Saka dan Aska duduk di depan pintu ruang BK, mereka saat ini sedang menunggu Arga, Radit dan Araya yang sedang di sidang.
Bela juga ikut bersama mereka menunggu Araya, awalnya Bela tadi ingin memberikan dompet couple yang ia beli namun saat tiba, Bela melihat Araya sedang mengangkat tinjunya ke udara.
Mungkin sebentar lagi akan tersebar berita bahwa Araya memukuli salah satu teman sekelasnya.
Saka masih merenung, bukan memikirkan bagaimana Araya mendapatkan kekuatan seperti itu untuk memukul Radit, namun Saka terpikir perilaku Floren yang mendorong Diah menjauh tadi. Terbesit juga tatapan jijik Floren untuk Diah, oleh sebab itu Saka jadi kepikiran.
Floren ini....apa memiliki sifat seperti itu?
Saka termasuk salah satu dari segelintir orang yang tidak terlalu membela atau berada di kubu Floren; jika kita melihat dari sisi berbeda, sudah pasti Araya adalah pihak yang di rugikan.
Pertama, semenjak Floren pindah ke sekolah mereka, dia kurang lebih selalu mencari kesempatan untuk mendekati Devano maupun Arga.
Kedua, Floren juga terkadang terlalu memprovokasi Araya dan membuat cewek itu mengamuk. Lalu dia akan menjadi korban guna mendapatkan simpati dari banyak orang.
Ketiga, di mana Araya berada pasti Floren juga ada di sana, entah apa maunya. Perlahan tapi pasti, Floren mulai merebut apa yang sebelumnya Araya miliki. Dari Devano, teman masa kecilnya hingga Arga; kembarannya.
Tetapi Saka juga tidak membenarkan perilaku Araya untuk membully Floren, kata pastinya adalah Saka berada di posisi netral. Hampir sama dengan Aska.
"Ka, Floren agak aneh deh." Saka berbicara, dia mengelus dagunya, terlihat berpikir sebelum melanjutkan. "Gue udah ngerasa aneh sama dia semenjak pindah ke sekolah kita. Dan hari ini gue beneran merasa dia agak beda."
Aska hanya melirik Saka, "Baru sadar lo?"
Bela si penguping handal, selangkah demi selangkah mulai mendekati mereka, memasang telinganya lebar-lebar. Namanya saja sudah penguping handal. Walau Bela terlihat sibuk pada ponselnya, namun telinga cewek itu sedang terbuka lebar, terfokus pada pembicaraan dua cowok itu.
"Emang dari dulu sih gue curiga, cuman tadi kecurigaan gue makin meningkat aja. Lo tau sesuatu ga?"
Tersenyum ringan, "Gue tau semuanya," sahut Aska ringan.
"Bel, lo kalau mau denger jangan nanggung-nanggung." Sambung Aska, dia segera menarik Bela mendekat.
Sontak saja Bela cemberut, bisa-bisanya Aska sepeka itu. Tapi untung juga bagi Bela, tidak perlu susah payah menguping dia jadinya.
"Sebenernya gue ga suka gosip, tapi kali ini spill ke gue dong."
"Dasar lo cabe," gumam Bela menatap geli Saka, cowok itu mendengus, "Serius elah, gue beneran kepo sama pacar kebanggan Devano itu."
"Kebanggan apanya, lintah darat noh bidadari kalian berdua." Bela menyindir. Saka semakin mendekatkan dirinya kepada Bela, menusuk-nusuk lengannya, "Cerita dong Bel..." desak Saka.
Bela suka nih....
Ada teman gibah.
Jadinya Bela menyeret dua cowok itu untuk duduk di salah satu bangku panjang dekat ruangan BK. Bela duduk di tengah-tengah, samping kirinya ada Aska dan kanannya ada Saka. "Denger-denger nih ya, si Floren itu suka foya-foya pake uang Devan."
Aska memutar matanya, Bela sangat tidak bisa jika ada orang mengajaknya gibah, iman cewek itu serasa di guncang badai, oleng dalam sekejap. Saka semakin semangat, "Gue juga pernah liat kartu black card Devano ada di dompet Floren." Aska mendengus, Saka sama saja seperti Bela.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hei, Araya! [End]
Fiksi RemajaYang engga vote, durhaka kalian...masuk neraka jalur vvip🙏 [Chapter lengkap] __________________ Selesai mengerjakan skripsi, Rana merebahkan tubuh di atas kasur sederhananya. Sebelum dia terlelap merehatkan tubuh; Rana menyempatkan diri untuk memba...
![Hei, Araya! [End]](https://img.wattpad.com/cover/212899113-64-k696027.jpg)