Jam istirahat sedang berlangsung, Araya memilih untuk ke kamar mandi dahulu sebelum menyusul Bela ke kantin.
Di kamar mandi kebetulan hanya ada dirinya sendiri saja sampai Floren ikut masuk sendirian, wajahnya menunjukkan rasa sombong yang kentara sekali. Araya sibuk mencuci tangannya tanpa mau memperdulikan.
Dia juga merapikan sedikit rambutnya agar tidak berantakan.
"Mana omongan kamu yang bakal ngusir aku? Yang ada aku bakal usir kamu dasar anak ga jelas!"
Araya melihat Floren dari kaca, dia tersenyum kecil seraya berbalik. Ponsel di atas wastafel tadi dia ambil, membukanya dan menunjukkan layar tersebut ke wajah Floren.
"Gimana menurut lo kalau satu dunia tau ini? 'Anak perempuan satu-satunya keluarga Kesuma ternyata memiliki anak di luar nikah dan menelantarkannya ke panti asuhan' wah, heboh ga sih?" Goda Araya.
Tidak berhenti sampai sana saja, Araya menunjukkan gambar seorang Bapak-bapak sedikit berumur sedang memegang bokong perempuan, gambar tersebut di ambil dari belakang, Araya menggeser layar, kini terlihat Bapak tadi mencium gadis yang sama. Tetapi bedanya sekarang wajah si perempuan terekspos jelas, Floren menegang.
"Jadi, dia bapak anak lo?"
Araya berbisik, senyum iblis terbit dari bibirnya. Kaki Floren rasanya seperti jelly, bingung mengapa Araya bisa tau?! Sial, bagaimana ini!
"Oh, jangan harap lo bisa nyentuh anak itu lagi, karena....dia udah aman di tangan gue."
Bukan hanya anak itu saja yang Araya amankan sebenarnya, melainkan satu panti asuhan agar tidak bisa Floren sentuh atau siapa pun sentuh.
"Jadi gimana Floren Novalinda Kesuma? Lo yang hancur atau gue duluan?"
Araya menepuk pundak Floren beberapa kali.
"Siap-siap ya, karna gue pelan-pelan mau bongkar semuanya."
Floren sadar segera menarik rambut Araya sebab ia sudah kepalang kesal, ponsel Araya dia rampas dan lempar ke arah kaca. Araya berdecak lalu menarik rambut Floren lebih keras, "Bangsat." Umpatnya kesal.
Wajah Floren segera Araya tahan kemudian dia dorong mundur ke arah dinding, mendorongnya lumayan bertenaga agar Floren mengalami pusing dan melepaskannya.
Brukk
Sesuai dugaan, tarikan di rambutnya terlepas. Araya berdecak jijik, melihat Floren memegangi kepalanya yang mungkin terasa pusing.
Serangan Araya tidak berhenti, dia menarik kerah seragam Floren, mendekatkan wajah mereka berdua. "Lo mau main-main sama gue ya?" Tanyanya dingin.
Tangan kanan Araya segera mencekik leher Floren, "Setelah ini gue harap lo membusuk di neraka."
Floren tersudut, nafasnya hampir habis karena cekikan Araya, sesaat dia ingin pingsan di situlah Araya melepaskan cekikannya. Kejam! Araya kejam!!
Tubuh Floren jatuh ke atas lantai kamar mandi. Jari Araya menunjuk-nunjuk keningnya, "Renungi dosa lo buang darah daging sendiri, Ibu bangsat lo ya mirip Arum."
Di tinggalkannya Floren sendirian, dia berjalan menghampiri Bela dan Arga ke kantin. Kedua orang tersebut saling melempar tatapan tajam.
"Bel, ntar malam ga sibuk?" Araya bertanya ketika baru duduk di antara mereka, tangannya menarik makanan milik Bela, sedangkan tangan satunya mengambil alih minuman milik Arga.
"Anjing, lo ga tau diri ya. Dateng-dateng ngerampas hak orang lain." Amuk Bela kesal.
Araya mengedikkan bahu, Arga sendiri mendesah lalu berdiri ingin memesan minuman lagi. Melihat Arga pergi, Araya mengembalikan makanan kepada pemiliknya, "Bel gue mau berantakin keluarga Kesuma."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hei, Araya! [End]
Teen FictionYang engga vote, durhaka kalian...masuk neraka jalur vvip🙏 [Chapter lengkap] __________________ Selesai mengerjakan skripsi, Rana merebahkan tubuh di atas kasur sederhananya. Sebelum dia terlelap merehatkan tubuh; Rana menyempatkan diri untuk memba...
![Hei, Araya! [End]](https://img.wattpad.com/cover/212899113-64-k696027.jpg)