Tiga Puluh Sembilan

88.1K 11.5K 1.6K
                                        

Beberapa menit sebelumnya,

Sekembalinya Araya menuju kelas, dia memasuki kelas yang bisa di katakan cukup berisik saat ini. Tentu saja alasannya sederhana, waktu istirahat masih berjalan dan tentu saja anak-anak menghabiskan waktu tersebut untuk membuat keributan.

Ketika Araya masuk, tidak ada satu pun dari mereka mau menatap Araya. Sederhana saja, mereka takut, tak mau juga ikut terdeteksi radar Araya. Memilih cari aman saja. Begitu pikir mereka.

Padahal Araya juga bukan orang yang mencari masalah ke sana kemari, ia hanya menyelesaikan orang yang menganggunya saja, mereka salah sangka. Tetapi Araya juga enggan meluruskan hal tersebut, lebih baik jika mereka tak pernah mendekatinya.

Duduk berdiam diri sembari menatapi buku tulisnya, guratan coretan juga terlihat mengisi sebagian buku.

'Araya? Dari tadi gue manggil kok ga ada sahutan?'

Masih menunggu jawaban, Araya mengotak atik ponselnya sebentar, hingga dari arah pintu terlihat Arga menarik tangan Devano agar tidak memasuki kelas.

Araya mendongak, menatap sebentar ke arah mereka lalu melanjutkan kegiatannya lagi.

Floren di sana juga menangis dengan keadaan kacau, bajunya robek sana sini, rambutnya acak-acakan, wajahnya sedikit bengkak seperti habis mendapat tamparan bolak balik. "Gembel atau anak sekolah 'sih." Gumam Araya pada dirinya sendiri.

Mengedikkan bahu acuh, Araya merasa hal itu bukan urusannya.

Namun baru saja Araya merasa itu bukan urusannya, tiba-tiba tubuh Arga terlempar dan menabrak beberapa meja. Seketika mata Araya membulat, berdiri secara spontan dan mendekati Arga.

Arga sepertinya pingsan karna syok, "Arga, bangun..." kata Araya sambil menepuk-nepuk pipi Arga tetapi tidak ada balasan.

Devano yang kalap segera menarik kerah seragam Araya, memaksanya untuk segera berdiri, tangan cowok itu langsung melayangkan sebuah tamparan keras hingga tubuh Araya ikut jatuh. Tamparan dari Devano membuat Araya marah.

Dia sedari tadi tak ada menyebabkan masalah!

Para siswi terpekik sedangkan siswa meringis melihat kelakuan tak senonoh Devano, masalahnya adalah Araya seorang perempuan; mendapatkan perlakuan seperti itu pasti bisa membuat Araya pingsan di tempat!

Kaki Devano hendak menendang tubuh Araya, namun segera Araya tangkap. Dia mendongak, sudut bibirnya mengeluarkan darah menandakan tamparan Devano cukup bertenaga untuk di tahan tubuh perempuan.

"Surprise." Tekan Araya.

Kaki Devano segera Araya tarik hingga tubuh Devano oleng kemudian jatuh terduduk.

Melihat Devano terjatuh, senyum meremehkan terbit dari bibir Araya---menoleh menatap wajah pucat Floren.

"Fitnah apa lagi Floren?" Tuntut Araya, kakinya melangkah mendekat namun segera Radit menutupi tubuh Floren dengan tubuhnya.

Melindungi Floren dari jangkauan Araya, hal tersebut menghasilkan tawa dari mulut Araya.

"Lo kali ini keterlaluan! Ancaman pembunuhan bisa di jadikan tuntutan di kantor polisi!!" Bentak Radit menggebu-gebu.

Wah, mendengarnya saja sedikit menakuti anak kelas lainnya. Apakah Araya semenyeramkan itu?

"Sesama perempuan tapi lo tega banget Araya! Apa salah Floren?!"

Aska muncul sesudah membelah kerumunan, menatap kaget pada tubuh Arga.

Hendak menghampiri temannya itu harus di hentikan sebab Araya dengan kejam menendang perut Radit, cowok itu jatuh terduduk sebab mendapat serangan tiba-tiba.

Hei, Araya! [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang