pergi.

***

Tempat yang Tanzil tuju akhirnya dapat ia pijak, dan orang yang ia ingin temui 'pun sudah berada di depannya. Tidak hanya Boy, namun Gahar dan juga Varez pun ada.

"Yuk, kapan mulai?"

Mereka menatap Gahar aneh. "Ayo cepetan kocok, arisannya siapa yang keluar?" titah Gahar garing.

Pletak!

"Otak mana otak!" damprat Boy kesal.

"Lo agaknya perlu gue bawa cuci otak deh Har." ujar Varez menimpali.

"Bisa serius dulu?" tegas Tanzil setelah cukup lama diam.

Ketiganya serentak mengangguk, Boy dan Varez menatap Gahar mengintimidasi. Tolong ya ini mereka lagi mau bahas hal serius, jangan bercanda dulu harusnya bisa kan?

"Boy, lo udah berhasil jalanin tugas dari gue?" tanya Tanzil.

"Udah dong." bangga Boy seraya memegang  sebuah maps berwarna merah. "Hebat lo, keren juga." timpal Varez.

Mendengar itu membuat Boy semakin bangga pada dirinya sendiri, apasih yang dia nggak bisa? Ya naklukin Inggit lah.

"Lo, Har?"

TANZIRA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang