Sepuluh

179K 19.4K 1.5K
                                        

"Lo... manusia paling sampah di mata gue."

Bela meremas tissue dalam genggamannya; tanpa menoleh sedikitpun pada seorang pria yang duduk terdiam di sebelahnya. "Sebenci itukah lo sama Araya?"

"Gue harap, lo ga bakal nyesel suatu hari nanti." Putus Bela.

Cewek itu berdiri dari duduknya, melipat tangan seraya memasang wajah kaku.

Pintu terbuka, menampakkan wujud Araya yang masih terlihat lesu; akibat bola basket tadi tentu saja. Arga berdiri ingin menghampiri Araya namun segera berhenti ketika menatap Floren dari balik tubuh tinggi Araya.

Siku tangan cewek itu di perban sebab menghantam lantai dan menimbulkan beberapa goresan, mata Arga di penuhi amarah----di tunjuknya wajah Araya, "Liat kelakuan lo!" Bentaknya.

Araya yang baru saja hendak duduk segera menoleh, "A--arga... aku ga apa-apa..." seru Floren panik.

Gigi Araya bergemelatuk menahan amarah.

"Bukan salah Araya." Suara Devano memecah kerutan kaku di wajah Arga, bahkan Floren saja sampai memalingkan wajahnya seolah kaget.

"Apa-apaan lo belain dia?!"

Aska mendorong bahu Arga mundur, "Sialan, dari tadi lo bikin gue emosi." Ujar Aska kesal.

Bela menarik tangan Araya untuk segera pergi, dari pada menonton adegan tidak berguna seperti itu; apalagi keadaan Araya saat ini masih setengah sempoyongan.

Mata Araya meredup----dia menatap Arga sendu, hatinya sakit ketika Floren yang hanya mendapat luka ringan lebih Arga perdulikan; perasaan Araya 'asli' masih tersisah di hatinya. Arga menatap balik mata Araya lalu dia tersentak ringan, tatapan itu terakhir kali dia lihat setahun lalu.

Tepat di mana Arga mulai menjaga jarak dengan Araya.

-o0o-

Devano menggaruk leher belakangnya frustasi, mengapa dia berlari begitu cepat untuk menangkap tubuh Araya?

Bahkan Devanolah yang membawa Araya menuju UKS dengan menggendongnya ala bridal style. Meninggalkan Floren, kekasihnya. Devano bingung pada dirinya sendiri, tanpa dia sadari... Devano mulai tertarik akan perubahan Araya.

Ini baru beberapa hari sejak cewek itu berhenti mengejarnya, berhenti menganggu Floren dan dia terlihat lebih fresh dari sebelum-sebelumnya.

Saat ini, Devano sedang menemani Floren di rumahnya; hanya berdua saja sebab orang tua cewek itu sedang sibuk bekerja meninggalkan anak semata wayangnya sendirian di rumah, jadilah Devano sebagai kekasih menemani Floren.

Dia memperhatikan wajah Floren sejenak, menelusuri fitur-fitur setiap lekukan wajah Floren dan kemudian wajah Araya timbal balik. Devano tersentak kecil, mengedipkan matanya beberapa kali membuat Floren bertanya khawatir. "Kamu kenapa Vano?"

Devano mengerenyit akan panggilan Floren, "Vano?" Tanyanya memastikan.

"I--iya Vano."

"Jangan panggil gue Vano." Geram Devano rendah. Floren membeku; menundukkan kepala seraya memilin jemarinya, kemudian suara tangis terdengar. "Hiks...k--kenapa...hiks..." Devano tertegun----menghela nafas lalu menarik Floren ke dalam dekapannya.

Hei, Araya! [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang