Pada akhirnya Krist dibawa oleh Bass menuju condonya karena sepanjang jalan Krist hanya diam saja dan melihat keluar jendela. Bahkan saat sampai di condopun, Krist memilih langsung merebahkan tubuhnya secara tengkurap di sofa. Bass yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng, dan memilih membiarkan Krist untuk menenangkan dirinya dulu karena dia tahu, nanti juga Krist akan bicara sendiri padanya.
Akibat terlalu pusing dan badannya juga yang masih lelah, Krist justru tertidur tanpa sadar. Bahkan, saat matahari sudah tenggelam dan kini sudah berganti menjadi cahaya temaram dari bulan. Dia baru terbangun dan menemukan dirinya seorang diri di condo Bass.
“Bass, kau di dalam kamar mandi?” teriak Krist mencari keberadaan Bass. Sayangnya tidak ada jawaban yang bisa dia dengar atas apa yang dirinya ucapkan tadi. “Ke mana sih si mungil itu, malah ninggalin sendirian,” gerutu Krist yang bangkit lalu masuk ke kamar mandi yang memang benar tidak ada keberadaan Bass di sana.
“Kau dari mana?” tanya Krist bertepatan dirinya keluar dari kamar mandi dan menemukan Bass yang baru masuk ke dalam condo dengan paperbag berada ditangannya.
“Ini habis ambil makanan dari bawah, gua pesen onlain tadi.”
Krist hanya menganggukkan kepalanya, dan mengikuti Bass yang berjalan menuju sofa tempatnya tidur tadi. Dan menghempaskan apple-nya dengan cukup keras di sofa, itu membuat dirinya meringis menahan rasa nyeri yang ternyata masih ada. Dan betapa bodohnya Krist lupa akan hal ini karena terlalu bersemangat ingin makan.
“Kenapa lu?” tanya Bass yang heran melihat Krist menahan rasa sakit.
Sedangkan Krist memilih tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya saja. “Ck, aneh banget lu Krist hari ini. Nih makan!” Bass menyodorkan makanan yang diterima dengan senang hati oleh Krist. Pasalnya perutnya sudah berbunyi dan meminta untuk segera diisi.
Mereka makan dengan tenang, sembari menonton televisi yang sedang menayangkan kasus aktris yang tenggelam. “Kasian banget Phi Mo,” celetuk Bass.
“Kita nggak tahu kapan kita dipanggil yang maha kuasa dan bagaimana caranya,” jawab Krist santai sambil memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Tumben bijak banget hari ini, Krist. Tapi, lebih ke aneh sih.” Pasalnya biasanya kalau ada hal-hal yang janggal seperti ini, mulut netizen Krist langsung berkoar menggerutu. Jadi, cukup aneh jika menjadi santai seperti ini.
“Ck, serah lu deh.”
“Bass, kalau gua nikah lu kaget nggak?” tanya Krist dengan suaranya yang kecil, namun sayangnya masih bisa didengar oleh Bass karena memang mereka duduk berdampingan.
Bass tentu saja langsung tersedak mendengar ucapan Krist, dan Krist langsung sigap memberikan air untuk Bass. Dia bisa melihat sahabatnya itu meminum air dengan tergesa-gesa, apa dirinya salah ya berbicara topic ini saat sedang makan. Tapi, ya mau kapan lagi dirinya cerita. Krist merasa benar-benar buntu untuk sekarang ini.
“Krist! Yang bener aja lu, cewek mana yang mau lu jadikan istri? Apa lu habis ngehimilin anak orang ya? Wah, parah banget sih. Kok bisa sampe lupa pake pengaman ngapain sih lu,” ucap Bass yang langsung memberondong Krist dengan begitu banyak pertanyaan. Dan Krist sudah menduga ini karena memang Bass tipe orang yang langsung bertanya banyak hal, bahkan tak segan-segan memaki lawan bicaranya terlebih dahulu sebelum mendengar penjelasannya. Dan ini yang Krist nggak sukai karena itu membuat Krist semakin pusing, tapi kalau nggak cerita juga kepalanya rasanya ingin meledak sekarang.
“Jawab Krist, kenapa malah diam aja sih?” desak Bass yang penasaran.
“Gimana bisa aku menjelaskannya, kalau dari tadi lu nyerocos mulu!” Krist jadi ikut kesal sendiri kan sekarang.
Bass justru nyengir karena bentakan Krist yang kesal pada dirinya. “Hehe, ya maaf. Jadi, gimana nih ceritanya kok bisa lu mau nikah. Kita aja belum lulus.” Bass memusatkan pandangannya pada Krist, dia sudah tak berselera makan lagi karena sudah keburu penasaran dengan cerita sahabatnya ini.
Krist mengambil nafas dalam-dalam terlebih dahulu, dan memantapkan tekadnya mulai menceritakan seluruh masalah yang terjadi dari kemarin sampai hari ini. Bass menyimak dengan serius, dia terkejut mendengar cerita Krist yang sudah seperti novel yang sering dirinya baca. Di era sekarang masih ada yang namanya perjodohan, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sulit dipercaya.
“Jadi, bisa diambil kesimpulan kalau kemungkinan besar papanya Singto ini akan semakin gencar memaksa kalian menikah gitu setelah melihatmu disana?” tanya Bass menyimpulkan keresahan hati Krist setelah menceritakan seluruh rangkaian masalah yang dihadapi oleh Krist.
Krist menganggukkan kepalanya, dan bertieriak heboh. “Wah, sulit dipercaya. Krist pemain cewek bakalan nikah sama cowok.”
“Apa gua kabur aja ya ke luar kota untuk ngindarin ini,” celetuk Krist mengutarakan ide yang terlintas didalam benaknya saat ini.
Plak
Tangan ringan Bass langsung mendarat mulus di kepala Krist, hingga membuat badan Krist goyah hampir jatuh. Meskipun badan Bass agak mungil, namun jangan ragukan akan kekuatannya. Disuruh untuk menghajar 3 orang sekaligus pun mampu dia karena memang di jago banget dibidang olahraga boxing. “Heh, ngawur banget. Kita semester akhir dan lu juga udah ngerjain skripsi, masa iya mau ditunda sih.”
Krist mengaduh kesakitan sambil mengelus kepalanya yang mendapat geplakan manis dari sahabatnya. Bibirnya maju beberapa senti karena kelakuan Bass, padahal Bass reflek tadi. “Gila! Sakit ai sat!”
“Lah lu juga ngomong ngawur banget sih, udah tahu skripsi lu tinggal dikit lagi kan terus sidang. Pake acara kabur segala, pendidikan selesein dulu, Kura! Baru setelah itu lu kabur ke antariksa juga terserah.”
Krist menghela nafas, bingung harus bagaimana karena memang benar apa yang dikatakan oleh Bass. Skripsinya hanya tinggal menunggu ACC dari dosen pembimbingnya, dan kalau langsung di ACC dirinya bisa langsung daftar sidang dan ikut wisuda juga semester ini.
Baru Krist akan buka suara kembali, ponselnya sudah berdering dan menampilkan nama Mae-nya yang menelfon dirinya. “Angkat gih, ngapain lu pandangin terus. Nggak baik buat mereka nunggu,” celetuk Bass yang mampu menyadarkan Krist dari rasa bimbangnya. Dirinya malah agak takut menerima telefon dari Mae-nya karena khawatir akan membahas tentang perjodohan lagi. Kemarin saja dirinya langsung pergi dari rumah tanpa berpamitan karena emosinya yang melambung tinggi.
Bass yang geram melihat Krist tak kunjung mengangkatnya, langsung saja menyentuh tombol hijau dan secara otomatis panggilan dari Mae-nya Krist terangkat. Dan itu tentu saja membuat Krist langsung mendongak menatap Bass dengan tatapan tajamnya.
“Halo, Sayang. Krist kamu dimana, Nak? Kok dari kemarin malam nggak pulang?” pertanyaan tersebut langsung meluncur begitu saja dari sebrang telefon.
“Em.. halo Mae. Aku di condo-nya Bass ini, ada apa Mae?” meskipun sempat gugup, nyatanya Krist akhirnya berbicara pada Mae-nya.
“Kamu bisakan pulang sekarang?” suara itu terdengar lirih sekarang, namun masih dapat didengar oleh Krist.
Krist mengernyitkan dahinya karena suara Mae-nya terdengar berbeda. “Mae, semua baik-baik ajakan di rumah?”
“Kamu segera pulang saja ya, Nak. Mae dan Pho nunggu kamu di rumah sekarang.” Setelahnya panggilan itu langsung terputus secara sepihak, itu membuat Krist penasaran karena baru kali ini Mae-nya meminta sesuatu pada dirinya dengan suara yang cenderung lirih.
.
.
.
Kira-kira kenapa Krist disuruh buat pulang nih?
Jangan lupa buat selalu ninggalin jejak, baik itu vote ataupun komen.
See you next chapter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fanfiction(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
