Lima Puluh Satu

86.6K 9.5K 1.2K
                                        

Araya menunggu Niko di halte bersama Eka dan Bela, mereka bertiga berbincang tentang rencana Araya kelak. Tentu saja dia tidak akan membuka rencananya di sini, ia hanya berkata akan menjalankan rencana kedua.

Dan mungkin nanti malam Araya akan mengajak mereka berdua untuk menginap di rumahnya saja agar lebih leluasa membahas semua hal.

Seusai mendapat balasan pesan dari Viano tadi segera Araya mengantungi ponselnya.

"Nanti gue spill alamat baru di grub chat." Kata Araya, Eka mengguk saja, "Ini seriusan gue boleh ikut?" Tanyanya memastikan.

Bela segera merangkul teman barunya, "Yaelah, yakali boongan. Santai aja, Aya doang ini."

"Lama-lama gue robek mulut lo Bel." Jengah Araya.

Bela tertawa saja, Eka berdehem, dia lumayan suka melihat interaksi kedua sahabat ini makanya Eka sangat ingin bergabung semenjak dahulu tetapi baru kesampean sekarang.

"Btw kita lusa belanja kuy, kan senin sampai rabu bakal ke bandung buat acara tahuanan itu." Ajak Bela, Araya mengedik, "Gue skip ah,"

"Pala lo gue skip. Ikut jangan banyak bacot."

Araya berdecak, malas, enakan di rumah bukan? Rebahan cantik, netflix, chill. "Males ah," tolak Araya lagi.

Eka menyela, "Kelompoknya bebas Ar, maksimal lima orang nanti kita tinggal cari dua lagi." Saran Eka.

Araya mengernyit mendengar panggilan Eka, entah mengapa seperti Eka sedang berbicara dengan Arga, "Aya aja, lo Ar, Ar, berasa manggil Arga."

"Boleh?" Eka menggaruk tengkuknya, Araya memutar bola matanya malas, "Boleh gue sambit ga Bel?"

"Gue ngambek, ga usah ajak gue ngomong!"

Mendengar perkataan Bela---Araya jadi miris pada diri sendiri, mengapa bisa berteman dengan orang idiot seperti Bela coba, sedangkan teman baru satunya terlihat seperti orang bodoh.

Rasa frustasi melanda bertepatan dengan kehadiran motor sport hitam metalic berhenti tepat di hadapannya, dari postur tubuh dan motor sudah di pastikan bahwa si pengendara adalah Niko. Dia membuka helmnya, "Duluan ya gais." Pamit Araya.

Saat ia menerima helm dari Niko, dari arah belakang Bela beteriak, "Awas kalau lo ga join, gue rujak pala lo Ay!"

Araya mendengarnya hanya memberikan jari tengah kepada Bela, enak saja mau merujak kepalanya. Niko mengernyit heran, "Join kemana?"

Menaiki motor Niko, Araya mendesah, memberikan tatapan tajam pada Bela, "Acara tahunan yang lo bilang, ke Bandung 'kan? Mau skip."

"Niko, jangan di kasih skip! Pacar lo kek babi lama-lama, malas betul." Sambung Bela.

Eka hanya tersenyum saja.

"Ikut aja, nanti aku traktir bakso 'kaya kemarin. Mau?"

"Gue juga bisa beli sendiri!"

"Tiga mangkok Ay."

Mata Araya berbinar, "Deal ya, kalau lo bohong gue pastiin lo yang jadi bakso!"

"Bel, Aya udah join!" Beritahu Niko pada Bela, mereka berdua saling memberikan jempol.

"Ga waras kalian berdua."

-o0o-

Sesuai dugaan, ketika mereka memasuki halaman lumayan sederhana di Jakarta pusat itu, mata Araya langsung di sungguhi pemandangan tanaman herbal menghiasi beberapa titik rumah.

Hei, Araya! [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang