Krist memilih memalingkan wajahnya untuk melihat ke depan lagi karena sedari tadi dia baru sadar kalau Singto sedang menatapnya, apalagi dengan penampilan Singto yang tak memakai baju dan rambutnya basah akibat habis berenang pastinya. Itu membuat Krist merasa gerah melihatnya.
“Nggak usah bercanda, Sing. Kau sedang mabuk nih pasti,” tuduh Krist tanpa melihat Singto.
“Kalau aku bercanda buat apa dari awal aku nerima perjodohan ini Krist?” tanya Singto balik.
Skak mat, Krist tak tahu harus berkata apa kalau Singto sudah berbicara soal ini. Wajahnya sudah merah padam sekarang, entahlah dia bingung harus menjawab apa sekarang. “Nggak tahu ah, cepetan ganti baju sana. Aku lapar pengen makan, kalau kau nggak mau nemenin aku bakal keluar sendiri kalau gitu,” sewot Krist yang memilih bangkit dari sana dan masuk lagi ke dalam villa, mengabaikan pertanyaan yang diajukan oleh Singto.
Singto yang melihat itu menjadi semakin pesimis dan hanya bisa menghela nafas beratnya. Sebelumnya memang masih ada Isabel dalam hatinya, namun hidup bersama dengan Krist dua bulan lebih ini membuat Singto rasanya sudah jatuh hati pada pemuda manis itu, meskipun mulutnya kalau sudah berdebat agak pedas. Tapi, dia senang memancing emosi pria itu, rasanya menyenangkan.
Tapi, ketika melihat kedekatan Krist dengan pria yang katanya kakak tingkat yang dirinya ingat bernama Plustor membuat Singto sangsi kalau Krist bisa dirinya miliki seutuhnya.
Krist makan dengan lahap dan mengabaikan tatapan Singto yang sedari tadi menatapnya, perutnya lapar dan tiba-tiba ingin makan banyak buat hari ini. Padahal kemarin-kemarin nafsu makannya menurun, apalagi kalau sendirian waktu di apartement. Dia sangat jarang makan, bahkan bisa nggak makan sama sekali dan hanya minum untuk membasahi tenggorokannya saja.
“Makanlah pelan-pelan, nggak ada yang bakal ambil makananmu, Sayang.” Singto mengusap sudut bibir Krist yang blepotan makan.
Krist menghentikan makannya mendengar ucapan Singto. “Haisshh, jangan ganggu makanku.” Krist bangkit dari sana dan membawa makannya ke meja sebelah.
“Apa coba sayang-sayangan kek gitu, fiks Singto kerasukan hantu di villa,” gerutu Krist sambil memakan makanannya.
Dia bangkit lagi dan berjalan ke mejanya lagi tadi untuk mengambil makanan yang lain. “Apa liat-liat,” sewot Krist lalu kembali ke meja sebelah. Singto hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Dia tadi sudah bertekad kalau sekeras kepala apapun Krist, dirinya pasti bisa menaklukannya. Toh, dirinya yang sudah memiliki Krist secara resmi dan direstui dua keluarga daripada orang yang katanya kakak tingkat Krist.
“Krist, bikin anak yuk,” ajak Singto dengan wajah jailnya menggoda Krist.
“Singto!” krist mengacungkan garpu dalam genggamannya dan menatap tajam kearah Singto.
“Haha bercanda-bercanda, udah cepet habisin makannya. Aku ingin ajak kamu ke club terdekat, katanya kemarin ingin ke sana.”
“Beneran?” tanya Krist dengan wajah semringahnya.
“Iya, makanya cepetan.”
Krist tersenyum cerah, tapi seketika redup ketika dirinya mengingat apa yang dikatakan oleh dokter. Dirinya nggak boleh mendekat ke tempat seperti itu atau akan sangat berbahaya buat dirinya. “Nggak usah deh, aku udah nggak pengen,” ucapnya lesu.
“Loh, tumben banget nggak mau. Kemarin maksa banget, kok tiba-tiba berubah pikiran?”
“Nggak kok, aku pengen beli sesuatu ke toko mainan. Boleh nggak?” tanya Krist dengan senyuman manis terpatri di wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fanfiction(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
