20. Breakfast Together

2.4K 273 57
                                        

Sebelum baca, perhatikan ini baik-baik:

1. Tolong vote dan komen. Aku paling seneng dapet komen. Hehe

2. Follow akun wattpad aku juga biar kalian dapet notif kalau aku update. Karena aku sering ngasih pengumuman kalau update.

3. Tolong bantu koreksi typo.

Happy reading!

❤️❤️❤️


Malamnya Winta menemani Nana di kamarnya. Nana hanya rebahan sambil membaca jurnal kedokteran dari Lia tadi untuk belajar. Sama halnya dengan Nana, Winta yang bersemedi di meja belajar Nana sibuk sendiri dengan laptop dan modul-modulnya. Winta juga membawa kalkulator. Nana yang masih rebahan lantas meletakkan jurnal-jurnalnya, tatapannya tertuju pada Winta.

 Nana yang masih rebahan lantas meletakkan jurnal-jurnalnya, tatapannya tertuju pada Winta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nana bangkit perlahan untuk mengambil minum. Diteguknya air putih itu hingga setengah gelas. Tentu saja Winta yang menyediakan minum di kamar Nana. Tadi Winta juga yang memesankan makanan untuk makan malam keduanya hari ini.

"Kenapa, Mas? Mau dibantu jalan ke kamar mandi lagi?" tanya Winta.

Nana menggeleng. Lalu bangkit berdiri. "Aku udah kuat jalan sendiri, Win. Udah nggak nyeri lagi. Lagian tadi udah diinjeksi sama Dokter Arnand."

"Kok bangun? Jangan bilang Mas Nana mau gowes sama Bang Jeano. Inget tuh punggungnya."

Nana terkikik. "Cuma orang gila atau orang kesurupan yang nekat berangkat gowes malem-malem, Win. Aku cuma mau ngintip kegiatan kamu aja."

"Kenapa emangnya? Aku cuman ngerjain tugas ini."

"Penasaran aja kok bawa kalkulator segala. Kayak anak FMIPA aja bawaannya kalkulator."

"Lagi ngerjain tugas hukum waris, Mas. Banyak hitungannya. Jadi, ya harus pakai kalkulator."

"Pakai Ms. Excell aja lebih cepet, Win."

Winta nyengir kuda. "Aku tuh agak gaptek pakai Ms. Excell, Mas."

"Lain kali aku ajarin, deh. Mau belajar SPSS, aku juga bisa."

"Boleh, deh. Tapi Mas Nana harus sehat dulu."

"Iya, sayang. Ini udah baikan, kok."

"Aku tuh pusing akhir-akhir ini, Mas. Tugas aku semester ini berasa banyak banget. Nggak kayak semester-semester sebelumnya. Mana matkulnya susah-susah. Tapi yang paling susah tetep hukum waris ini. Terus ada juga tuh hukum laut internasional. Tugasnya berhubungan sama gambar, jarak dan koordinat," curhat Winta.

Nana hanya tersenyum mendengar curhatan Winta. Kalau dipikir-pikir kuliahnya Nana di kedokteran dulu lebih nggak manusiawi. Mahasiswa kedokteran menempati urutan pertama mahasiswa tersibuk selain anak teknik, farmasi dan MIPA. Dari mulai pre-klinik saja sudah dipusingkan dengan ujian blok, praktikum, osce dan sebagainya. Belum lagi koas yang lebih berat daripada pre-klinik. Tiap hari kepala Nana rasanya ngebul. Namun, Nana bukan tipe orang yang gampang sambat masalah kuliah seperti Javier dan Winta.

Young CoupleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang