3. Astaghfirullah lagi

4.8K 402 0
                                    

"Dir, sumpah ya kak Raka ganteng banget gila,"

Pekik Klaudia, cewek berbalut seragam putih abu itu seperti orang gila, tak bisa diam.

"Kak Raka? Kapten futsal?" Tanya Nadira menaikan satu alisnya, ia memang tau Raka karena cowok itu sedikit terkenal.

Klaudia mengangguk, "iya, udah satu iman tinggal satu hati ahhhhh," Klaudia tersenyum sendiri.

"Klaudia suka sama kak Raka?" Tanya Nadira.

"Nggak tau, tapi kalau liat dia senyum bawanya pengen meninggal aja," Ceplos Klaudia yang mendapatkan gelengan kepala dari Nadira.

"Gak boleh ngomong gitu,"

Klaudia meringis cewek itu memukul mulutnya sendiri, "Astaghfirullah-ehh," Klaudia tersentak kaget, sedangkan Nadira tertawa kecil Klaudia memang suka keceplosan.

"Ehhh Klaudia yang manisnya kebangetan,"

Klaudia dan Nadira terdiam mendengar suara yang berada didepan mereka, klaudia menoleh ternyata itu Yahya yang memanggilnya, tak lupa Abijal dan Ilham yang senantiasa berada di belakang Yahya.

"Apa lo?! " Tanya Klaudia galak.

Yahya tersenyum, "galak amat,"

Klaudia menatap jijik Yahya, " Syuhhh, syuuuh, mending kak Yahya balik ke habitat,"

"Emang lo pikir gue binatang? "

Klaudia menggedikan bahunya acuh, ia menatap Abijal dan Ilham, "kak Abijal, punya kontaknya kak Raka gak?" Tanya Klaudia tersenyum kepada Abijal.

Abijal menaikan satu alisnya, "Raka? Kapten futsal?" Klaudia mengangguk antusias.

"Iya! Punya gak? Kalo punya minta dong,"

Abijal menggeleng, "nggak , minta aja sama anggota Futsal, "

Klaudia cemberut ia beralih mantap Ilham, "kak Ilham punya nomor kak Raka gak?"

Ilham menggeleng membuat klaudia semakin merenggut kesal, "gue ke kelas dulu bye," Ucap Klaudia meninggalkan Nadira.

"ehh dek Dira," Ucap Yahya tersenyum menggoda.

Nadira menggaruk pipinya tak gatal, lalu terkikuk ia bingung ingin pergi? Takut tak dianggap sopan, tak pergi? Hm, jujur sedikit risih.

"Mmm, Dira pergi dulu ya Assalamu'alaikum,"

"Tunggu aku dirumahmu Nadira, waalaikumsalam,"

•••

Nadira termenung atas ucapan Ilham tadi pagi, cewek berbalut hijab putih itu menompang dagunya dengan tangan, 'kak Ilham mau ke rumah? Mau ngapain? '-batin Nadira.

'Mungkin main? '- batin Nadira lagi.

Nadira semakin menggelengkan kepalanya dan menghela napas, ia mencoba melupakan ucapan Ilham, namun tak bisa. Ck.

Nadira mencoba mengalihkan pikiranya dengan membaca novel yang selalu ia bawa.

"Jangan di pikiran, mungkin cuman becanda," Gumam Nadira yang matanya masih menatap jajaran huruf didalam buku.

Setalah beberapa saat Nadira sudah fokus dengan membaca novelnya, ia tak menyadari kalau murid kelas hampir semua keluar.

Sebenarnya ini jam kosong, biasanya Nadira dan Klaudia akan pergi ke kantin namun entah kenapa sekarang mereka berdua malas dan ingin menjalankan aktivitas masing-masing. Seperti Nadira yang ingin dikelas, dan Klaudia? Cewek bar-bar itu ke lapangan futsal untuk melihat si kapten futsal, Raka.

"Ahhh mamaa,Klaudia pengen mati aja,"

Pekik seseorang mengalihkan tatapan Nadira, cewek itu mendongak dan terlihat Klaudia sedang berjalan ke arahnya seraya tersenyum sendiri.

"Kamu kenapa?" Tanya Nadira bingung.

