Secepat kilat Krist memutar otak untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Singto. Karena dirinya belum siap kalau harus jujur sekarang, disaat kondisinya yang masih seperti ini.
“Harus banget ya aku jujur sama kamu?” tanya Krist dengan wajah sendunya.
Singto dengan mantap menganggukkan kepalanya. “Kalau bisa jangan pernah ada kebohongan antara kita.” Suara tegas Singto membuat Krist menundukkan kepalanya.
Sedangkan Bass, entah sejak kapan dirinya sudah kabur dari ruang tamu. Meninggalkan pasangan yang sepertinya membutuhkan waktu untuk berbicara empat mata. Dalam hatinya dia melafalkan kata maaf berulang kali pada Krist. Karena dirinyalah yang membuka topic pembicaraan tadi, hingga tidak sengaja terdengar oleh Singto.
“Kamu bohong apa sama aku?” tanya Singto kembali karena Krist bungkam dan menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Singto yang saat ini sedang begitu penasaran.
“Maaf aku bohong …,” ucap Krist sempat menjeda ucapannya karena di potong oleh Singto. “Bohong apa kamu?”
Krist meremat tangannya yang saling bertautan dan dengan keberanian penuh dia menatap wajah Singto dengan takut-takut. “Kamu selalu tanya sama aku, apa selama ini aku senang di rumah. Apakah aku bosan di rumah, apakah aku ingin jalan-jalankan? Dan selama ini aku selalu menjawab, aku nggak bosan dan menikmati waktu di rumah. Tapi, sayangnya itu bohong Phi. Aku bosan selalu di rumah, aku ingin jalan-jalan keluar, aku ingin menikmati udara diluar rumah,” cicit Krist yang kembali menunduk setelah menjawab pertanyaan Singto. Disisi lain ada Bass yang mengumpat habis-habisan Krist karena lagi-lagi berbohong dengan Singto, padahal sangat jelas bukan itu topic pembicaraan mereka.
Seketika Singto merasa bersalah karena begitu tidak peka dengan apa yang dirasakan oleh Krist-nya. Dia memeluk tubuh Krist dan mengelus punggungnya sembari berkata, “Kenapa nggak bilang Sayang? Kita ini pasangan, tak seharusnya kau memendam apapun yang kamu rasakan. Kamu tanggung jawab aku sekarang, dan kamu tentu boleh membagi seluruh yang kamu rasakan sama aku.”
Singto melepaskan pelukannya dan menatap mata Krist yang sudah berlinang air mata. “Maaf, aku tak berani bilang karena kamu kan juga sibuk kerja. Aku takut mengganggu pekerjaanmu yang katamu sangat banyak.” Sepertinya acting Krist patut mendapatkan penghargaan bukan?
Singto menghapus air mata yang jatuh menggunakan ibu jarinya. “Sudah, tak perlu menangis. Nanti malam kita keluar ya menikmati suasana luar. Kebetulan aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang, maukan?” tanya Singto setidaknya dia berharap itu dapat menghibur Krist.
Seketika wajah Krist menjadi semringah dan menganggukkan kepalanya dengan begitu antusias, itu terlihat seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dalam pernglihatan Singto. “Haha, ya sudah ayo kita mandi dan bersiap-siap!”
“Oke siap, Bos!”
Bass di balik dinding yang sedari tadi menguping hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya. Terkadang dia heran kemana Krist yang dulu keras kepala dan tak suka bersikap manja pada orang lain, nyatanya sekarang setelah menikah sifat Krist seolah berubah 180 derajat.
***
“Phi, kamu nggak malu jalan sama aku?” tanya Krist pada Singto yang sedang duduk di sampingnya sambil mengelus tangan Krist sedari tadi. Mereka memang sekarang sedang dalam perjalanan ke suatu tempat karena tadi Singto mengajaknya keluar.
Singto sempat mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan itu. “Malu kenapa maksudnya?”
“Aku cacat, hamil lagi. Aneh banget kan?” tanya Krist kembali sembari tertawa. Tapi, Singto tahu sebenarnya dalam hati kecil Krist sedang menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fanfiction(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
