It's Getting Weird

1K 143 27
                                        

Krist sedang belanja mingguan karena kebetulan beberapa kebutuhan dapur sudah mulai menipis. Meskipun kadang dirinya agak nyolot dengan Singto, namun berhubung dia nggak kerja. Jadi, yang mengurus kebutuhan rumah tangga itu dirinya. Toh, keungan juga ada ditangannya.

Dia memasukkan banyak sayuran dan buah-buahan dalam trolly-nya karena itu memang anjuran dari dokter. Dirinya harus mulai membiasakan diri untuk mengatur pola makan yang seimbang, padahal dulunya dia sangat jarang makan sayur. Tapi, kini dia harus memaksanya untuk kebaikan dirinya.  Krist sudah mengambil keputusan untuk mempertahankan janinnya, jadi dia harus bertanggung jawab atas apapun yang dirinya makan.

Sampai sekarang Krist belum memberitahu keluarganya ataupun Singto tentang kehamilannya sekarang karena jika dia melakukan itu, mereka pasti akan memaksa untuk ikut ketika sedang chek up. Sayangnya Krist belum ingin mereka tahu tentang penyakit yang mendampinginya selama kehamilan ini karena bisa jadi mereka akan menyuruh dirinya untuk menggugurkan calon bayinya.

Apalagi mendengar perkataan Singto semalam ketika mereka mengobrol. Sudah pasti Singto akan bersikeras memilih dirinya daripada anak mereka. Tapi, kandungannya pasti akan membesar seiring berjalannya waktu entah bagaimana respon mereka nanti. Yang terpenting mereka tak boleh tahu untuk saat ini. Dia akan mempertahankan sampai batas kemampuan dalam dirinya.

“Loh Krist kamu belanja sendirian, suami kamu mana?” tanya seseorang di belakang Krist.

Krist yang mendengar suaranya dipanggil sontak menoleh ke belakang. “Kamu disini juga Phi? Singto jam segini masih di kantor,” jawab Krist dengan senyum tipis.

“Ah, kenapa selalu sendiri. Kemarin kamu juga sendiri di rumah sakit, apa suami kamu nggak sayang sama pasangannya karena tak pernah menemaninya.”

“Phi Plustor jangan bicara seperti itu, dia memang sedang sibuk. Aku tak ingin menganggunya, Singto sayang kok sama aku.” Dengan berat hati Krist mengatakan itu, dia tak suka ada yang menjelekkan Singto di depannya. Bagaimanapun juga Singto adalah pasangan sahnya, dan Plustor tak berhak berbicara terus terang pada dirinya seperti ini. Krist juga heran, mengapa dirinya sering bertemu dengan Plustor secara tak sengaja.

Kemarin memang Plustor bertemu dengannya di rumah sakit. Dan berhubung Krist yang saat itu sedang sedih. Tanpa sadar menerima pelukan orang lain selain suaminya, dan dirinya menyesalinya sekarang karena mendengar ucapan dari kakak tingkat yang dirinya kagumi akan kecerdasannya. Sekarang justru merendahkan orang lain yang notabennya adalah pasangan Krist.

“Maaf, Krist. Aku nggak bermaksud seperti itu kok,” seketika Plustor gelagapan sendiri karena sepertinya Krist sakit hati dengan ucapannya barusan.

“Nggak apa-apa, Phi. Aku lanjut belanja dulu ya,” ujar Krist dan akan mendorong trolly belanjaannya untuk pergi dari hadapan Plustor, sayangnya tangan Plustor justru menghentikan laju trolly-nya dan membuat Krist harus berhenti.

“Ayo kita makan siang bersama, aku ingin mentraktirmu ke restoran yang baru buka di atas karena ada free refill es krim sepuasnya.” Plustor menatap Krist dengan penuh harap.

Krist menghela nafasnya, mau menolak juga terlalu sungkan karena selama ini Plustor selalu membantunya. “Baiklah, aku mau membayar belanjaan dulu kalau begitu.”

“Oke, sini aku dorongin trolly-nya.” Tanpa menunggu persetujuan dari Krist, Plustor langsung mengambil alih trolly itu dan berjalan meninggalkan Krist yang masih berdiri di tempatnya dan mengerutkan dahinya heran.

Entah perasaan Krist saja atau bukan, namun dia merasa Plustor sedang mendekati dirinya saat ini. Padahal kan Plustor tahu kalau dirinya sudah mempunyai seorang suami. Lantas mengapa Plustor mau mendekatinya, Krist menggelengkan kepalanya dan mengenyahkan pikiran absurdnya itu. Tak mungkin juga Plustor suka dengannya.

Krist makan dengan tenang dank arena rasa es krimnya yang enak dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri tanpa sadar. Dan itu membuat Plustor yang ada di depannya semakin gemas dengan Krist, rasanya dia ingin mencubit pipi bulat yang seperti mocha itu, namun sayangnya Plustor sadar diri kalau Krist bukan miliknya. Dan dirinya nggak punya hak untuk melakukan hal itu.

“Makannya pelan-pelan Krist, sampai belepotan seperti ini,” seru Plustor membersihkan pinggiran bibir Krist dengan tisu. Padahal baru tadi dia melarang tangannya untuk mencubit pipi menggemaskan Krist, namun tangannya sekarang sudah berulah dengan berani membersihkan pinggiran bibir Krist. Perkataan lelaki memang tak bisa dipegang ya besti.

Krist langsung terdiam karena perilaku Plustor yang begitu tiba-tiba, setelah sadar dia langsung merebut tisunya dan membersihkan bibirnya sendiri. “Aku bisa sendiri Phi,” ucap Krist dengan tawa canggungnya karena situasi yang dirinya rasa sangat berbeda.

“Iya, kamu habis ini ingin pulang atau bagaimana?” tanya Plustor.

“Iya karena kebetulan nanti ada temanku yang ingin berkunjung, jadi habis ini harus segera pulang.” Sebenarnya itu hanya alibinya saja, untuk menghindar dari Plustor karena kini Krist sadar dengan pemikirannya kalau sepertinya kakak tingkatnya ini beneran suka dengannya.

“Oh begitu ya, yaudah kamu habisin makannya. Aku anterin pulang habis ini.”

Krist menggelengkan kepalanya cepat. “Eh, nggak usah Phi, aku bisa sendiri kok.”

“Emangnya kamu bawa mobil?” tanya Plustor yang langsung membuat Krist diam dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tak membawa mobil sendiri karena takut pusing yang biasanya hadir baru-baru ini kambuh saat dirinya menyetir karena itu akan sangat berbahaya. Makanya tadi dia ke sini naik taksi.

“Tuh kan, lebih aman aku anterin pulang. Udah jangan ditolak dong bantuan aku, terima ya,” pinta Plustor dengan senyuman mengembang diwajahnya.

Pada akhirnya kini Krist hanya mampu menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi dirinya sungkan untuk menolak ajakan dari kakak tingkatnya. Niatnya mau menghindar malah dirinya semakin terjebak saat ini. Bahkan Plustor membawa seluruh belanjaannya yang banyak itu seorang diri, dan tak membiarkan Krist membawanya. Dengan dalih tak ingin Krist terlalu capek, sepertinya Plustor lupa kalau dirinya seorang pria. Membawa barang belanja segitu tak akan membuat dirinya pingsan ditempat.

***

Sedangkan di lain tempat ada seorang pria yang sedang menahan segala amarahnya sekarang. Sebenarnya sudah hampir  seminggu ini dirinya sering mendapatkan berbagai rentetan foto dan laporan dari orang yang tak di kenal. Awalnya dia selalu mengabaikannya karena dia percaya dengan pasangannya,  dia selalu bersikap biasa saja ketika berhadapan dengan pasangannya. Tapi, entah mengapa dua hari terakhir ini dirinya sudah mendapatkan pesan itu secara berturut-turut, dan itu artinya dua hari ini pasangannya itu keluar tanpa bilang dengannya.

Apalagi dengan perubahan semalam membuatnya sedikit overthingking. “Sebenarnya apa hubungan kalian? Apa kau baik denganku karena ingin menutupi karena kau selingkuh dariku?”

.
.
.

See you next chapter.

Connection Of Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang