Happy reading! ♡♥
***
"Nanti kita pulang bareng juga?"
Rora bertanya menatap mata Tanzil yang tengah melepaskan helm di kepalanya. Kepala Tanzil mengangguk kemudian menaruh helm itu ke atas motor.
"Nanti gue ke kelas lo."
Bibir Rora tertarik ke atas sedikit, kenapa rasanya masih aneh? Padahal Tanzil hanya berkata se-sederhana itu, kenapa terasa seperti banyak kupu-kupu? "Rora bisa kok nungguin Tanzil di sini."
Tanzil tak menjawabnya, laki-laki itu langsung menggenggam tangan Rora kemudian melangkah masuk ke dalam area sekolah. Sungguh, rasanya Rora ingin berteriak saja, Tanzil menggenggam tangannya tanpa ia minta, "Tanzil, gini terus ya."
Seraya terus berjalan, Tanzil menoleh menatap Rora. "Maksud lo?" Rora mengangkat tangannya yang masih terus tergenggam dengan tangan Tanzil, "Gini, Tanzil genggam tangan Rora."
"Hm."
"Terimakasih Tanzil."
"Iya."
Rasanya Rora semakin bersemangat, —ah sungguh ia sudah mendambakan ini sejak lama. Ia menginginkan perhatian Tanzil tanpa harus ia meminta dan sekarang ia dapatkan.
"Eh----"
Tubuh Rora tersentak, saat tiba-tiba Tanzil melepas genggamannya dan beralih ke sisi lain tubuhnya. Rora melirik ke arah tangan Tanzil yang menepis bola yang hampir saja mengenai wajahnya dengan keras.
"Pacar Rora kok peka banget," celetuknya lirih.
Tanzil melempar bola itu kembali ke arah sang pemilik. Tanpa berkata apapun, namun seseorang itu sudah lebih dulu mengatupkan kedua tangannya di depan dada seolah meminta maaf. "Jalan." titah Tanzil singkat yang langsung dipatuhi Rora.
Entah hanya perasaannya saja atau memang begitu kenyataannya, Rora merasa tatapan orang-orang padanya sedikit berbeda? Apa karna dia tengah bersama Tanzil sekarang?
"Tanzil, psttt." bisik Rora berusaha memanggil.
Tanzil menaikkan sebelah alisnya bingung, ia membungkukkan sedikit kepalanya supaya dekat dengan mulut Rora. "Ada yang salah dari Rora?" tanya gadis itu.
Kepala Tanzil menggeleng. "Kenapa semua orang liatin Rora?" bisik Rora lagi.
"Mana gue tau."
Rora cemeberut kesal, masih saja cuek. merasa bertambah kesal, ia melepas genggaman Tanzil pada jemarinya. "Males." ketusnya.
Tanzil terkekeh meski tak jelas. Tangannya tanpa permisi beralih merangkul bahu kekasih cerewetnya itu. "Maka nya cantiknya jangan kelewatan." bisiknya.
Rora?! Bagaimana respon Rora?! Tidak perlu ditanyakan! Gadis itu mati-matian menahan diri untuk tidak teriak detik itu juga.
Setelah sempat mengantarkan Rora ke kelasnya, Tanzil kini tengah berjalan sendirian ke kelasnya sendiri. Alih-alih ingin langsung masuk, namun di depan kelas ternyata sudah ada yang menunggu.
"Mulai sekolah?"
"Iya, lupa ya kamu sama aku?"
Tanzil menggeleng seadanya. "Ke kelas, bentar lagi bel bunyi." titahnya. Tapi perempuan di depannya itu menggeleng dan justru menariknya pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANZIRA [SELESAI]
Teen Fiction[Follow dulu oke.] #9 in wattpad indonesia Spin of Asterlio Bagi Aurora, Tanzil adalah segalanya. Tidak ada alasan apapun yang bisa menghentikan semangatnya untuk mengejar cinta cowok itu. Bagi Tanzil, Aurora pun segalanya. Namun ada banyak yang m...
![TANZIRA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/256026238-64-k902848.jpg)