5.9 | Keadaan Aurora

11.5K 796 1.4K
                                        

HAPPY READING - !!!

⛔ WAJIB VOTE DAN COMENT ⛔

maaf kalau banyak typo, buru-buru soalnya hehe

*****

"Lo bawa Rora ke mobil duluan aja, Bang. Mereka biar gue yang urus."

Seraya terus menepis pukulan lawannya, Aster menolehkan kepala dan memberi saran pada Tanzil. Tanzil melirik Rora sebentar, keadaan perempuan itu sungguh membuatnya khawatir.

Dia mengangguk, kemudian menghampiri gadis itu dan hendak membopongnya. Namun tangan Rora mencekalnya, air mata gadis itu lolos tanpa Tanzil tau alasannya. "Jangan, jangan sentuh Rora.." lirih perempuan itu.

Tanzil menatap mata itu dalam, "Gue harus bawa lo ke mobil, kita ke rumah sakit."

Kepala Rora menggeleng, "Daddd! Daddy dimana? Ror---Rora ta..kutt.." suara Rora lebih keras, meski bibir perempuan itu gemetar dengan air mata yang turun dengan sendirinya.

"Gue panggilin Daddy lo sebentar." ucap Tanzil, tanpa menyentuh gadis itu secuil pun karna takut gadis itu semakin merasa terancam karenanya.

Entah apa yang telah dilakukan oleh keparat-keparat itu, yang jelas Tanzil tidak akan memaafkan mereka.

Bugh

Bugh

Musuh terakhir mereka tumbang, Altas menyeka peluh di dahinya. Melihat tubuh yang sudah tergeletak di lantai bak ikan yang dijemur.

"Uncle!"

Altas menoleh, "Bagaimana dengan Rora? Kamu sudah mengamankan dia?"

"Dia cuma mau sama Uncle, saya mau bawa dia ke mobil tapi dia takut."

Helaan nafas panjang keluar dari mulut Altas, pria itu menepuk bahu Tanzil kemudian berlari menghampiri sang puteri.

Tanpa banyak bicara, dia membopong tubuh puterinya dengan tegas. Sorot matanya menatap begitu tajam, terdengar gertakan giginya tanda sang empunya menahan amarah.

Rora menyembunyikan wajahnya pada dada sang Ayah, merasa takut juga malu untuk menatap ke arah orang lain. Mereka menatap ke arah Rora simpati, gadis itu terlihat benar-benar ketakutan meski hanya untuk sekedar menatap orang.

Mobil Altas melaju lebih dulu, meninggalkan Aster, Tanzil, dan yang lain. Tanzil dan Aster saling tatap, mereka berlari kecil ke arah sahabat sang ayah.

"Kalian berdua ikut Uncle, kita ke rumah sakit bareng." ucap Vino yang dibalas anggukkan kepala oleh Aster dan Tanzil.

Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, helaan nafas panjang terdengar darinya. "Mati?" tanyanya.

"Pastilah!" balas Patrick percaya diri.

Tama memijit pelipisnya, "Dimana Raja?"

"Ngapain nyari dia, Uncle?" tanya Aster penasaran juga tedengar tak suka. "Kamu pikir dia bakalan diam aja setelah ayahnya terbunuh?"

Tanzil diam sejenak mendengarkan ucapan sang ayah, benar juga. Raja tidak akan tinggal diam, tapi apapun itu dirinyalah yang seharusnya menjadi incarannya.

TANZIRA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang