13. Speechless

2K 294 21
                                        

Tolong bantu cek typo. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komen.

Happy reading...







Winta mengerjapkan matanya beberapa kali guna menyesuaikan kilau lampu di kamarnya. Kepalanya pening dan badannya terasa dingin. Tangannya menyentuh dahi karena merasakan ada yang aneh. Ternyata ada plester penurun demam. Dia menyibak selimut tebal yang mengurung tubuhnya. Matanya membulat seketika melihat Nana tidur di sebelahnya.

Otak Winta memutar ulang kejadian tadi sore. Seingatnya dia tidak bisa menghubungi Nana karena HP-nya lowbat. Lalu dia memutuskan untuk menunggu Nana saja di depan gedung FH. Tapi Nana tidak kunjung datang, sehingga Winta memutuskan untuk berjalan kaki menuju pangkalan angkot di gerbang depan kampus. Sayangnya, tiba-tiba hujan deras dan membuatnya basah kuyup. Lalu dia pingsan saat bertemu Nana. Mata Winta mengedar pada piyama motif sakura yang dipakainya. Padahal sebelum pingsan dia jelas-jelas mengenakan kemeja biru dan celana kulot abu-abu. Otaknya semakin berpikiran aneh-aneh.

"Huaaa!!! teriak Winta membuat Nana terbangun.

Winta bukan hanya kaget Nana tidur di sebelahnya, tapi juga kaget dengan piyama yang sekarang menempel di tubuhnya. Jadi, siapa yang memakaikan piyama ini di tubuhnya? Jangan bilang ... Nana. Winta jadi bergidik ngeri.

"Huaaaa!!! Nggak mungkin!" teriaknya lagi. Nana auto menegakkan tubuhnya dengan mata yang masih menahan kantuk.

"Kenapa, Win? Ada yang sakit?" tanya Nana sedikit panik. Namun, sebagai calon dokter dia tetap mencoba bersikap tenang. "Win, ada yang sakit?"

"MAS, INI SIAPA YANG GANTIIN BAJU GUE?" tanya Winta heboh. Panik sendiri kalau yang mengganti bajunya Nana.

"Bunda, Win. Tadi Bunda ke sini bentar pas gue telepon ngabarin lo pingsan. Tadi Bunda jengukin lo."

"Hah, serius?"

"Iya, Winta."

Winta mengembuskan napas lega. "Gue udah kepikiran aneh-aneh tadi, Mas."

Nana tersenyum miring. "Baru gitu aja heboh. Untung gue nggak nyaplok lo."

"APA?"

"Nggak, kok. Nggak ada."

Winta melempar Nana dengan gulingnya. "Terus Mas Nana ngapain tidur di sini?"

"Gue tadi niatnya nemenin lo sampe sadar. Eh, tahunya malah ketiduran di sini," jelas Nana berbicara apa adanya. Faktanya memang tadi Nana ketiduran di sini saat menemani Winta. Maklum juga Nana kelelahan sehabis koas dan menemani Shaila.

"Lo nggak ngapa-ngapain gue, kan?" tanya Winta.

"Enggak, Winta. Ya ampun, lo jadi orang curigaan banget, sih."

Winta melotot tajam. "Gue dipaksa nikah muda gara-gara lo tidur di sebelah gue, Mas. Jangan sampai sekarang gue kena apes lagi kalau lo tidur di sebelah gue."

"Tenang dulu, Win. Lo panikan banget, sih," timpal Nana.

"Gue takut hamil tahu!" balas Winta semakin sengit. Namun, Nana malah tergelak.

"Gue nggak ngapa-ngapain lo mana bisa hamil? Emangnya bikin anak tuh gampang kayak bikin telor ceplok?" sahut Nana.

"Bikin telor ceplok susah, Mas. Soalnya gue nggak bisa masak," balas Winta. Nana malah terkikik.

"Ya udah lah. Pokoknya gue nggak nyentuh lo, kok."

"Haciwww... haciwww!" Winta mendadak bersin-bersin. Ia mengusap hidupnya yang memerah. Lalu terbatuk beberapa kali.

Young CoupleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang