Tiga Puluh

116K 13.2K 2.2K
                                        

Arum berjalan mondar mandir sembari menggigit ujung kuku jarinya, di landa kecemasan berlebih, halusinasi mulai menyerangnya; menyebabkan wanita berusia di akhir tiga puluhan itu memiliki khawatir berlebih.

Entah mengapa sedikit demi sedikit ia merasa ada hal janggal. Saat ia melihat pergelangan tangan Floren, terlihat sebuah tahi lalat yang sangat mirip dengan bayinya saat pertama kali dia gendong. Sungguh aneh.

Mengapa Araya tak memiliki tanda itu? Arum juga semakin yakin akan hipotesisnya baru-baru ini bahwa anaknya, malaikatnya, buah hatinya, sudah di tukar oleh seseorang. Entah apa motif orang tersebut, namun bayinya sudah pasti di tukar. Araya tidak memiliki kriteria sepertinya atau Regan, tubuh anak itu tinggi melebihi Arga walau tidak terlalu kentara, bentuk wajahnya memang sedikit mirip dengan Arum namun mata serta hidunya lebih seperti milik Viano; suami Arun.

Mata Arum lantas melebar.....mirip Viano?

Tidak,

Bukankah Arun serta anaknya di nyatakan mati saat kecelakaan itu? Viano sendiri yang mengatakan hal tersebut dari mulutnya. Tak mungkin ia berbohong.

"Araya, Floren, Arga.....kalian lahir di hari yang sama,"

Hening sejenak, Arum menatap figuran foto di atas meja riasnya, "Tes DNA." Gumam Arum memutuskan.

Seharusnya ia melakukan sejak dulu, betapa bodohnya.

Mana mungkin bayi yang lahir di hari yang sudah di tentukan dokter tiba-tiba harus berada di box inkubator selama beberapa hari karena prematur. Bagaimana Arum tidak menyadarinya!

Sialan.

-o0o-

Floren menatap wajah orang tuanya penuh dendam, air matanya membasahi setiap inci pipinya, matanya melotot, "Kalian bukan orang tua aku 'kan!!!" Bentak Floren.

Kedua orang tersebut hanya menatap Floren tanpa menjawab.

"KALIAN SIAPA HAH?!" Floren sekarang berteriak sekencang yang dia bisa, melampiaskan emosinya. "Tutup mulut mu Floren." Ujar sang Ibu tajam, "Tentu saja kamu anak kami, jangan menanyakan hal yang sudah pasti." Jelasnya penuh tekanan. Matanya menunjukkan peringatan untuk Floren.

Sedangkan si Ayah hanya diam memperhatikan, "Sudahlah, Ibu dan Ayah sebentar lagi harus pergi. Jaga rumah selama beberapa hari, Ibu sudah siapkan makanan di kulkas, kamu bisa memanaskannya jika lapar nanti."

Sebelum berbalik, sang  Ibu menyempatkan memelototi Floren, "Dan jangan berulah. Turuti apa perkataan Tuan Viano saat itu." Ujarnya.

Sang Ayah menghela nafas, menepuk puncak kepala Floren dua kali seraya berkata, "Uang sakumu akan Ayah transfer, berhenti bekerja Floren, kamu masih punya orang tua."

Floren menggigit bibirnya hingga menimbulkan luka, merasa tidak adil di suatu tempat. Ini adalah kehidupan ke tiga yang seharusnya berjalan mulus sebagaimana adanya namun semua terbalik ketika Araya pingsan saat itu.

Mata Floren bergetar liar, tak mungkin 'kan?

Apa mungkin jiwa Araya bertukar sama sepertinya? Dia adalah karakter antagonis! Tidak bisakah Araya menjalani kesengsaraan sama seperti kehidupan sebelumnya dan mengikuti alur novel saja?! Tidak adil jika ia merubah hal yang penulis atur.

"Kita lihat aja, siapa yang akan berakhir mengenaskan...." Floren berujar penuh dendam.

Tak lama suara tawa mengerikan terdengar, mengisi ruang tamu dengan tawa dari mulut Floren. Kali ini matanya menunjukkan tanda-tanda kegilaan kentara jelas.

Hei, Araya! [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang