Setelah menjadi ketua dari sebuah organisasi mafia di Italia, Wang Yibo kembali ke Zhuhai, tanah kelahirannya, untuk satu tujuan. Di kota itulah semuanya justru dimulai. Dia bertemu sesosok muda mempesona yang memiliki kesamaan nama dengan saudara y...
Setiap cerita punya masa, setiap kisah punya akhir. Entah itu berakhir baik meninggalkan kenangan pahit.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___ Happy Reading ___
🤍🤍🤍
[Danau Mutiara, Vida Rica]
Hangatnya matahari sore mengiringi langkah Xiao Zhan yang berjalan di jembatan kecil, sedikit melengkung menghubungkan sisi danau. Hembusan angin dari pepohonan yang bergoyang membawa arahnya menyapa tubuhnya yang dibalut setelan kaos berleher tinggi dan satu mantel panjang warna cokelat tua. Matanya yang bening memperlihatkan sorot cemerlang dan binar bahagia melihat sosok yang berdiri di tengah jembatan.
Wang Yibo menyandarkan pinggang membelakangi pembatas jembatan, dandanannya yang khas dengan balutan serba putih dilapisi lagi oleh mantel hitam. Ujungnya menggeletar efek hembusan kencang dari angin sore yang menimbulkan riak air pada permukaan danau. Rambutnya yang tidak terlalu diatur dengan rapi menyisakan surai yang bergerak-gerak dan jatuh di sisi kening. Dia menoleh sewaktu mendengar langkah kaki dari suara sepatu yang menyentuh lantai kayu jembatan. Senyum manisnya tersungging melihat Xiao Zhan yang kini tinggal dua langkah lagi menghampiri dirinya.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh ramping Xiao Zhan kini sudah berada dalam pelukan lengan Yibo. Ia melingkari leher dengan penuh kerinduan, bibir tipisnya sesaat menyentuh kulit leher.
“Aku merindukanmu,” bisikannya menyertai kecupan lembut yang ia lakukan.
Senyum Yibo semakin lebar mendengar ungkapan kerinduan dan kecupan di leher. Ia memeluk tubuh dalam kuasanya erat-erat, menyalurkan rasa mereka yang bergelora. Sebelumnya ia tidak bisa menjawab pertanyaan Haoxuan tentang perasaan terhadap Xiao Zhan. Terus terang ia akui sedikit sulit untuk menumbuhkan kepercayaan, ditambah ia belum mengetahui jati diri Xiao Zhan. Tetapi hatinya tidak bisa berbohong bahwa ia merindukan kehadirannya dan bahagia merasakan sentuhannya sewaktu pria manis itu menghambur ke dalam pelukan. Ia merasakan suatu kehangatan yang membuatnya nyaman.
Tanpa melepaskan lingkaran tangan pada leher Yibo, Xiao Zhan merenggangkan pelukan, menghadap sosok tampan yang langsung menguasai hatinya.
“Kau tidak pernah menghubungi,” ucapannya sedikit menuntut. “Apa kau tidak merindukanku?”
“Apa yang harus kukatakan?” Yibo menyentuhkan ujung hidung mereka. “Bahwa aku juga selalu memikirkanmu? Aku ingin menarikmu dari tangan pria yang mengikatmu? Apa itu cukup memuaskanmu?”
“Tidak,” bisik Xiao Zhan. Telapak tangannya meluncur membelai sisi wajah putih dan halus diiringi tatapan sayu miliknya. “Kau tidak pernah mengatakan bahwa kau mencintaiku. Apakah kau memiliki cinta itu untukku?”