"Om Nono...gigi Aya lepasss!" Pekik Araya kecil. Menunjukkan gigi yang sudah lepas ke wajah Viano membuat pria itu tertawa.
Mengelus kepala Araya lembut, "Pintarnya, sekarang ayo kita buang ke atas atap." Ajak Viano. Mitosnya jika gigi bawa tanggal maka harus melemparkan ke atas genting rumah agar giginya segera tumbuh. Namun Araya cemberut, "Om Nono lupa ya? Rumah Om itu tinggiiiiiiiii banget."
Viano terdiam, baru teringat bahwa rumahnya memang sedikit tinggi.
"Jadi sekarang cucu nenek udah ga punya gigi ya?" Goda Hala, Ibu Viano.
Araya turun dari gendongan Viano dan berlari kecil menuju Hala, memeluk Nenek kesayangannya itu. "Nenek! Aya linduuu."
"Aduhh lucunya cucuku!!" Hala memeluk tubuh Araya tak kalah erat, mencium seluruh wajah anak itu. Suara tawa Araya terdengar kegirangan.
"Aya, lihat Kakek bawa apa." Panggil Josh sembari menenteng plastik makanan toko terkenal.
Araya mengintip sesudah terlepas dari ciuman maut Hala. Membuat wanita itu berdecak, menurunkan tubuh cucunya. Segera Araya lari menghampiri Josh, "Kuee oleoo! Makasih Kakek...." pekik Araya kegirangan.
Josh menunjuk pipinya, "Bayarnya mana?" Tanya pria tua itu. Araya mendekat dan mencium pipi Josh hingga menimbulkan bunyi kecupan.
Hala menatap sinis suaminya, Josh sendiri serasa terserang banyak cinta dari Araya. Anak itu sibuk memba---menyeret plastik berisi makanan ke arah Viano.
"Om Nono makann, ayukkk!!" Ajaknya.
Viano mengangguk, membawa Araya ke dalam gendongan serta menenteng plastik dari Ayahnya.
Mata Hala meredup, "Vian terlalu kuat."
"Mau bagaimana lagi, demi keselamatan Araya; dia harus tahan karena banyak musuh mengincar nyawa orang di sekitarnya." Jelas Josh yang juga merasa sedih ketika anaknya di panggil oleh Om oleh malaikat kecil itu.
"Karena manusia brengsek itu kita kehilangan menantu dan kali ini Vian harus rela anaknya menganggap dia sebagai Om bukan sebagai Ayah. Bedebah." Hala terus mengumpat jengkel.
Josh menghela nafas.
Dari arah dapur dapat Josh dan Hala dengar suara tawa bahagia Araya dan suara kekehan Viano.
"Ahh brengsek."
"Hala..."
-o0o-
Pagi cerah kembali bersinar, matahari mulai menampakkan sinar cerahnya menyising kegelapan malam.
Ketika Araya sudah berada di ruang makan, ia menatap aneh pada Arga---pemuda itu terlihat sangat bersemangat, tersenyum sesekali sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Menghiraukan kegilaan Arga, ia mengambil duduk tepat di sebrang Arga.
"Bunda, Ayah kemana? Ga keliatan udah dua hari."
Arga menghentikan kegiatan makannya, "Ke Bandung ada urusan kerjaan."
Menganggukkan kepala seolah paham, "Floren?" Tanya Araya lagi.
"Rumah Sakit, katanya mereka di serang orang ga di kenal."
"Terus kenapa lo masih di sini? Ga jenguk?" Sindir Araya.
Air di gelas segera Arga sambar untuk ia minum hingga tandas, "Ga perlu." Jawabnya.
Araya ikut meminum air dari gelas dan mengekori Arga yang perlahan berjalan keluar dari rumah, mereka berdua melihat di halaman sudah terdapat sebuah motor dan pemiliknya melambai kecil. Arga melirik Araya kemudian dia memilih menuju garasi sedangkan Araya menghampiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hei, Araya! [End]
Teen FictionYang engga vote, durhaka kalian...masuk neraka jalur vvip🙏 [Chapter lengkap] __________________ Selesai mengerjakan skripsi, Rana merebahkan tubuh di atas kasur sederhananya. Sebelum dia terlelap merehatkan tubuh; Rana menyempatkan diri untuk memba...
![Hei, Araya! [End]](https://img.wattpad.com/cover/212899113-64-k696027.jpg)