Tiga Puluh Tiga

97.3K 10.8K 635
                                        

Araya baru saja menginjakkan kakinya tepat di depan pintu ketika dia menengok ke arah depan, alisnya mengerenyit heran.

Pasalnya Araya dapat melihat Arga duduk diam dengan wajah pucat pasi dan di depannya Floren menangis tersedu-sedu, Araya hendak melangkah menjauh, tidak mau ikut campur dan tidak mau perduli. Masa bodo, pikirnya.

Namun ketika sudah dekat tangga, Araya berbalik arah. Rasa kemanusiaannya sedikit teruji.

Melihat dari dekat ternyata pipi Arga memerah bekas tamparan di sertai ujung bibirnya sedikit robek. Buku yang Araya pegang dia letakkan ke atas meja; berjalan mendekati Arga dan berdiri di depannya. Memegang wajah pemuda itu untuk di lihat dari dekat menggunakan dua tangannya.

"Lo kenapa lagi Arga." Desis Araya marah. Arga mengalihkan arah wajahnya, "Bukan urusan lo."

Bersedekap dada, Araya tersenyum miring menunjuk ke arah Floren, "Sialan ini penyebabnya?"

Tangisan Floren terdengar lebih keras,

"Berisik anjing, di rumah orang ga sadar diri."

Araya duduk setelah berhasil membentak Floren, dia duduk di atas meja tepat berhadapan dengan Arga. Wajah pemuda itu terlihat malu untuk sesaat, wajah Araya mendekat melihat bekas merah di pipi saudara kembarnya. "Bunda udah tau makanya sampe di tampar gini?"

Terlihat pupil Arga bergetar cemas seperti perkiraan Araya. Arum sudah mengetahuinya.

"Belum ada dua puluh empat jam.....hama di rumah udah mulai bereaksi." Sindir Araya.

Cewek itu berdiri, mendekati Floren kemudian mendorong-dorong keningnya menggunakan jari telunjuk, "Manusia ga tau diri, munafik, sampah masyarakat. Benalu bangsat."

Arga tertegun, lancar sekali Araya melontarkan perkataan kasar, seperti layaknya preman. Tak mencerminkan sifat perempuan pada umumnya.

"Floren, lo itu cuman numpang, tau diri atau gue tendang dalam empat puluh delapan jam alias dua hari dari sekarang,"

Araya mencengram dagu Floren, menusukkan kuku tajamnya ke kulit putih musuhnya itu,

"Devano udah jadi milik lo, jangan usik gue atau semua yang sekarang ada di sisi lo bakal gue rebut." Bisik Araya tepat di wajah Floren. Senyum mengerikan muncul di wajah cantiknya.

Melepaskan wajah Floren, Araya melihat ke belakang, "Bawa kotak obat ke kamar, nanti gue obatin." Kata Araya pada Arga.

Kemudian cewek itu memilih untuk hekang dari ruang tamu, terlalu malas menghirup oksigen satu ruangan dengan Floren. Nafasnya saja sudah bau kemunafikan, apa lagi tubuhnya. Bau sampah.

Begitu Arga beranjak pergi dari ruang tamu, Floren merubah raut wajah menyedihkannya menjadi senyuman, di hapusnya sisa air mata dari pipinya. "Sialan." Gumamnya.

Menyenderkan punggung ke sandaran sofa, Floren melihat ke arah langit-langit, di otaknya sudah banyak tersusun rencana yang akan merugikan Araya. Dan untuk Arga sendiri.....Floren sudah tak perduli lagi. Pria itu sekarang hanya menatap Araya saja.

Kakinya ia silangkan, otaknya bekerja dua kali dari biasanya, memikirkan bagaimana cara menghancurkan mereka berdua atau bahkan keluarga ini.

Di kamarnya, Araya hanya memakai tanktop crop hitam dan celana pendek yang menutupi setengah pahanya tak lupa memakai blazer sebagai pelengkap. Jangan tanya dia mau kemana, Araya hanya akan berdiam diri di rumah saja, tak berminat kemana pun, dia mengambil camilan dari dalam kulkas bertepatan Arga memasuki kamarnya sembari membawa kotak P3K. Cowok itu mendengus melihat gaya berpakaian Araya yang sedikit sembrono.

Hei, Araya! [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang