46. Bayi meresahkan!

2.3K 209 5
                                    

Bucin kali mereka gas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bucin kali mereka gas

-----

Ilham memijat pangkal hidungnya pusing, Cakra, mentang-mentang sudah bisa merangkak kini putranya semakin nakal.

Hari ini hari libur, Ilham disuruh Nadira untuk menjaga Cakra, karena wanita yang mempunyai lesung di pipi itu pergi bersama umi Wira, katanya si ke acara pernikahan.

Sebenarnya si Nadira bisa saja membawa Cakra, tapi karena Cakra tipikal bayi yang tak suka akan kebisingan, jadi lebih baik dirumah saja.

"Masyallah Cakra. Makan dong." Ucap Ilham frustasi, cowok itu menyondorkan sesendok makan bubur kepada Cakra.

Cakra bayi itu sedang duduk di sofa miliknya, tanganya masih anteng memegang boneka dino yang kemarin dibelikan oleh Abi Adnan.

Ilham terpaksa mengambil boneka dino itu. Hal itu tentu mendapatkan tatapan tak terima dari Cakra. "Aaaa! No! " Racau Cakra tak jelas.

"Apa, no, no, no. Makan sayang. Aaaa. " Mulut Ilham ikutan membuka, cowok itu tersenyum bangga ketika bubur itu masuk kedalam mulut mungil Cakra.

Namun senyuman Ilham tak bertahan lama kala Cakra tak memakan bubur itu malah mengeluarkanya kembali. "Ya Allah Cakra, mubazir, nak. " Ucap Ilham, dirinya bingung harus bagaimana lagi.

"Ck, kalau gak mau makan mending main lagi aja. " Ucap Ilham lalu menurunkan Cakra di sofa bayi itu.

Ilham menyandarkan tubuhnya disofa , ruang tengah kini penuh dengan mainan Cakra, mobil-mobilan, boneka, dan mainan bayi lainya ada disana.

Cakra, bayi itu merangkak pelan. Sesekali mulutnya meracau tak jelas. " Noooo! " Mulutnya membulat kala memegang boneka dinonya.

Cakra dengan tangan mungilnya melempar-lempar boneka Dino itu ke atas dan terjatuh ke wajahnya, bukanya menangis dia malah tertawa kegirangan.

Ilham menatap anaknya, senyuman tercetak dibibirnya. Ahh sepertinya tambah satu anak lagi pasti bakal seru?

Apalagi kalau anaknya perempuan.

Oke! Kalau begitu Ilham akan membicarakan hal itu dengan Nadira nanti, soal buatnya? Tenang saja itu bisa dibicarakan, haha.

Sedang di dalam lamunannya, Ilham kembali tersadar ketika tangan mungil meraba-raba kakinya. Ilham melihat kebawa ketika putranya sedang mencoba berdiri.

"Dada, dadadaa! " Bayi mungil itu meracau seakan minta pertolongan.

Ilham terkekeh kecil. Tanganya membantu supaya Cakra berdiri. Cowok itu menjadikan pahanya sebagai pegangan tangan putranya supaya tak jatuh.

"Apa , hm? " Tanya Ilham cowok itu sedikit menglap keringat yang berada di pelipis Cakra.

"Mama? " Ilham menaikan satu alisnya, oh ternyata putranya ingin bertemu dengan Umanya. Mata cowok itu menatap jam yang berada di dinding. Sudah menunjukan jam 3 sore , tapi kenapa Nadira belum juga pulang.

ILHAM DAN NADIRA •| ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang