4.8 | Need

9.3K 879 337
                                        

SELAMAT MEMBACA

*****

Di rumahnya Rora tengah sibuk berganti pakaian, dia memutuskan untuk ke rumah Tanzil sekarang juga. Ketika Tanzil bilang jika dia membutuhkannya, entah kenapa membuat Rora merasa ada yang tidak beres.

Cepat-cepat dia bersiap, ia segera keluar dari kamarnya dan menuju keluar rumah. Sebelumnya dia sudah meminta ijin kepada orangtuanya dan untung saja ia dapatkan.

"Nggak usah bilang Tanzil ah, mau bikin kejutan." beonya.

"Ke rumah Den Tanzil, Non?"

"Iya, Pak. Cepetan ya,"

Mobil itu melaju membelah jalan menuju rumhah Tanzil, tanpa membutuhkan waktu yang terlalu lama akhirnya mobil itu sampai di kediaman Bagaskara.

Dia memasuki rumah itu, "Eh---" tanpa ia duga ternyata di ruang utama rumah itu banyak orang tengah duduk dan sepertinya membahas hal yang serius.

Sahabat-sahabat sang ayah tengah berkumpul, tanpa Altas mestinya. Karna pria itu masih di luar negeri untuk urusan bisnisnya.

Rora kikuk, dia tersenyum kemudian menyalami sahabat-sahabat ayahnya itu.

"Anaknya T-rex mau apel ya?" gurau Patrick menggoda.

"Iya Uncle, tau aja." respon Rora jujur.

Patrick melongo, jujur sekali bocah satu ini. Pria itu lalu tertawa membuat Rora pun ikut tertawa.

"Calon menantu, sini sayang!"

Rora menoleh ketika mendengar suara yang tak lain berasal dari Lovi. Wanita itu rupanya muncul dari arah tangga, melambaikan tangannya seolah memanggil Rora. "Rora ke Onty ya, Uncle." pamit Rora.

Setelah sesi basa-basi itu Rora segera naik ke lantai atas untuk menghampiri Tanzil di kamar laki-laki itu.

Lovi mengikuti langkah gadis itu, dia harus memastikan semuanya aman bukan? Rora memberi celah untuk Lovi lebih dulu menilik tengah apa anak laki-laki semata wayangnya.

"Tanzil... Bangun, ada Rora." ujar wanita itu.

Tanzil yang setengah sadar hanya berdehem sebagai jawaban, namun enggan bangun. Laki-laki itu berbaring dengan lengan yang menutupi matanya.

Lovi hanya menggeleng pasrah, mengelus rambut sang anak kemudian keluar dari kamar itu. Rora masuk perlahan, dia berdiri disamping ranjang Tanzil kemudian menunduk menyamakan tingginya dengan laki-laki itu.

"Tanzil... Bangun..." bisiknya.

"Cepetan bangun... Rora disini..." bisiknya lagi.

Rupanya tindakan Rora itu tidak membuat Tanzil  membuka matanya, dia hanya tersenyum kecil seraya tangannya hinggap di pinggang Rora membuat tubuh gadis itu terjatuh di atasnya.

"Berani lo masuk kamar gue?"

Rora yang masih terkejut dengan tindakan laki-laki itu, hanya mematung dalam posisi tangan yang menahan di dada Tanzil.

"Berani tutup telfon gue seenaknya?"

Suara laki-laki itu bahkan sampai terdengar samar, "Hah?..." bingungnya.

"Tanzil ini lepas---" kalimat Rora tertahan karna tangan Tanzil menahan tubuhnya untuk berdiri.

Suhu di tubuh Rora mendadak dingin, dadanya bergemuruh berdetak lebih cepat dari biasanya. Tanzil ingin apa?! Kenapa laki-laki itu sangat menakutkan?!

"Lepasin..." cicit Rora mulai takut.

"Pulang sana!" Tanzil melepas tangannya dari pinggang Rora, dengan nada tak suka ia berkata seolah mengusir.

TANZIRA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang