Setelah menjadi ketua dari sebuah organisasi mafia di Italia, Wang Yibo kembali ke Zhuhai, tanah kelahirannya, untuk satu tujuan. Di kota itulah semuanya justru dimulai. Dia bertemu sesosok muda mempesona yang memiliki kesamaan nama dengan saudara y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tujuh bulan kemudian
Roma, Italia
Di kediaman Hexia yang mewah dan terjaga dengan ketat, Xiao Zhan berjalan dalam langkah lebar berbalut mantel hitam selutut. Satu tas selempang yang juga berwarna hitam tersampir di bahu. Parasnya yang teramat putih dan mempesona dibingkai rambut hitam yang ditata sedikit acak di bagian depan dan basah efek pomade. Ia melewati lorong luas yang dibatasi beberapa tiang tinggi berukir, dilengkapi barang-barang berharga dan unik. CCTV menyebar di setiap sudut. Ia terus melangkah sampai satu panggilan menghentikan suara hentakan sepatunya pada lantai bercorak bunga Lili.
"Sean?!"
Suara sang ayah yang selalu memanggil nama lain membuatnya menolehkan wajah.
"Ini masih pagi. Ke mana kau akan pergi?" Ketua Ma berjalan menghampiri, memandangi penampilan putranya dengan senyum di bibir.
"Ada pertemuan pagi dengan pihak Remaco Record. Aku diharuskan untuk hadir," sahut Xiao Zhan. Ia diam terpaku tanpa berniat mendekati sang ayah.
Ketua Ma tersenyum lebar. Gelengan kepalanya tercipta sambil menepuk-nepuk bahu Xiao Zhan.
"Kau melampiaskan kekesalan pada pekerjaan. Setiap hari pergi pagi pulang malam. Apa sekarang kau tidak punya waktu buat ayah?"
"Ayah, aku benar-benar sibuk. Ayah tahu sendiri, setahun lebih aku meninggalkan pekerjaan di sini. Sekarang aku harus kembali mengurus yang sempat terbengkalai," jawab Xiao Zhan, mencoba mencari alasan.
"Ya, ya. Ayah mengerti," ketua Ma membalas, lantas merangkul bahu Xiao Zhan sambil mengiringi berjalan menuju pintu utama mansion. "Tapi dalam tujuh bulan ini, emosimu selalu tak terkendali. Jangan sampai kau lampiaskan pada orang-orang yang tidak bersalah di sekitarmu hanya karena kau marah pada Yibo. Mungkin dalam beberapa hari lagi dia akan datang menemuimu."
"Tidak datang juga tidak masalah. Bukankah memang dia tidak pernah menginginkanku?" Xiao Zhan merajuk. Wajahnya ditekuk habis dengan bayangan kekasihnya yang kini masih di Zhuhai.
"Benarkah tidak masalah? Bagaimana kalau ayah biarkan saja dia di Zhuhai? Atau ayah kembalikan dia ke Napoli?"
"Ayah?!"
"Bukankah tidak masalah? Tanpa dia di sini pun, ayah ada penerus untuk menjaga keluarga besar kita, yaitu dirimu. Kau akan menggantikan ayah jika suatu saat nanti ayah sudah tidak bisa memimpin," kerling ketua Ma.
"Ayah dan Yibo sama saja," gerutu Xiao Zhan. "Aku tidak pernah ingin jadi pemimpin, dan aku tidak ingin ditinggalkan ayah."
"Berarti tidak masalah ditinggalkan oleh Yibo?" goda ketua Ma.
"Ayah?!"
Xiao Zhan nyaris menyentak ayahnya sambil menepis pegangan di bahu. Wajahnya merah padam dan berdiri kaku di dekat pintu mansion yang terbuka lebar. Dua pintu cokelat tua berukir itu dijaga oleh dua pengawal.