Happy reading semuanya♡♡- !!!
***
Bondan menggenggam tangan sang puteri yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya tidak tenang sirat akan kekhawatiran. Beberapa jam lalu, saat ia tengah berada di kantornya, tiba-tiba saja seseorang menelfon dan memberitahukan jika Luby masuk rumah sakit.
Dan yang membuat ia merasa kecewa ialah tidak adanya di sisi anaknya, hanya ada dua orang yang ia ketahui sebagai teman dekat lelaki itu.
Tak beralih sedikitpun, tangannya selalu menggenggam tangan sang puteri. "Maaf om, kami mau ijin pulang."
Boy yang sedaritadi berdiri di samping Bondan bersuara, "Iya, silahkan." jawab pria paruh baya itu.
Ketiga laki-laki muda itu melangkah mulai pergi, Bondan mendesah kecewa mengingat bagaimana kejadian ini bisa terjadi.
"Sayang... Ayo bangun, kamu ngga mau liat papah sakitin orang yang paling kamu sayang itu'kan?"
Bondan terus bermonolog, hatinya benar-benar cemas melihat sang puteri masih terbaring lemah tak sadarkan diri.
Selang beberapa saat, jari Luby yang tengah ia genggam bergerak pelan. Bondan tersenyum, ia bangkit dan mengelus surai puterinya lembut. "Sayang...."
"Jio.. Jio mana?.."
Dahi Bondan berkerut saat anaknya justru menanyakan keberadaan laki-laki yang sekarang entah dimana, dan lebih parahnya adalah lelaki itu penyebab dirinya disini.
"Papah.. Jio marah sama Luby.."
"Jio mau ninggalin Luby.."
"Papah Luby ngga mau ditinggal Jio.. Hiksss papah, Jio mana?..."
Luby menangis histeris, perempuan itu bangun dari tidurnya dan memaksa pergi. Ia memberontak saat Bondan menahannya untuk tidak beranjak dari tempatnya.
"Tenang sayang... Jio ngga kemana-kemana."
"Dia ngga akan ninggalin kamu."
"Tenang oke?" Bondan menangkup pipi Luby, berusaha menenangkan sang puteri.
Seolah tuli, Luby tak mendengarkan Bondan sama sekali. Membuat pria itu kewalahan dan memanggil dokter. "Papah.... Luby mau Jio..."
Tangan Bondan mengepal, berusaha untuk tidak meledakkan emosinya. Memeluk sang puteri seraya dokter menyuntikkan bius pada cewe itu.
"Pasien sudah saya beri obat penenang, dan dia akan tidur beberapa jam ke depan."
Bondan hanya mengangguk, pikirannya sekarang benar-benar sedang kacau. Selepas kepergian dokter, dua orang anak buah pria itu masuk dan menghadapnya.
"Cari Tanzil sekarang!"
"Saya tidak mau tau, dia harus ada disini sebelum anak saya sadar."
Salah satu anak buahnya menjawab. "Maaf tuan, tap---"
"SAYA TIDAK MENERIMA BANTAHAN!!"
Bondan membentak sangat keras, meninju tembok hingga darah keluar dari sela jarinya sendiri.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
TANZIRA [SELESAI]
Novela Juvenil[Follow dulu oke.] #9 in wattpad indonesia Spin of Asterlio Bagi Aurora, Tanzil adalah segalanya. Tidak ada alasan apapun yang bisa menghentikan semangatnya untuk mengejar cinta cowok itu. Bagi Tanzil, Aurora pun segalanya. Namun ada banyak yang m...
![TANZIRA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/256026238-64-k902848.jpg)