Dua Belas

173K 20.4K 1.7K
                                        

Btw bnyk bgt yg salah paham sma benda dingin di chapter sebelumnya wkwk, itutuh bibir loh. Kdg ada beberapa org yg bibirnya emang dingin gitu

Sorry udah bikin salah arti wkwk

-o0o-

Axel mundur selangkah dari Araya seraya tersenyum manis, seperti tidak terjadi apa-apa. Araya lantas memegang kulit lehernya yang tadi di kecup oleh Axel dengan bibir dinginnya.

"Bibir lo musafir kemana aja sih?! Bisa-bisa nyium leher gue sembarangan." Sembur Araya. Dia menggosok kulit lehernya hingga menimbulkan kemerahan.

Sedangkan Axel----dia memiringkan kepala, menatap bingung Araya, "Perasaan lo doang kali." Jawabnya tanpa dosa.

Araya menggigit bibirnya kesal, wajah malaikat Axel sangat amat ingin Araya hajar; tapi dia tidak berani. Apa lagi ketika mendengar perkataan Axel tadi.

"Btw, maksud lo apa tadi?"

Bukannya mendapat jawaban, Araya hanya mendapati senyuman manis Axel saja dan cowok itu mengacak rambutnya sejenak sebelum pergi. Araya shock, ini...agak menjengkelkan.

Axel menghapus senyumannya sesudah memunggungi Araya, dia menatap dingin ke depan. Bibirnya membentuk garis lurus, sangat berbeda saat bersama Araya tadi. "Lo lagi Arga?" Gumam Axel.

Jika saja Axel tidak mengadakan rapat Osis, jika saja Axel menjaga Araya sedikit lebih lagi maka kejadian semalam tidak akan terjadi. Tadi pagi dia mendapati pesan berisi foto hidung berdarah Araya dan cewek itu di gendong menuju UKS oleh Devano; membuat Axel geram.

"Lo anggep apa peringatan gue..." kali ini Axel menatap nyalang pada Arga yang baru saja turun dari motornya.

-o0o-

Waktu berlalu cepat, hari ini Araya menatap nanar pagar sekolahnya yang terbuka lebar dengan pandangan penuh tekad. Berjanji bahwa tidak akan ada masalah apapun.

Hari perlombaan antar sekolah.

Bela di sebelahnya mendengus kasar, menarik tangan Araya paksa untuk memasuki sekolah. "Lo kaya mau tempur aja, sih!" Sungut Bela.

"Lo gatau aja," bisik Araya pada dirinya sendiri.

Mereka berdua melewati koridor yang ramai, sebelum mencapai tangga menuju lantai dua----Araya dan Bela di hadang oleh seorang pria tinggi mengenakan baju basket. "Ngehindar lagi?" Katanya lesuh.

"Halusinasi lo kali." Sahut Araya cuek.

"Lo unfoll gue, chat ga pernah lo balas. Apa itu kalau bukan ngehindar?"

Bela menonton penuh minat. 'Asik, drama pagi' batinnya kegirangan.

Niko cemberut membuat Araya bergidik ngeri, mengapa pula cowok satu ini bertingkah seperti bukan dirinya yang Araya baca dalam novel.

Cowok itu mengerucutkan bibirnya, "Ga pantes lo kaya gitu." Decak Araya kesal.

Belum saja Niko membalas, dari arah belakang ada seorang cowok menarik baju belakang Niko, "Nanti gue balikin." Kata cowok itu.

"Gausah, bawa pulang sekalian sana." Araya menjawab senang. Dia tersenyum lebar, melambaikan tangannya pada Niko dan temannya itu.

"Bel kelas gue aja yuk." Ajak Araya.

Keterdiamanan Bela berhasil menghentikan langkah Araya, cewek itu menoleh; menatap kosong pada Bela yang memerah. Wajahnya sangat merah seperti tomat.

Hei, Araya! [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang