It's Shopping Time

1.2K 193 22
                                        

Kalau sampai nanti malam jam 10 nih chapter ramai komennya dan bisa sampai 70 vote, aku bakal double up wkwk.

.
.

Jika hari pertama mereka di korea digunakan untuk istirahat akibat Krist yang kurang enak badan. Dan pada hari kedua Krist yang memutuskan jalan-jalan sendiri karena masih ngambek dengan Singto. Maka berbeda dengan hari ketiga, mereka sudah akur kembali dan menghabiskan waktu bersama tanpa harus Singto mengikuti Krist secara diam-diam seperti kemarin.

Untuk hari ini mereka pergi ke pusat oleh-oleh untuk membeli beberapa barang dan jajanan khas sini yang bisa dibawa pulang karena nanti malam mereka berdua harus flight kembali karena memang jadwalnya memang begitu.

Singto hanya mengambil cuti selama empat hari saja, dan besok pagi dia harus sudah berada di kantor karena ada meeting dengan klien pentingnya. Fah sekretarisnya sudah mengingatkan itu pada Singto tadi pagi.

Awalnya Krist tak mau pulang karena belum puas menikmati waktu di sini, dan tak masalah juga kalau dirinya pulang belakangan, jika Singto ingin pulang terlebih dahulu. Tapi, sayangnya itu tidak mungkin karena yang ada Singto yang mendapatkan ceramahan dari orang tua mereka karena membiarkan Krist seorang diri.  Dan akibat sedikit bujukkan dari Singto. Akhirnya dia mau ikut pulang bersama Singto.

Dan mungkin setelah ini Singto harus kembali bekerja keras karena harus mengisi ulang beberapa atm-nya kembali. Krist berbelanja banyak barang yang entah untuk siapa saja, yang pasti itu sangat banyak. Bahkan mereka harus membeli dua koper lagi untuk membawa itu semua. Dan semuanya itu dibayar menggunakan kartu Singto semua. Ingin marah tapi yang ada malah bikin mereka bertengkar diluar. Yang bisa Singto lakukan hanyalah menghela nafasnya, dan mencoba sabar. Baru kemarin Krist memperingatkan dirinya tak boleh boros, tapi lihatlah sekarang dia sendiri yang boros.

Sedangkan Krist tersenyum senang dapat belanjaan banyak dengan uangnya Singto. “Dengan begini, Singto pasti tak akan kuat bersamaku. Dan akan mengajukan gugatan cerai,” ucap Krist dalam hati yang puas dengan kecerdikan otaknya. Tentu saja bukan tanpa alasan Krist meminta kartu Singto, dia hanya ingin membuat Singto jengah dengan dirinya.

“Masih mau beli lagi, Krist?” tanya Singto dengan suara lesunya menatap kartunya yang berulang kali digesek di berbagai tempat.

Krist menaruh telunjuknya di dagu dan memikirkan apa lagi yang dirinya beli. “Ahaa, aku tahu ingin beli sesuatu lagi,” ucap Krist dan langsung menarik Singto dari toko tersebut.

Dengan susah payah berjalan Singto mengikuti Krist, langkahnya tak bisa secepat Krist karena ditangannya sudah banyak paperbag hasil perburuan Krist dari pagi hingga menjelang sore. Dan bahkan sudah ada sebagian yang diletakkan di  bagasi mobil yang mereka sewa selama di sini.

Singto menelan ludahnya ngeri melihat Krist memasuki sebuah toko berlian. Sepertinya kartunya akan sangat banyak terkuras disini. Dia memutuskan duduk di kursi tunggu, sambil menunggu Krist yang saat ini sedang melihat-lihat sambil didampingi oleh satu pegawai toko.

“I want this,” ucap Krist menunjuk cincin berlian yang terlihat cantik. Dan menunjukkan jarinya dua, pertanda kalau dia ingin membeli dua cincin.

Setelahnya pegawai tadi langsung membungkusnya dan Krist mengurus pembayaran di kasir. Sembari menunggu cincin yang barusan dia beli dibungkus oleh pegawai toko, dia menghampiri Singto yang duduk sambil menyandarkan badannya yang sedari tadi menunggu dirinya.

“Sudah selesaikan belanjanya habis ini?” tanya Singto ketika Krist duduk di sampingnya.

Krist tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Untuk saat ini sudah selesai.”

“Kamu beli buat apa sih? Emangnya kamu mau pakai perhiasana?” tanya Singto yang tak paham dengan jalan pikiran Krist.

“Bukan aku dong, aku hanya pengen beliin Mae sama Phi Nam. Kamu kan sebagai mantunya yang baik, makanya aku membelikan mereka dengan uangmu,” jawab Krist tanpa merasa berdosa sama sekali.

Singto hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya, dia merasa agak pening melihat pengeluaran hari ini yang sangat membengkak. Setelah pegawai toko tadi memberikan cincin yang dibeli oleh Krist, mereka keluar dari sana dan langsung pulang menuju hotel mereka.

Tapi, dipertengahan jalan Krist merengek pada Singto dan meminta untuk mampir sebentar ke pasar malam yang terlihat ramai. Mau tak mau meskipun Singto sudah sangat lelah baik batin maupun raganya, tapi terlalu sulit menolak Krist yang keras kepala.

Krist menarik tangan Singto masuk dan melihat ada boneka yang dirinya inginkan. “Oppa… oppa I want the doll so bad..” dia lalu tersenyum ke arah Singto.

Singto menatap balon-balon yang ada didepannya itu, dia harus memecahkan paling tidak sepuluh balon untuk mendapatkan satu boneka kecil, dan jika ingin yang paling besar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Singto menatap balon-balon yang ada didepannya itu, dia harus memecahkan paling tidak sepuluh balon untuk mendapatkan satu boneka kecil, dan jika ingin yang paling besar. Maka Singto harus memecahkan seluruh balon yang ada disana.

Singto berkonsentrasi penuh dan memulai permainannya, satu demi satu balon yang ada di depan sana meletus akibat tangan ajaib Singto. Krist tak hentinya menyemangati Singto, agar mendapatkan apa yang dirinya inginkan.

Krist tersenyum senang karena mendapatkan apa yang dirinya inginkan, meskipun hanya boneka kecil yang bisa Singto dapat. Tapi setidaknya Singto sudah berusaha keras untuk mendapatkan apa yang Krist inginkan dan Krist menghargai itu.

“Terima kasih sudah berusaha buat dapat ini,” ucap Krist dengan senyuman manisnya.

Singto terdiam ditempatnya, setelah seharian penuh menghabiskan uang. Baru kali ini Krist mengucapkan terima kasih dengannya. Dan entah mengapa Singto senang mendengarnya, dan melihat wajah Krist yang tersenyum sambil mencium boneka singa kecil itu membuat hatinya sedikit menghangat. Apakah hatinya sudah berlabuh pada Krist sekarang?

“Krist aku lapar, ayo cari makan,” pinta Singto yang merasa perutnya perih dan berbunyi.

Krist yang mendengarnya terkesiap seketika, dia lupa kalau mereka berdua terakhir makan tadi pagi sebelum pergi jalan-jalan. “Ingin makan apa? Buat sekarang aku yang akan menurutimu karena seharian ini kau sudah menurutiku,” ucap Krist baik hati.

“Iya, tapi ujung-ujungnya bayar pakai uangku,” batin Singto dalam hati.

“Apa aja deh, perutku udah sakit minta asupan. Jangan sampai kau yang kumakan.” Krist memundurkan langkahnya ke belakang. “Jangan macam-macam, Sing. Aku bisa memukulimu hingga babak belur nih kalau kau berani memakanku,” ancam Krist yang justru terlihat lucu di mata Singto.

Singto menggelengkan kepalanya. “Nanti aja bercandanya, aku benar-benar lapar sekarang.”

Krist merasa lega mendengarnya. Mereka pun menuju kedai terdekat untuk makan malam yang merangkap makan siang tadi yang terlewat. Krist memilih untuk makan malam di kedai hotpot dan untungnya Singto tak masalah dengan hal itu.

Krist dengan telaten Krist memasukkan daging ke dalam dua kuah yang berbeda karena Krist suka yang pedas dan Singto tak suka dengan pedas. Singto memilih diam dan menikmati dessertnya terlebih dahulu untuk mengganjal perutnya yang sudah begitu lapar. Dan sambil menunggu Krist yang sedang mempersiapkannya. 

.
.
.

Mereka akur buat hari ini, meskipun uang abang yang jadi korban wkwk.

Jangan lupa buat selalu ninggalin jejak ya, baik itu vote ataupun komen.

See you next chapter.

Connection Of Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang