Dua Puluh Delapan

119K 14.2K 1.6K
                                        

Hari berlalu dengan damai, Araya meletakkan tas sekolahnya di atas meja, mulai merasa curiga akan ketenangan berlanjut ini. Firasat buruk sedikit menghantuinya.

Mengingat tabiat Floren yang sudah menunjukkan bulu aslinya, tak mungkin ia akan sediam ini; entah menjadi hal baik atau bukan, Araya sedikit ragu. Hal yang paling Araya takutkan adalah hidup nyaman damainya terganggu, menjengkelkan jika harus setiap saat membersihkan hama. Rasanya sungguh memuakkan.

Sebelum Araya menidurkan kepala, ada seseorang tiba-tiba saja menarik pergelangan tangan Araya kencang mengakibatkan tubuhnya ikut berdiri; menatap kaget si pelaku yang menampilkan senyuman gila. Dia meremas pergelangan Araya, "Mereka punya aku! Kamu jangan serakah!!!" Amuknya.

Araya bingung, ini dia sakit jiwa ya? Apa coba si gila ini pikirkan, Araya lagi diam santuy kalem. Memang, ada aja kelakuan si goblok ini. Kesal Araya jadinya. "Apasih anjing, ga jelas banget hidup lo." Sentak Araya.

Menarik tangannya, sembari berdecih sinis. Tak lupa Araya mengeluarkan tisu basah, mengelap bekas kuman di pergelangan tangannya.

Tak gentar akan hinaan Araya, dia mendekati tubuh Araya membuat cewek itu otomatis mendorongnya menjauh, "Jauh-jauh, lo bau kemiskiman." Hina Araya.

"Araya sadar diri! Kamu itu perusak pemandangan!" Pekik perempuan itu, jika boleh jujur; emosi Araya sudah berada di ubun-ubun, seriusan deh, Araya emosi. "Floren sinting, lo ke psikiater deh sana. Gue udah deteksi lo bentar lagi jadi gila."

Mendengar perkataan Araya, lantas Floren tertawa. Araya bergidik, mengapa dia merasa merinding--------merasa ngeri melihat kelakuan si pemeran utama gadungan ini.

"Lo siapa?" Ujar Araya serius.

Tawa Floren terhenti, terkejut, Araya tersenyum dalam hati, seperti mendapat kartu as yang baru, dan seperti susunan puzzle yang mulai tersusun rapi untuk jalan bunganya. "Well, kenapa lo keliatan kaget banget?"

Senyum Araya terbit, namun matanya menusuk tajam, mendekatkan diri kepada Floren, "Apa....lo bukan Floren yang gue kenal?" Bisiknya.

Tubuh Floren membeku. Araya masih belum beranjak, kali ini ia memegang kedua bahu Floren, walau jijik tetapi Araya tetap melakukannya agar bisa menjatuhkan mental milik cewek itu, "Orang dunia luar tidak tau diri,"

"Kehidupan lo akan jungkir balik kuman."

Cengkraman Araya mengerat, mengakibatkan kuku panjangnya sedikit menusuk kulit Floren, "Jangan merasa jadi tuan putri--------karna lo bukan siapa-siapa."

Kemudian Araya mendorong ke belakang tubuh Floren pelan, menepuk nepuk tangannya beberapa kali seakan sedang membersihkan debu, mendudukkan bokongnya di atas meja, menyilangkan kaki; masih menatap tajam Floren hingga Devano, Arga serta Radit memasuki kelas.

"Angkut nih bidadari kesayangan kalian, ganggu pemandangan mulu soalnya gue ga mau ketularan munafiknya." Ucap Araya blak-blakkan. Tanpa perduli apakah ucapannya menyinggung atau tidak.

"Mulut lo kasar banget sih, jaga dong omongan lo." Kesal Radit. Araya mendengus, "Komentarin hidup orang mulu, manding lo move on sana, jangan ngemis-ngemis ke Bela lagi."

Memutar bola matanya, Araya segera melanjutkan, "Eneg gue liat lo spam chat Bela buat ngajakin balikan, ga punya harga diri lagi ya."

Radit menggertak giginya, merasa terhina.

"Semenyedihkan apapun lo, Bela ga akan mau balikan, dia nerima lo juga karna gue minta. Seharusnya sadar diri ya miskin, hebat lo, kaga...."

Araya turun dari mejanya, mendorong tubuh Floren agar menjauh lebih cepat, "Bawa nih peliharaan kalian, jauh-jauh dari area kekuasaan gue."

Hei, Araya! [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang