Ting tong tong tong
Nadira yang sedang membaca Al-Qur'an mengerutkan keningnya ketika ada yang mengetuk pintu depan.
Cewek yang masih berbalut mungkena itu berjalan turun kebawah, dan membuka pintu.
Pandangan pertama yang ia lihat adalah seorang wanita paruh baya, yang sedang tersenyum malu kepada dirinya, dan seorang pria paruh baya juga.
"Emm siapa ya? " Tanya Nadira waspada.
"Ini non, sebelum teh perkenalkan nama saya Lasri, ini teh suami saya Barjo. Kami teh disuruh kesini sama tuan Rahman, katanya den Ilham ngebutuhin pembantu sama supir, " Ucap Bi Lasri panjang lebar.
Nadira berpikri sejenak, "ada buktinya gak? " Tanya Nadira, takutnya kedua paruh baya itu berbohong.
Lasri menunjukan lencana berhuruf HN tepat di baju sebelah kirinya. Nadira mengangguk lalu mempersilahkan masuk.
Nadira tau lencana itu, itu lencana keluarga Hanan karena HN artinya Hanan. Nadira juga tau memang orang yang berkerja di keluarga Hanan akan mendapatkan lencana itu.
"Emm, ini kamar ada dua, tapi kalau bibi sama mang Barjo, mau satu kamar juga gapapa, " Ucap Nadira menunjukan dua kamar yang terletak di lantai bawah, tepatnya dekat dapur.
"Kita teh, satu kamar aja ya non, " Ucap bi Lastri menggaruk kepalanya tak gatal, merasa malu dia.
Nadira terkekeh, "iya silahkan, yaudah kalau bibi sama mamang mau istirahat dulu ke kamar aja, Nadira mau kekamar," Ucap Nadira.
Mang Barjo dan Bi Lastri masuk ke kamar, untuk beristirahat sebentar.
-----•••
Malam tiba...Nadira sedang membaca majalah , cewek itu berada di kamar, jam sudah menunjukan jam 8 malam, niatnya ia ingin menunggu Ilham pulang.
Nadira mengalihkan tatapanya ketika hewan peliharaanya yaitu si Kitty meloncat ke kasur.
"Hallo kitty? Do you miss me? " Celoteh Nadira mengelus kepada Kitty dengan sayang.
Kitty duduk di kasur seraya menatap polos majikanya, kucing lucu itu menggeliat kala Nadira mengelus perutnya.
Karena takut suaminya akan segera pulang, Nadira membawa kitty ke kandangnya.
Dilantai bawah, tepatnya di kandang Kitty, cewek itu memasukan kucingnya ke rumah minimalis namun cocok untuk kucing tidur didalam sana.
"Non, Ari den Ilham belum pulang? " Tanya Bi Lastri yang tiba-tiba datang.
Nadira berdiri, ia menggelengkan kepalanya, "belum Bi. Mungkin masih di jalan," Sahut Nadira seraya tersenyum tipis.
"Ohh, yaudah atuh, bibi udah siapin makan malem, Bibi pergi dulu ya, " Nadira mengangguk, lantas bi Lastri langsung undur diri.
"Kak Ilham kemana ya? " Monolog Nadira, karena bosan ia keluar dari rumah.
Nadira duduk di kursi depan rumahnya, ahh lebih tepatnya di teras.
Nadira melirik jam yang berada dipergelangan tanganya, sudah menunjukan jam setengah 9 , tapi suaminya ini belum juga pulang.
Tinn tinn!!
Nadira mengembangkan senyumanya, cewek itu berlari kecil, lalu membuka gerbang rumah, entah lah kemana satpam penjaga rumahnya itu.
Ilham memberhentikan mobilnya didepan garasi, cowok itu membuka pintu mobil.
Ia menaikan satu alisnya, dalam hati bertanya, kenapa istrinya berada diluar?
