Ketik hadir untuk absen
Yang ga vote dosanya kelap kelip🙏
-o0o-
Pagi kembali datang, matahari mulai menyinari dunia memanggil para makhluk untuk segera beraktifitas. Kembali mengulang pekerjaan yang sama di hari berbeda, mengahadapi pahitnya kehidupan lagi, menarik orang-orang dari mimpi indahnya memaksakan realita agar segera di tempuh.
Tak terkecuali Araya, dia sudah siap lengkap seragam serta tas menyampir di pundaknya. Menatap cermin memastikan tidak ada hal terlewat serta menyiapkan mental untuk menghadapi hal-hal menjengkelakan nanti.
Rambut panjangnya dia gerai, wajahnya di poles make up tipis agar tidak terlalu lesu, bibirnya terdapat warna merah muda manis yang menambah kesan indah di bibirnya. Araya sudah siap.
Dia berbalik, memeriksa jam sekali lagi dan menghidupkan layar ponselnya.
Notifikasi pop up dari Niko terlihat di bagian paling atas, pesan yang mengatakan bahwa ia akan tiba dalam lima menit lagi.
Tidak tau mengapa, namun tiba-tiba saja dia dan Niko sudah cukup dekat....atau bahkan lebih dekat? Cowok itu terlalu banyak kejutan. Araya bingung, kepribadian seperti apa yang Niko miliki? Tidakkan sama seperti di novel, di mana ia orang yang memiliki hawa berbeda, lumayan jarang berbicara apa lagi tersenyum dan--------manja?
Araya baru tau jika Niko tipikal berkebalikan dari isi novel, apanya yang jarang berbicara atau tersenyum; si gila itu selalu tersenyum dan banyak berbicara hingga kepala Araya pusing. Niko juga termasuk pria manja, ITU SAJA ARAYA BARU TAU SEMALAM.
Mengingat hal tersebut Araya merasa merinding di tangannya, "Charanya ga waras semua." Bisiknya pada diri sendiri.
Araya sampai di lantai satu, ketika melihat ke arah pintu; Arga sudah berdiri menenteng dua helm di kedua tangannya sambil menatap Araya.
Arga memberikan aba-aba untuk bergerak mendekat, tentu saja Araya berdecih namun tetap menuruti. Ia menerima helm pemberian Arga kemudian mengikuti langkah pemuda itu dari belakang menuju motornya, "Naik, jangan banyak protes." Peringat Arga.
Araya mendelik, bisa-bisanya dia tau bahwa Araya ingin protes. Di balik helmnya Arga tersenyum tipis tak mencapai matanya, sudah tau jika di belakang sana Araya mendumel pelan sembari memegang pundaknya sebagai tumpuan.
Setelah naik, Araya duduk tenang seraya memegang pundak Arga. "Buruan jalan," perintahnya menepuk-nepuk pundak Arga berulang kali. Sedangkan Arga yang menjadi korban tepukan maut Araya hanya bisa mendesah lelah, menuruti keinginan kembarannya dengan segera ia melajukan kendaraan roda dua tersebut.
Di perjalanan tidak ada topik pembicaraan, Araya tak mau repot-repot mencari bahan pembicaraan, dia hanya menikmati angin pagi yang cukup sejuk.
Arga juga diam sesekali melirik kaca spion; mengintip ekspresi bosan Araya.
Entah mengapa Arga langsung teringat akan suami Tantenya yang selalu memasang wajah bosan setiap ia melihat, belum pernah Arga melihat ekspresi berbeda dari Omnya itu.
Mengedikkan bahunya acuh, mengusir pemikiran aneh dari kepalanya.
Bertepatan dengan itu, mereka mulai memasuki area sekolah--------Arga menggentikan laju kendaraan roda duanya tepat di tempat biasa dia parkir. Araya turun, melepaskan helm dari kepalanya kemudian sedikit merapikan rambut.
"Pagi Arga....." sapa seorang gadis, membuat perhatian mereka teralihkan.
Araya mendengus jijik, memperbaiki postur tasnya dan lebih memilih angkat kaki terlebih dahulu, pagi-pagi sudah ada saja yang merusak suasana hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hei, Araya! [End]
Novela JuvenilYang engga vote, durhaka kalian...masuk neraka jalur vvip🙏 [Chapter lengkap] __________________ Selesai mengerjakan skripsi, Rana merebahkan tubuh di atas kasur sederhananya. Sebelum dia terlelap merehatkan tubuh; Rana menyempatkan diri untuk memba...
![Hei, Araya! [End]](https://img.wattpad.com/cover/212899113-64-k696027.jpg)