Kejadian mengerikan itu terjadi beberapa waktu setelah kepergiannya. Pria yang baru saja menginjakkan kaki ke Indonesia langsung tertampar oleh sebuah fakta, di mana anak satu-satunya yang ia miliki sudah meninggal.
Tidak menyisakan sedikit pun, dia menghilang dari pandangan. Mengikuti jejak Ibunya, tanpa bisa memanggilnya Ayah.
Kegilaan yang telah lama terkubur saat lahirnya putri kecilnya kembali menguasai, membantai membabi buta setiap orang yang menjadi dalang dari kematian anaknya.
Mata kesedihannya terdapat sebuah kegilaan kental, tidak di pungkiri lagi bahwa satu negara hampir terbalik sebab meninggalnya orang-orang penting, darah terciprat di setiap ia melangkah.
"Putriku...sayangku..." kesedihan dalam suaranya terdengar memilukan.
Menyesal karena kurangnya pengawasan untuknya hingga ia pergi dalam siksaan binatang kecil itu, Viano menatap dua orang berbeda jenis di depannya, menodongkan pistol tepat ke arah mereka.
"....kembalikan, kembalikan Araya!" Katanya setengah membentak.
"Maaf, setelah ini saya akan berusaha membawanya kembali...."
Suara pria terdengar, Viano tertawa sarkas, air mata mengalir di pipinya, satu-satunya cahaya terang sudah menghilang begitu pula sisa kewarasannya. Di pipi Viano terdapat bercak darah merah, penampilannya sungguh menyeramkan untuk di sebut sebagai manusia.
"Kalau Tuhan tidak menanggapi....dunia ini akan saya hancur 'kan." Desis Viano tajam.
Hingga pistol yang tadinya mengarah pada dua manusia itu sekarang beralih mengarah ke arah kepalanya sendiri, "Saya tak akan segan menjual jiwa ini ke iblis demi kembalinya dia,"
Dorr
Suara nyaring pistol terdengar, bersamaan tubuh Viano ambruk dengan darah bercucuran.
Ya,
Viano mengakhiri hidupnya sendiri.
Sedangkan Aska dan Bela menahan nafasnya, melihat adegan bunuh diri tepat di depan mereka, rasanya seperti nyawa mereka ikut di tarik. Bela berjongkok, menutup mata lelah Viano.
"Tulis kehidupan ini ke dalam novel, sisanya akan kita serahkan pada pengurus kelangsungan dunia."
Hening sejenak, kemudian Aska melanjutkan. "Serta hapus ingatan kita Bela."
-o0o-
Bela memutuskan untuk segera menemui Aska. Ini sudah tidak benar, bukan memihak pada siapa pun, hanya saja Bela merasa kehidupan mereka bukan seperti dalam novel lagi, mengapa terlalu menyeramkan.
Tamat tengah kota menjadi tujuan dua sejoli itu, Bela segera duduk di samping Aska yang menatap hamparan rumput.
"Aska keputusan kita saat itu...apakah sudah benar?"
Aska menghembuskan nafasnya, "Tenang Bela, semua sudah berjalan sebagai mana mestinya."
"Kita sudah tidak bisa ikut campur, tugas kita sudah selesai."
"...maksudnya?"
"Araya sudah mengulang tiga kehidupan Bela, dunia ini adalah dunia asalnya." Atas perkataan Aska, mata Bela terbuka lebar, apa maksud cecunguk ini?! Dunia ini adalah novel karyanya!
"Jangan mengada-ada Aska!"
Aska diam, menolehkan kepalanya menatap Bela sepenuhnya, "Apa lo ingat bagaimana kehidupan saat di dunia itu? Siapa nama asli lo Bela?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hei, Araya! [End]
Teen FictionYang engga vote, durhaka kalian...masuk neraka jalur vvip🙏 [Chapter lengkap] __________________ Selesai mengerjakan skripsi, Rana merebahkan tubuh di atas kasur sederhananya. Sebelum dia terlelap merehatkan tubuh; Rana menyempatkan diri untuk memba...
![Hei, Araya! [End]](https://img.wattpad.com/cover/212899113-64-k696027.jpg)