Warning : 18+
KALAU BACA CERITA INI, WAJIB FOLLOW! ☺️
Bagi Wintaria Maryam Putri menikah di usia muda tidak pernah terbayangkan sebelumnya, apalagi dia masih kuliah. Namun, sebuah kejadian membuatnya harus menikah dengan Nathan Nareshwara. Satu hal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sorenya setelah Winta istirahat, dia langsung menuju kamar mandi. Dia baru ingat telat menstruasi 3 hari. Sebelum memakai testpack yang dibelinya, Winta sempat browsing mencari Cara pemakaiannya. Maklum masih pemula. Setelah selesai, Winta masih duduk di kloset sambil menunggu hasil testpack itu.
Winta mengamati perubahan garisnya, tapi yang muncul tetap satu garis. Sampai beberapa menit jumlah garis itu tidak berubah. Winta bisa bernapas lega sekarang. Demi Tuhan, dia belum siap kalau harus hamil di usia muda. Apalagi kuliahnya belum lulus.
Sekeluarnya dari kamar mandi, Winta menemukan sosok Nana baru saja pulang. Nana berjalan ke lantai dua dengan komuk kucel. Namun, meski awut-awutan seperti itu, Nana masih sempat memberikan senyuman manisnya pada Winta.
"Mas?"
"Ya, kenapa?" tanya Nana yang kini berhenti di tengah tangga. Dia menoleh ke Winta.
"Abis kamu istirahat, ajari aku masak sayur sop, ya."
"Siap, sayang. Aku mandi dulu kalau gitu."
Winta hanya meresponnya dengan senyuman. Nggak tahu kenapa pikirannya kembali ke hasil testpack tadi. Mendadak Winta baru sadar kenapa hanya membeli satu testpack. Harusnya dia beli lima sekalian. Sambil menunggu Nana, Winta duduk di sofa ruang tengah. Cewek itu browsing lagi tentang keakuratan testpack.
Dari hasil pencariannya, ternyata merk testpack dengan harga lebih mahal lebih akurat. Sementara Winta tadi membeli testpack yang murahan. Winta si cewek polos juga baru tahu kalau seharusnya mengecek kehamilan itu pakai lebih dari satu testpack dengan merk berbeda kalau ingin hasilnya lebih akurat. Winta menepuk jidatnya pelan.
"Bego banget sih gue," gumamnya.
Winta yang tadinya bisa bernapas lega, kini mulai panik lagi. Telat haid tiga hari saja membuat pikirannya berceceran seperti ini. Pasalnya telatnya setelah main sama Nana sekitar seminggu yang lalu.
"Aduh, gimana ini?" lirih Winta semakin panik.
"Aku udah selesai, nih, sayang. Mau diajarin masak sekarang?" tanya Nana. Pemuda itu berjalan mendekati Winta.
"Eh, iya. Ayo, Mas."
Keduanya menuju pantry. Nana menyiapkan bumbu yang diperlukan. Winta nurut saja saat diajari meracik bumbu sayur sop oleh Nana. Yang bikin Winta agak kuwalahan saat menguleg bumbu itu sampai halus.