Tiga Puluh Lima

92.6K 11K 898
                                        

Bulan berganti menjadi matahari, sinarnya mulai menerangi kegelapan langit, menutup keindahan bulan dan memberikan keindahannya tersendiri. Bintang-bintang pun ikut menghilang di telan terangnya sinar mentari pagi.

Sarapan di rumah keluarga Kesuma terasa menegangkan, di mana si anak kembar yang terdiam tidak mau ikut atau bahkan menanggapi ocehan kedua orang tuanya.

Si kembar hanya fokus pada makanan mereka hingga sampai Araya meletakkan sendoknya di ikuti Arga, seperti sudah janjian terlebih dahulu; mereka berdua berdiri secara bersamaan tanpa mengubah raut wajahnya.

"Arga hati-hati bawa motornya," pesan Regan, di angguki pasti oleh Arga. Araya menyalimi tangan Regan kemudian Arum.

"Bunda, Flo belum tau mau naik angkot apa buat ke sekolah, bisa bareng Arga aja ga?" Tanya Floren tiba-tiba yang berhasil menghentikan langkah kaki dua anak tadi.

Kedua orang itu saling pandang sejenak, "Benar juga," sahut Arum sambil menepuk dahinya.

"Arga hari ini anter Floren dulu ya? Kasian dia ga tau jalan ke sekolah dari sini, Aya bisa naik taxi 'kan?"

Belum saja Araya menolak, Arum kembali menyambungkan kalimatnya, "Nanti Bunda tambahin ongkos kamu."

"Tolong ya Arga..."

Araya berbalik menghadap Arga, "Dia atau gue?" Tanyanya to the point.

"Kita duluan," jawab Arga sembari menarik lengan Araya menjauh.

Sudah pasti Arga menolak mentah-mentah, mana mau dia menuruti Arum untuk hal satu ini, gila saja ketika harus berhubungan dengan Floren.

"Anterin Floren Arga!" Bentak Arum.

Regan menghela nafas, mulai lelah akan keadaan, memilih tidak ikut campur; Pria itu berdiri sembari membawa kopi hitamnya menuju ruang kerja. Tak lagi menghadap ke belakang, Regan merasa lama kelamaan kehadirannya sudah tidak ada harganya.

Arga sendiri terdiam masih menggenggam tangan Araya, melihat hal itu segera mungkin Araya menghempaskan genggaman Arga.

Menuju keluar rumah, sudah Araya duga sebelumnya bahwa Arga mana bisa menghiraukan perintah Arum dan ini berhubungan dengan gadis yang dia sukai.

Tertawa miris di dalam hatinya, terlalu berharap berlebihan ternyata sangat tidak berguna di dunia ini. Semuanya akan menjadi sia-sia.

Sebelum Araya hendak memanggil sopirnya, di sana, di halaman rumah, seorang pemuda berdiri seraya menyenderkan tubuhnya sedikit ke arah motor seraya tersenyum manis. Senyum yang berhasil membuat kekecewaan hatinya pudar, senyum yang selalu dia tunjukkan untuknya.

"Pagi, pacar Niko." Ujarnya sembari menekan dua kata terakhir.

Araya mengerenyit tak ayal ikut memukul lengan pemuda itu.

Niko kembali tersenyum, menyerahkan helm; tidak, maksudnya memakaikan Araya helm tak lupa juga mengikatkan jaket ke pinggangnya. Araya hanya diam menerima perlakuan Niko seperti sudah terbiasa, namun mata cewek itu sedikit membesar melihat luka di pipi kanan Niko.

Tangan Araya secara tidak sadar menyentuh pipi Niko dan bertanya, "Kok luka?" Tanyanya.

Fokus Araya hanya pada luka itu tanpa menghiraukan gerakan tangan Niko terhenti sejenak, ibu jari Araya mengusap bagian bawah luka pelan, memperkirakan apa penyebab dari luka di wajah tampan Niko.

Seumur-umur Araya tak pernah melakukan kontak fisik sejauh ini, dahulu dia selalu menatap jijik pada pria yang mendekatinya.

Kini tangan Araya merogoh saku seragamnya, ingat jika ia memiliki plester di sana.

Hei, Araya! [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang