Take into account that great love and great achievements involve great risk.
__
BARUSAJA kaki jenjang itu melangkah masuk, seketika kakinya terdiam di tempat. Terpaku, kala melihat siapa yang tengah duduk di ruang tamu tersebut. Arka mengeraskan rahangnya, dan berusaha menghiraukan Pria itu. Ketika sepasang kaki itu hendak melangkah lebih jauh, suara berat ciri khas yang memuakkan ditelinga Arka terdengar jelas dan menggema diseluruh ruangan itu.
"Darimana saja kamu, Kresna."
Lelaki itu tak berniat menjawabnya, dan hendak menaiki anak tangga. "Saya ulangi sekali lagi.. Darimana saja kamu!" ucap Chandra memberi penekanan pada ucapannya. "Darimananya saya bukan urusan anda!" jawab Arka.
"Tidak sopan kamu!"
Sepasang kaki itu mengarah ke arah tujuan yang berbeda, mendekati seorang Pria dengan seragam putih yang kini berdiri dengan tegap di hadapannya. "Tidak sopan anda bilang? Apa kabar dengan Anda yang tidak pernah sopan kepada anaknya sendiri?" ujar Arka menatap tajam ke arah sang Pria yang notabenenya "Ayah" dari Arka.
"Jaga omongan kamu, Kresna!"
Lelaki itu mengeluarkan senyum smirk nya, dan memundurkan diri dari hadapan lelaki itu. Melangkah menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya.
***
Sebuah mobil sport berwarna merah, barusaja tiba disebuah Sirkuit. Sang pengemudi menurunkan kaca mobilnya kala melihat seseorang mendekat ke arah mobilnya, "Hari ini latihan dulu aja puterin sirkuit ya 3 kali putaran cukup." ucap Seorang pria berumur 25 tahun ke atas.
"Ok," ucapnya menutup kaca mobil dan menggeber knalpot.
Dengan hitungan detik mobil sport merah itu sudah jauh berada di ujung jalanan yang berlika-liku itu. Sementara, beberapa kru yang juga bagian tim dari kepemilikan brand sport ternama yang juga sudah sering mengatasi acara-acara balap sport yang akan dimulai beberapa bulan kedepan. Tengah memantau mobil tersebut.
Sang pengemudi terus menerus menambah kecepatannya dan tak lupa sesekali menggeberkan knalpot mobilnya. Setelah melakukan 3x putaran, akhirnya sang pengemudi turun dari mobilnya untuk menyapa kru-kru yang kini tengah sibuk mengerjakan beberapa alat mesin mobil. "Oy!" sapanya sambil bertos.
"Ck! Sombong amat lo baru kesini sekarang."
Seseorang itu terkekeh, "Biasa, bokap. Ribet." tuturnya mendapat anggukan paham oleh kru-kru yang lainnya.
"Itu buat balapan ntar, doi bakalan tau gak lo ikutan? Izin dulu lah bray, sebelum kena omel." ucap salah satu kru yang juga seumuran dengan sang pembalap.
"Gampang, ntar boong aja." jawabnya enteng,
Para kru disana hanya menggelengkan kepala mereka, "Suka banget bocahnya nyari masalah, kalo ada apa-apa kita semua gak tanggung jawab ya!" ucap lelaki itu memperingatkan.
"Aman."
//
Selasa pagi, di dukung dengan panasnya matahari pagi yang kini berubah menjadi sendu dan teduh dikala hujan datang. Rintik hujan yang kini mulai deras membasahi jalanan ibu kota, serta teduh senyap yang hanya terdengar kicauan burung, suara awan bergemuruh, dan juga suara kendaraan yang masih berlalu lalang menuju tempat kantor, kuliah, dan juga sekolah.
Mobil Range rover putih, terparkir rapih di parkiran sekolah. Gadis itu terdiam sejenak di dalam mobilnya dikarenakan hujan yang sangat deras kini mutlak membasahi jalanan. Membuat Tsabina kebingungan karna tidak bisa turun dari mobil, dikarenakan ia lupa membawa payung.
"Duh, ujan nya gede banget lagi. Gimana gue mau ke kelas kalo deras gini." ucap Tsabina diiringi dengan alunan musik di dalam mobilnya.
Tak lama sebuah ketukan dari arah kaca mobilnya terdengar, membuat sang gadis melirik dan sedikit ketakutan. "Ini siapa sih- APA JANGAN JANGAN MALING?! Kurang ajar ya nih maling, gue lagi diparkiran ya bukan di pinggir jalan masih sempat-sempatnya loh mau maling! Dari mana lagi nih maling masuk ke sekolahan gue." kesal Tsabina,
TOK TOK TOK..
Ketukan itu terus menerus terdengar ditelinga Tsabina, dengan segenap keberanian dan kemampuan yang Tsabina miliki. Gadis itu akhirnya menurunkan kaca mobilnya sedikit untuk melihat siapa orang yang sedari tadi mengetuk kaca mobilnya. Namun sayang, ia tetap tidak melihat wajah seseorang itu karna ia memakai payung yang menutupi wajahnya.
"SIAPA LO?! LO MALING YA?!" celetuk Tsabina menatap tajam.
"Sa, ini gue, Jevano." ucap sang laki-laki memperlihatkan wajahnya dari balik payung.
Tsabina melotot, "Jev? Yaampun sorry gue kira lo maling yang mau nyuri kaca spion mobil orang." tuturnya membuat Jevano sedikit merasa geli di bagian perutnya.
"Sorry juga gue tadi langsung ngetok kaca mobil lo, tadi gue kebetulan juga abis markir mobil. Terus gue ngeliat mobil lo masih nyala, gue pikir lo lupa matiin makanya gue ketok dulu buat mastiin ada orang apa engga."
Gadis itu mengangguk paham, "Duh jadi gak enak gue nuduh lo maling," jawab sang gadis lagi-lagi membuat Jevano terkekeh geli. "It's okay. Btw, lo gak ke kelas?" tanya Jevano.
"Ke kelas, tapi gue bingung mau masuknya gimana soalnya persediaan payung di mobil gue lupa di bawa jadi gak bisa turun."
Jevano mengangguk dan melirik ke arah payungnya, "Yaudah pake payung gue aja." balasnya hendak menyerahkan payung berwarna abu-abu tua.
"Eh, nggak usah gapapa. Pake aja gue nunggu agak reda aja nanti ujannya."
Jevano nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mendapat ide yang cemerlang. "Lo sama gue bareng aja, pake berdua biar adil. Payung gue lumayan gede kok muat ini berdua," ajak Jevano mendapat anggukan oleh Tsabina. "Tunggu bentar ya Jev, gue beresin barang-barang gue dulu." ucap sang gadis.
Keduanya kini berjalan disepanjang derasnya hujan, dibawah payung. Setelah menempuh hujan, kini keduanya sudah berada di depan ruangan piket sekolah atau biasa yang dikenal sebagai tempat informasi mengenai lingkungan sekolah. Dari arah dalam ruangan, seorang lelaki melihat sepasang orang barusaja berteduh didepan ruangan tersebut, rasa penasaran mengenai lelaki yang bersama dengan gadis itupun membuat Arka keluar dan menyapa sang gadis.
Belum sempat Arka menyapa, Tsabina lebih dulu melihat keberadaan Arka disana. "Lo berdua telat masuk kelas. Gurunya udah masuk." tutur Arka membuat Tsabina mengerutkan dahinya.
"Ujan kali, gak liat? Buta lo? Lagian urusannya apa kalo gue sama dia telat masuk kelas?" cibir Tsabina tak suka,
Jevano hanya melihat pertengkaran kecil diantara keduanya sembari ia menutup payung berwarna abu-abu itu. "Makanya jangan ngaret kalo ke sekolah." ucap sang tuan. "Siapa lo ngatur-ngatur gue?" balas Tsabina nyolot.
"Ck! Udah deh Jev, kita cabut aja. Disini ada orang RESE!" Tsabina menekan kata terakhir tersebut kepada sang tuan dengan tatapan tajam.
Selama menyusuri lorong koridor, Jevano, terus menerus memperhatikan gadis yang berjalan disampingnya. "Yang tadi siapa, Sa?" tanyanya. "Oh itu. Anak kelas sebelah, orangnya emang agak rada-rada sih." kata Tsabina,
"Gila, maksud lo?" teka Jevano membuat Tsabina terkekeh kecil. "Nggak gila, tapi nyebelin doang." ucap Tsabina final.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
BUTTERFLIES
Teen Fiction( WHAT DOES HOME MEAN TO YOU ? ) Mempunyai wajah tampan memanglah idaman setiap makhluk yang ada di muka bumi ini. Begitu pula dengan lelaki dengan wajah tampan dan sikap dingin yang sudah mutlak dalam dirinya, hanya kata itu yang paling cocok mende...
