14. Obrolan dengan Jeano

1.9K 266 22
                                        

Tolong bantu cek typo ya. Jangan lupa vote dan comment. Bagi yang belum follow aku, yuk difollow. Hehehe


Happy Reading...





Ada alasan kenapa Nana akhir-akhir ini lebih perhatian pada Winta. Tentu saja karena belakangan ini ayahnya sering menerornya lewat pesan atau pun telepon. Ayah selalu berpesan kepada Nana untuk menjaga Winta dan pesan-pesan ala bapak-bapak lainnya. Nana sendiri merasa cringe dengan pesan-pesan itu, tapi mau bagaimana pun ayahnya itu punya maksud baik. Dan Nana bukan tipe-tipe anak durhaka yang akan membangkang orang tuanya. Sekali pun dia korban broken home.

"Jadi, Mas Nana udah tahu, dong?" tanya Winta usai Bunda pamit pagi ini. Kemarin Bunda memang menginap di sini untuk menemani Winta. Setelah Nana pulang dari koas, Bunda kembali ke rumahnya sendiri.

"Tahu apa, sih?"

"Ya itu...." Winta ragu mengatakannya. "Mas Nana kan yang gantiin baju aku."

"Oh, itu," balas Nana singkat tanpa menjawab.

"Mas Nana udah tahu, dong?" tanya Winta lagi karena belum dapat jawaban.

"Udah. Terus kalau gue udah tahu kenapa?" ganti Nana yang bertanya.

"AAAAA! GILA! INI NGGAK MUNGKIN!" teriak Winta heboh.

Nana yang baru saja selesai mandi usai pulang koas langsung mendekat ke Winta. "Takut gue apa-apain?"

"Iya. Jangan-jangan lo grepe-grepe gue. Atau jangan-jangan lo ...." Pikiran Winta melayang ke mana-mana. "AAAAA! INI PELECEHAN."

"Nggak usah lebay. Gue nggak apa-apain lo, kok. Nggak minat juga gue sama lo. Jangan asal ngomong pelecehan."

"Bohong!"

"Astaga, Winta. Gue ini anak kedokteran. Udah sering lihat badannya manusia sampai ke dalam-dalam. Jadi, nggak nafsu gue sama lo. Dan lo bukan tipe gue juga."

"Serius?"

"Dua rius malah."

"Awas kalau lo bohong, Mas. Sesuai KUHP pasal 290, barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang, padahal diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya. Maka, diberi hukuman selama-lamanya tujuh tahun penjara," jelas Winta ngegas menyebut dalil yang dipelajarinya dalam KUHP.

Nana geleng-geleng kepala. "Ngeri juga nikah sama anak hukum. Dikit-dikit dikaitkan pasal-pasal."

"Ya kan gue waspada."

"Gue beneran nggak ngapa-ngapain lo, Winta. Kalau kemarin baju basah lo nggak segera gue ganti, lo bisa mati gara-gara hipotermia," balas Nana juga ngegas.

"Iya, deh. Gue percaya. Tapi lupain ya, Mas."

"Iyaaaa."

Setidaknya Winta bisa bernapas lega meski masih malu juga. Nana sendiri malah terkesan cuek. Cowok itu rebahan di sofa kamar Winta. Mata Nana yang bagian bawahnya berkantong menandakan bahwa dia sedang ngantuk berat. Maklum kalau dapat shift jaga malam Nana selalu ngantuk paginya. Alih-alih tidur di kamarnya sendiri, Nana malah molor di sofa kamar Winta.

"Mas Nana kok tiduran di sini, sih!"

"Sambil jagain lo kali," jawab Nana sembari memejamkan mata.

"Mas Nana jangan gitu! Jangan berperan kayak suami gue beneran. Kan setahun lagi kita pisah."

Tidak ada jawaban dari Nana. Ternyata Nana sudah berlayar ke pulau kapuk. Winta jadinya seperti bermonolog. Memang si Nana sangat menyebalkan. Winta mengakui itu.

Young CoupleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang