Empat Puluh Dua

93.9K 10.8K 1.4K
                                        

Arum membuka berkas hasil tes DNA dari Rumah Sakit yang sudah beberapa hari lalu ia ambil, tangannya sedikit bergemetar membuka map tersebut satu persatu.

Sekarang dia baru saja sampai di hotel Bandung, Regan sendiri sedang berada di perusahaan cabang, suaminya itu terlihat sangat kelelahan sebab masalah yang terjadi. Sudah terlihat bahwa cabang di Surabaya sudah tidak dapat di selamatkan karena korupsi yang terjadi sangat besar. Melebihi perkiraan Regan sendiri.

Kembali pada map tersebut, Arum menutup mulutnya kaget, DNA Regan tidak terdapat pada data di map Araya melainkan ada pada Floren. Kertas tersebut lantas terjatuh ke atas lantai.

Mata Arum menatap ke depan, pandangannya kosong. Jadi---selama ini ia mengurus anak siapa?

Anaknya....putrinya sudah di tukar!

Pantas saja Arum heran sebab bagaimana bisa bayi yang harusnya lahir di waktu yang tepat di katakan oleh petugas medis lahir prematur? Mustahil! Bodohnya lagi saat itu mereka hanya setuju saja.

Berarti benar bahwa anaknya di tukar dengan sengaja.

Jadi, Araya anak siapa?

Tling

Unknown
| tunggu balasan atas perbuatanmu kepadanya

Tangan Arum gemetar, dia segera melemparkan benda pipih tersebut menjauh, merasa seperti sedang di awasi seseorang, lantas Arum melihat sekitarnya panik. Baru kemudian mengambil ponselnya sebab ada suara notifikasi masuk. Perlahan dia membukanya.

Unknown
| jangan terlalu panik
| pembunuh

Nafas Arum memburu, apa maksudnya ini?

Mengapa pesan ini membuatnya takut setengah mati.

Unknown
| ingat dosamu saat mendorong Arun
| jangan lupakan dosa itu
| atau saya akan mengulangi kejadian tersebut menggunakan tubuhmu

Arum tidak kuat lagi, dia mematikan ponselnya, mengambil kartu dari slot dan segera membuangnya. Namun tanpa Arum sangka-sangka...layar televisi yang tadinya menunjukkan berita terkini sekarang berubah secara otomatis, layar hitam gelap lalu muncul tulisan mengerikan.

Saya akan kejar sampai ke neraka dan menarikmu kembali ke dunia ini,

jadi sesali kematian saudari kembarmu sampai saya datang

Setelahnya Arum pingsan melihat rekaman CCTV lampu merah, di mana menampilkan dua orang wanita hamil hendak menyebrang, di sana terlihat Arum mendorong seorang wanita yang berada lumayan dekat dengan jalanan di saat kendaraan melaju kencang. Ketika berhasil mendorong---bukannya menghunungi ambulan; Arum berbalik tanpa rasa bersalah.

Arum ingat, itu benar dirinya dan kembarannya Arun.

Mengapa?

Rekaman ini bukannya sudah menghilang?!

Bukti kuat ini seharusnya sudah musnah!!

Arum tak sadarkan diri hingga Regan masuk ke kamar hotel tempat mereka menginap.

-o0o-

"Bunda ga apa-apa 'kan?" Tanya Arga khawatir,

"Iya, Ayah jaga kesehatan juga." Selama Arga berbincang di telepon, sesekali juga dia memperhatikan raut ketidak perdulian Araya.

Sambungan di putus oleh Regan, kini kedua anak manusia itu saling pandang sejenak dan mendesah, "Gimana?" Tanya Araya kalem.

Cewek itu sedang menatap layar laptop yang menampilkan series film kesukaannya yaitu Resident Evil, Araya bersyukur bahwa film ini juga ada di dunianya yang sekarang.

Hei, Araya! [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang