Setelah menjadi ketua dari sebuah organisasi mafia di Italia, Wang Yibo kembali ke Zhuhai, tanah kelahirannya, untuk satu tujuan. Di kota itulah semuanya justru dimulai. Dia bertemu sesosok muda mempesona yang memiliki kesamaan nama dengan saudara y...
Cinta terkadang bisa menjadi racun tapi juga bisa menjadi obat. Mencintai seseorang itu mudah tapi melupakan seseorang itu sulit.
Kenangan mengalir bagaikan air, semakin ingin melupakannya maka semakin kuat kenangan itu bergerak. Begitupun cinta.
Hanya hati yang tulus yang bisa mengobati kenangan pahit.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[Wang Yibo / Prince, ketua organisasi siber, The Violence ]
🤍🤍🤍
___ Love in Zhuhai by AR Yizhan ___
___ Happy Reading ___
Menara putih itu berdiri di sisi jembatan yang membentang membelah laut Zhuhai, berdiri megah di antara gemerlap malam. Tangga putih melingkar membentuk undakan rapi mencapai puncak yang dinaungi atap berbentuk persegi. Tiang-tiang tinggi berukir yang terpancang serta batas yang dihiasi ukiran timbul. Dua pemuda duduk bersama, berhadapan menempati batas pagar tembok dan bersandar pada tiang. Pada masing-masing tangan mereka tergenggam satu gelas goblet berisi minuman kuning terang. Sementara satu botol berbentuk persegi teronggok di depan keduanya.
Mata keduanya menatap ke kejauhan dimana laut Zhuhai yang luas dan beriak merefleksi ribuan cahaya dari gedung-gedung diatas permukaan bumi. Langit malam menaungi kota yang bercahaya oleh ribuan lampu berkerlip. Tanpa ada perbincangan yang mengisi keheningan, keduanya hanya melayangkan tatapan ke kejauhan. Sesekali menikmati cairan kuning dari gelas dengan mata yang menerawang seolah hanyut dalam pikiran masing-masing.
Helaan nafas yang mengiringi setiap gerakan mereka mengubah posisi salah satu pemuda berpakaian serba hitam. Wajahnya yang sedikit memerah menoleh pada sosok tampan dalam balutan serba putih yang masih menatap tak berkedip ke tengah lautan sana.
“Aku baru sadar minuman keras ini terasa pahit,” tangannya menggoyangkan kaki goblet hingga cairan di dalamnya bergelombang pelan.
Pemuda tampan yang diajak berbincang hanya kembali mengisap sedikit minuman keras. Menghela nafas sesaat sebelum suaranya yang berat mulai terdengar.
“Pahit atau tidak, itu hanya minuman, tidak akan mengubah kebiasaan seseorang. Kita tinggal minum dan menelannya, apakah hal itu sangat berpengaruh pada kesehatan? Kenapa tiba-tiba kau mempermasalahkan hal itu?”
“Hei...” pemuda berpakaian hitam menampilkan seringai geli. “Dimana selera humormu? Semenjak datang, kau sangat berubah. Kau lihat wajahmu!” telunjuknya terarah pada hidung si pemuda. “Warna mukamu seperti orang yang baru saja patah hati.”
Sosok berpakaian serba putih yang dilapisi mantel panjang warna abu tua berbahan katun itu menoleh, matanya yang hitam setajam tatapan elang tertuju pada pemuda berwajah imut yang tersenyum. Sekian detik keduanya hanya saling melempar pandangan sampai ia kembali menghadap ke depan disaat kalimat ambigu keluar dari sosok imut tersebut.