Araya menghembuskan nafas pahit, wajahnya tertekuk masam; memperhatikan wajah bahagia Niko di sebrang sana.
Sorak sorakan seperti tidak terdengar olehnya, fokus Araya hanya tertuju pada Niko yang tersenyum lebar ke arahnya. Sedangkan Devano--------melempar bola kasar dan segera pergi dari sana.
Lucas sendiri menatap sendu Araya sebelum ikut pergi dari lapangan, apa lagi ketika Niko berjalan bangga menuju ke arah Araya.
Cowok itu menghampiri Araya, keringatnya menetes menambah kesan seksi padanya. Araya menggigit bibirnya pahit, "Gue menang," kata Niko memberi tahu.
"Lo pikir gue buta?" Sedangkan Araya menjawab dengan sinis. Floren memperhatikan mereka dengan pandangan rumit, dia menelan ludah pahit. Merasa seperti ada yang di rebut darinya.
Dena dan Jia menarik Floren untuk menyusul Devano dan teman-temannya.
"Malam minggu gue jemput, ga usah pake nanya--------lo cuman harus nurut aja."
"Berisik."
Araya bergegas pergi menuju Bela, kesal akan perubahan alur kali ini. Padahal dia sudah berharap Niko kalah namun malah sebaliknya, sembari mendumel; dia menarik Bela menuju ruang gantinya.
Dari lantai dua nampak seorang pria menatap tajam ke arah lapangan basket, lebih tepatnya adalah Niko yang sedang menyiramkan air ke kepalanya. Dia memutar-mutar pisau kecil, "....Gangguan lagi." Desisnya.
-o0o-
Floren menatap Devano, cowok itu masih terlihat kesal akan kekalahannya kali ini. Apalagi, dia di kalahkan oleh Niko. Bukan itu saja, Devano juga kesal akan ke dekatan Araya dan cowok urakan itu.
Devano tidak rela jika Araya menjadi milik orang lain.
Seketika dia tersadar; mengusap wajahnya frustasi, meruntuki pemikiran bodoh yang baru saja dia pikirkan tentang tidak rela Araya menjadi milik orang. Memang Araya siapa? Bukan siapa-siapa Devano.
Suasana kantin berisik seperti biasa namun kali ini lebih berisik karena kejadian di lapangan tadi, di mana Niko mengecup punggung tangan Araya layaknya seperti sepasang kekasih. "Caper banget sih," kata Dena sembari mengingat kejadian tadi.
"Kecentilan ga sih? Deket sama musuh gitu." Sahut Jia. Floren tertawa canggung, "K--kalian ga boleh gitu...itu hak Araya buat temenan sama Niko."
Dena berdecak, "Keliatan banget dia cari pembelaan gitu."
"Jijik banget liat kelakuannya."
Aska melemparkan sendok ke tengah meja, dia menatap jengah ke arah Jia dan Dena. Saka sendiri menghela nafas lamat-lamat, "Ngomong di depan orangnya." Sindir Aska.
Menunjuk ke arah pintu kantin dengan dagunya, di sana Araya berjalan bersama Bela memasuki kantin.
"Percuma lo ngomong di sini, orangnya ga bakal tau." Sambung Aska lagi.
Jia dan Dena terdiam kaku, pasalnya baru kali ini Aska buka suara jika mereka menjelekkan Araya.
"...Sialan." segera cowok itu pergi meninggalkan meja; keheningan melanda mereka lalu Saka ikut berdiri dan menyusul Aska keluar. "Kenapa sih dia." Dena bertanya pada Floren--------di jawab gelengan tidak tau olehnya.
Devano menoleh menatap meja Araya, sekarang meja itu bukan hanya dua cewek itu saja namun sudah ada Niko dan tiga temannya; makan bersama di satu meja.
Floren juga menatap ke arah pandangan Devano, tangannya langsung mengepal. Dia menggigit bibir dan segera mengingat sesuatu di kepalanya, "Hngg, aku mau pesen gado-gado dulu deh." Ujarnya memberi tau. Sebelum ada jawaban, Floren lekas pergi. Tetapi Dena memiringkan kepalanya bingung dan bergumam pada dirinya sendiri, "Lo kan...alergi kacang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hei, Araya! [End]
Novela JuvenilYang engga vote, durhaka kalian...masuk neraka jalur vvip🙏 [Chapter lengkap] __________________ Selesai mengerjakan skripsi, Rana merebahkan tubuh di atas kasur sederhananya. Sebelum dia terlelap merehatkan tubuh; Rana menyempatkan diri untuk memba...
![Hei, Araya! [End]](https://img.wattpad.com/cover/212899113-64-k696027.jpg)