Klaudia tersenyum, "akhirnya gue punya nomor kak Raka, ya ampun oksigen mana oksigen," Heboh klaudia.

Nadira terkekeh ada-ada saja, Nadira menyimpan novelnya ke dalam tas.

"Tadi senyuman kak Raka manis banget sumpah, " Klaudia berjingkrak kegirangan.

"Ahhh, pokonya kak Raka gue tandain! Gak boleh ada yang ngedeketin kak Raka!" Ucap Klaudia. Dari dulu memang Klaudia suka dengan Raka.

Nadira lagi-lagi tersenyum, "perjuanganin " Ucapnya.

Klaudia mengangguk, "pasti dong! Ini mah gue beneran suka sama kak Raka, ahhhh mleyottt," Sahut Klaudia lebay.

"Btw, Dir tadi pagi, pas kita ketemu Yahya and the geng kayanya kak Ilham liatin lo mulu," Ucap Klaudia berubah menjadi serius, bahkan dirinya sudah duduk di atas meja Nadira.

Nadira menaikan satu alisnya, "masa sih?" Tanya Nadira bingung.

Klaudia mengangguk, "iya kayanya kak Ilham suka deh sama lo! " Ucap Klaudia antusias.

Nadira menggeleng-gelengkan kepalanya, "perasaan kamu aja kali, kak Ilham mana mungkin liat---"

"-----yeee, lo mah gak percayaan, gue kan liat pake mata kepala gue sendiri,"

"Serah kamu aja deh,"

•••

"Bagai mana para saksi SAH?"

"SAH!! "

Ilham mengerjapkan matanya berkali-kali, cowok itu meneguk ludahnya susah,tanganya terulur mengusap wajahnya kasar, ck, sangking sukanya kepada Nadira ia sampai mimpi nikah sama Nadira.

"Astaghfirullah," Ilham terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepanya, ada-ada saja mimpinya itu, namun ia harap semoga mimpi itu menjadi kenyataan. Amiiin

Ilham masih berada dikelas, cowok itu ketiduran karena tadi malam tidur jam 2pagi.

"Wiiiih, pangeran baru bangun tidur," Celetuk Yahya yang baru saja datang dengan membawa pop ice ditanganya.

Ilham mengusap wajahnya kasar, lalu menyenderkan punggungnya di kursi, "ngantuk banget gue," Sahut Ilham.

Yahya duduk di kursi, "solat lo, ini udah dzuhur," Titah Yahya, cowok itu sudah shalat dzuhur tadi pas jam 12:30 sedangkan sekarang sudah jam 13:15.

Ilham mengangguk, ia melihat jam yang berada ditanganya lalu beranjak keluar dari kelas. Sedangkan Yahya cowok itu meminum pop icenya seraya memainkan ponselnya.

Ilham berjalan dengan langkah tegas padahal baru bangun tidur. Cowok itu terlihat gagah berjalan menuju masjid yang berada di sekolah.

Sampai di masjid Ilham membuka sepatunya berjalan mengambil air wudhu

•••

Nadira mengerutkan keningnya melihat hasil gambaranya. "Ini emang jelek apa gimana ya?" Gumamnya polos.

Nadira menghembuskan napasnya pelan, cewek itu menggaruk kepalanya tak gatal, bingung, apa emang gambaranya tak bagus, apa emang gurunya tak menyukai pokemon?

Nadira memang menyukai pokemon, bahkan kamarnya pun penuh dengan boneka pokemon, selain itu warna kuning juga termasuk warna kesukaanya.

Setelah puas memandangi gambaranya itu, Nadira beranjak dari kasur dan berjalan lalu duduk dimeja rias, cewek berbalut kerudung yang hampir menutupi tanganya itu menatap dirinya dipantulan cermin.

Ia tersenyum dan saat itu pula pantulan dirinya pun tersenyum,"lucu," Nadira tersenyum memperhatikan geretan giginya yang rapih dan putih.

Dia memang suka melakukan hal seperti itu, memandangi pantulan dirinya dicermin sampai puas.

Ia tak pernah bosan melihat wajahnya dicermin, bahkan lagi nangis pun ia tetap bercermin.

ILHAM DAN NADIRA •| ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang