1.3 | Makan Bareng

12.9K 1.2K 587
                                        

Kalau ada yang nggak coment, parah sih.

Kalian nggak mau bantu aku buat ramein part? Oh ayolah, kita kerjasama.

Pertama, Vote! Udah? Pinter.

Kedua, Coment! Udah juga? Pinter.

***

"Mamah kamu ijinin aku ke rumah?"

Tanzil mengangguk dengan tangan yang masih sibuk memasangkan helm di kepala Luby. "Enaknya aku bawa apa buat oleh-oleh?"

"Nggak perlu, udah ayo."

Luby mengikuti Tanzil dan naik ke atas motor lelaki itu. Hari ini ia sudah janji akan mengunjungi kediaman keluarga Bagaskara. Berhubung ini adalah hari libur, jadi Tanzil dan Luby sengaja memilih waktu di pagi hari. Selain masih segar, pasti Tama juga belum berangkat ke kantornya.

"Ini beneran aku nggak perlu bawa apa-apa?" tanya Luby mengeraskan volume suaranya supaya tak kalah dari deru motor. "Nggak, lagian cuma main doang."

"Aku boleh nanya?"

"Boleh."

"Rora pernah ke rumah kamu nggak?"

Motor Tanzil perlahan berhenti karna lampu merah, tangan yang semula berada pada setir motor berpindah menyentuh tangan luby yang melingkar di pinggangnya. "Pernah."

"Sering nggak?"

"Lumayan. Kan orangtua aku sama dia sahabat dari dulu By,"

Bibir Luby tersenyum miris. "Oh iya ya," responnya.

Tangan yang awalnya melingkar di perut Tanzil, ia tarik dan kini hanya berpegangan kecil pada sisi kanan dan kiri baju lelaki itu. "Pulang dari rumah aku mau kemana lagi?" alih Tanzil merasa kan perubahan sikap Luby.

Ia menarik kembali tangan luby untuk melingkar lagi di perutnya. "Nanti jatuh, bahaya."

"Iya maaf." sesal Luby. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Tanzil. "Sebentar lagi kita sampai."

***

Sampainya di rumah Tanzil, entah kenapa Luby merasa sedikit gugup. Akankah orangtua lelaki itu menyukainya? --Ah sial dia gugup. "Ayo masuk." ajak Tanzil menarik lembut tangannya. Mereka memasuki rumah itu perlahan, tangan Luby semakin kuat menggenggam tangan Tanzil.

"Mah, Tanzil pulang."

Lovi dengan senyum mengembang menyambut kedatangan dua sejoli itu, Luby yang awalnya gugup setengah mati lega sedikit saat melihat senyum wanita itu.

"Ayo masuk."

Mereka masuk menuju langsung ke ruang makan, disana sudah ada Tama yang tak senyum sama sekali.

"Kamu duduk disini ya, biar sebelahan sama Tanzil kan?" tanya Lovi menarik kursi mempersilahkan Luby untuk duduk.

"Makasih tante."

"Sama-sama."

Mendapati respon Lovi yang sangat welcome padanya, membuat Luby benar-benar senang. "Mamah kamu baik banget." bisiknya pada Tanzil.

"Iya."

"Luby, selamat datang ya di kediaman Bagaskara." ujar Tama tanpa ekspresi.

"Makasih banyak om,"

"Ayo kita makan." ajak Lovi seraya memberi kode pada asisten rumah tangganya untuk menyiapkan hidangan. "Iya tante,"

Meskipun Luby yang terlihat begitu senang, namun Tanzil justru berbeda. Ia malah menatap Lovi dan Tama dengan tatapan bingungnya.

TANZIRA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang