Video CCTV saat Floren menyakiti dirinya sendiri di hadapan Araya mulai tersebar, masalahnya tak sampai di sana saja bahkan rekaman saat ia keluar masuk club juga ikut tersebar di grub angkatan mereka.
Foto-foto Floren sebelum memasuki sekolah mereka juga ikut tersebar luas, di mana ia juga penjadi perundung di sekolah lamanya, foto hasil tangkapan CCTV saat dia masuk ke dalam ruangan dokter kandungan juga ikut terpublish.
Para siswa mau pun siswi sibuk menatap layar ponsel mereka masing-masing, melihat kemudian menyebarkannya ke orang lain. Berbeda dengan orang lain, Araya hanya diam menikmati bakso di kantin bersama Eka dan Bela, ketiga anak perempuan itu menyuapkan bakso mereka.
Eka sudah di kabarin Aska bahwa Araya mulai bergerak untuk membuka satu persatu aib Floren di hari yang sama. Baru satu jam video CCTV dalam rumah tersebar, muncullah rekaman CCTV ketika Floren keluar masuk club di hari berbeda, lalu satu jam kemudian giliran foto mengisi grub angkatan dengan akun anonim, sejam kemudian lagi kali ini rekaman CCTV sekolah lama Floren tersebar saat ia menampar bahkan menarik rambut anak random di sekolahnya untuk ia rundung, jangka waktu postingan terakhir lebih singkat yaitu tiga puluh menit kemudian muncul foto Floren masuk ke dalam ruangan dokter kandungan dan foto tersebut menjadi peluru terakhir bagi Floren.
Mereka semua berbondong-bondong mencari kehadiran Floren namun sangat di sayangkan bahwa perempuan itu tak terlihat sedikit pun batang hidungnya. Devano sibuk mencari keberadaan Araya untuk bertanya apakah ini semua perbuatannya.
"Iya, kenapa? Lo masih mau bela dia?"
"Ay..."
"Cot bacot bacot, stop sok kenal. Araya not Aya!"
Eka hanya memperhatikan begitu juga Bela, mereka masih menikmati bakso dalam diam sembari memperhatikan raut wajah bermasalah Devano.
"Araya gue bukan mau bela dia..."
Menghiraukan Devano, Araya kembali mencuri bakso milik Bela, ia tak mau peduli kehadiran Devano lagi, pemuda itu masih saja memikirkan tentang Floren tentu saja.
Pemuda tersebut memijat keningnya, Araya keras kepala sekali, tidak berubah sama sekali.
Di tempat berbeda, kamar bernuansa minimalis yang dahulu sempat menjadi milik Araya terlihat berantakan. Pecahan kaca berantakan di lantai, selimut tebal juga ikut jatuh ke lantai, kapas bantal bertebaran. Benar-benar berantakan.
Di sudut ruangan seorang gadis duduk dengan menekuk lututnya, dia terlihat depresi, rambutnya acak-acakkan.
Tubuhnya bergemetar hebat, layar ponsel miliknya masih menyala menampilkan komentar miring tentangnya memenuhi layar, pintu kamarnya juga sedari tadi terdengar gedoran; memanggil namanya berkali-kali menyuruhnya agar keluar.
Mengapa hidupnya hancur?
Kenapa Tuhan begitu jahat? Dia baru saja menemukan keluarga kandungnya tetapi baru beberapa hari ia menemukan keluarga, satu persatu masalah mulai datang. Dari menghilangnya Arum, lalu Araya sedikit demi sedikit membeberkan segalanya, kasih sayang Regan yang menipis karena Ayahnya itu juga begitu terpukul, dan sekarang masa lalu dirinya sudah tercium.
Alasan Floren pindah ke SMA Swasta Erlangga karena kasusnya di sekolah lama tak bisa lagi di tutupin, ia juga sempat hamil saat kelas sepuluh dan ketika ia sudah di sekolah baru...mengapa semuanya terbongkar!
Floren menutup wajahnya, dia menangis kencang sesekali memukuli dadanya.
Kini layar ponsel menampilkan sebuah panggilan dari seseorang.
Tangan Floren bergemetar mengangkat panggilan tersebut. "H--halo..."
"Mana anak gue?"
Mendengar suara to the point dari seberang telepon, Floren menutup matanya sejenak, menarik nafasnya pelan lalu ia hembuskan, "Anak apa maksud kamu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hei, Araya! [End]
Fiksi RemajaYang engga vote, durhaka kalian...masuk neraka jalur vvip🙏 [Chapter lengkap] __________________ Selesai mengerjakan skripsi, Rana merebahkan tubuh di atas kasur sederhananya. Sebelum dia terlelap merehatkan tubuh; Rana menyempatkan diri untuk memba...
![Hei, Araya! [End]](https://img.wattpad.com/cover/212899113-64-k696027.jpg)