"Ngapain diluar? Dingin sayang," Ucap Ilham merangkul pinggang Nadira posesif.
Nadira mengerucutkan bibirnya, "aku nung-gu in kak--Hacihh!! " Sebelum menyelesaikan ucapanya, ucapan Nadira terpotong karena bersinya sendiri.
"Nahh kan udah mulai pilek nih, " Ucap Ilham seraya menghela napasnya.
Nadira menyengir tak jelas.
"Tadi udah ketemu sama bi Lastri sama mang Barjo? " Tanya Ilham, cowok itu membuka dasi yang melilit di lehernya.
"Udah dong! Mereka ramah banget, aku suka,"
Ilham terkekeh, syukurlah kalau istrinya suka.
"Kakak mandi dulu, nanti kita makan bareng, " Ucap Nadira seraya menyimpan tas kerja ilham di tempat -nya.
"Kamu belum makan? " Tanya Ilham.
"Kan nunggu kakak, "
"Harusnya kamu jangan nungguin aku, kalo makan makan aja, nanti maag kamu kambuh lagi gimana? "
" aku kan maunya makan bareng kakak," Sahut Nadira tak mahu kalah .
Ilham tersenyum geli, "aku mandi dulu ya, kamu kalau mau makan, duluan aja, "
"Nggak, aku maunya sama kakak! "
-----•••••
"Kamu udah shalat isya? " Tanya Ilham, cowo itu sudah memakan pakaian santainya.
Nadira menganggukkan kepalanya, "kakak sendiri? " Tanya Nadira balik
"Alhamdulillah udah, yu makan, kamu belum makan kan? "
Nadira mengangguk, cewek itu memakai kerudung instanya lalu pergi dari kamar bersama suaminya untuk makan.
Ilham duduk dikursi, cowok itu tersenyum ketika Nadira menuangkan nasi ke piringnya, "jangan banyak-banyak sayang,," Ucap Ilham, sejujurnya ia sudah makan tadi dikantor, namun karena mengetahui istrinya belum makan hanya karena menunggu dirinya, jadi yasudah lah.
"Kakak mau lauk apa? " Tanya Nadira.
" Ayam kecap sama hati ayam aja, "
Nadira mengangguk, lalu memberikan permintaan suaminya itu.
Sepasang suami istri itu mulai memakan makananya, mereka berdua nampak makan dikeheningan namun hanya ada suara dentringan sendok.
"Tadi gimana belajarnya? Susah gak? " Tanya Ilham.
Nadira menggelengkan kepalanya, "gak terlalu kok,"
Setelah itu tidak ada yang berbicara kembali Ilham maupun Nadira sama-sama pokus dengan makananya.
Setelah beberapa saat, sepasang suami istri itu sudah menyelesaikan makanya.
"Biar bibi aja non yang cuci piringnya, " Ucap Bi Lastri tersenyum kepada Nadira.
Nadira menggelengkan kepalanya , "nggak bi, biar Nadira aja, bibi kan udah masak masaiya harus nyuci juga, " Sahut Nadira, ia merasa tak enak.
"Lohh, biarin atuhh, itukan tugasnya bibi, " Bi Lastri terkekeh kecil
Nadira hendak bicara namun terpotong oleh ucapan suaminya, " Udah atuh sayang gapapa, itu kan emang tugas bibi, " Ilham tersenyum manis kepala istrinya itu.
"Nahh iya non, ini kan tugas bibi, "
"Tapi---"
"Gapapa ayangg, "
"Kakak!! Malu ihh!! "

KAMU SEDANG MEMBACA
ILHAM DAN NADIRA •| END
Romance[Follow dulu sebelum baca!! ] -romance ----------------- "Iya cantik." Nadira tak menyangka ia harus menjadi istri kakak kelasnya, berawal dari kakak kelasnya yang melamarnya tiba-tiba.Dan dimana dia harus mulai terbiasa dengan sikap suaminya mulai...