Langit sudah mulai merubah warnanya, teriknya matahari mulai sedikit demi sedikit bersembunyi, awan-awan menutupi matahari menghalau sinarnya. Araya sudah duduk nyaman di dalam mobil Viano.
Ponsel di telinganya menempel, "Harusnya gue bicara langsung sama lo, tapi sekarang gue harus siap-siap mau pergi lagi."
"Iya, pokoknya nanti lo pantau berita aja oke."
Araya memindahkan ponselnya ke telinga lainnya, dia memandangi jalanan dari kaca pintu, "See yaa Bel,"
Tut
Panggilan segera di putus oleh Bela.
Araya membuka aplikasi kameranya untuk mengambil gambar jalanan, beberapa kali dia ambil jepregan gambar kemudian memilih yang paling bagus menurutnya.
Mobil mewah Viano berhenti di halaman rumah Kesuma, melihat rumah tersebut Araya jadi malas, sudah tau apa yang akan terjadu sebentar lagi ketika ia menginjakkan kaki ke dalam.
Floren itu defenisi manusia tidak tau malu dan tak pernah belajar dari kesalahan, sebelum Araya menghancurkannya maka tidak akan ada kapoknya dia menganggu Araya.
Turun dari mobil tersebut; kaki Araya melangkah masuk ke dalam rumah. Tentu saja dia sudah di sambut oleh senyum menyebalkan Floren.
Anak itu sepertinya habis berbelanja bersama Arum, nampak sebab banyak bungkusan paper bag di ruang tamu. Floren tersenyum menyilangkan kakinya, mulut perempuan itu bergerak mengunyah permen karet, Araya menghiraukan dan melanjutkan langkahnya menuju lantai dua.
Ia akan mulai berbenah barang, tentu saja barang yang dia beli menggunakan uang Viano.
Tadi sebelum pulang---Viano sudah memberi tau kepadanya agar bersiap-siap pasalnya dia akan mulai tinggal bersama Papa kandungnya itu. Viano mana mau Anak semata wayangnya tinggal bersama manusia hina seperti Arun lagi.
Arga yang kebetulan berjalan ingin menuju lantai satu lantas terdiam sebab melihat Araya memasukkan beberapa barangnya ke dalam koper. "Mau kemana?" Tanya Arga heran.
Laki-laki itu ikut masuk ke dalam kamar, memperhatikan Araya yang masih sibuk menyusun barang.
"Lo mau pergi? Kenapa?"
Arga menahan tangan Araya agar berhenti memasukkan figuran foto ke dalam koper.
"Mau ke rumah orang tua gue, pake tanya lagi." Sarkas Araya menarik kembali tangannya. Arga terdiam kaku, "Ay, rumah lo di sini..."
"Gue bukan anak keluarga ini, tempat gue bukan di sini Arga."
"Tapi lo Adik gue."
Arga kecewa...
Mengapa saat dirinya ingin berubah---orang yang mengubahnya pergi? Mengapa selucu ini. Perempuan yang pernah dia sukai adalah Adik kandungnya. Tetapi ada kabar baiknya juga...Arga bisa memiliki Araya bukan?
Ponsel Araya bergetar, menampilkan nama Niko di layar. Buru-buru Araya menjawab panggilan dari Niko, "Halo?"
"Pengen peluk..."
Meletakkan ponselnya ke atas tempat tidur, Araya membesarkan volume panggilan, "Kangen,"
Arga masih mendengarkan, sesekali dia membantu Araya memasukkan barangnya ke dalam koper.
"Ga usah alay, jaga Tante aja sana."
"Mama lagi bikin kue Ay, ke rumah dong bantuin Mama."
"Mama minta bantu atau lo pengen ketemu?"
Niko tertawa ringan, "Gue mau berberes dulu, nanti gue hubungi lagi."
"Ay..."
Tut
KAMU SEDANG MEMBACA
Hei, Araya! [End]
Roman pour AdolescentsYang engga vote, durhaka kalian...masuk neraka jalur vvip🙏 [Chapter lengkap] __________________ Selesai mengerjakan skripsi, Rana merebahkan tubuh di atas kasur sederhananya. Sebelum dia terlelap merehatkan tubuh; Rana menyempatkan diri untuk memba...
![Hei, Araya! [End]](https://img.wattpad.com/cover/212899113-64-k696027.jpg)