Setelah mengantarkan papanya pulang ke rumah, Singto langsung pergi dari sana dan menuju ke apartemennya sendiri. Singto memang mempunyai tempat tinggal sendiri karena dia terkadang membutuhkan waktu untuk sendiri. Dia memulai karir-nya dalam dunia kerja dari bawah, dengan menjadi karyawan biasa di perusahaan Boonrod, meskipun Singto adalah anaknya namun Boonrod tidak ingin anaknya manja dengan langsung menduduki tahta tertinggi.
Tidak ada yang tahu kalau Singto adalah anak dari pemilik perusahaan, hingga para karyawan hanya biasa saja dan tidak menghormati Singto. Tapi, Singto bersyukur karena bekerja menjadi karyawan biasa terlebih dahulu. Dia bisa melihat berbagai kecurangan dari karyawan, dari penggelapan dana kemenangan tender yang harusnya untuk perusahaan malah dialihkan pada perusahaan lain karena ingin mendapat untung. Bahkan dia bisa melihat para karyawan ada yang malas-malasan ketika bekerja.
Hingga pada akhirnya dua tahun yang lalu Singto resmi menjadi pemilik perusahaan itu karena Boonrod yang ingin pensiun, dan menyerahkan saham 89% nya pada Singto. Dan untuk 11% itu beberapa orang yang bekerja sama dengan mereka. Tapi, setidaknya keluarga Ruangroj-lah yang tetap berkuasa karena sahamnya yang paling tinggi.
Dan selama dua tahun ini juga Jinx Company berada di tangan Singto semakin pesat perkembangannya, bahkan sudah memiliki 3 anak perusahaan di kota lain. Itu akibat tangan handal Singto waktu mulai menjabat, dia membereskan kekacauan karyawan yang suka sekali bertindak curang dan bertindak tegas. Akibatnya tidak ada lagi kecurangan karena takut di pecat oleh pemilik Jinx Company.
Cara Singto dan papanya dalam memimpin perusahaan memang berbeda. Kalau papanya adalah orang yang santai dan humble pada karyawan, maka berkebalikan dengan Singto yang selalu tegas dan tidak akan mentoleransi kesalahan sedikitpun. Semuanya harus sempurna, dank arena kesempurnaan dalam pekerjaan itulah bisa membuat Jinx Company semakin berkembang pesat dalam waktu singkat.
Keinginan awalnya yang ingin ke apartemeny nyatanya tidak jadi karena kini Singto melajukan mobilnya menuju ke club temannya yang ada di pusat distrik Bangkok. Bukan sebuah club malam biasa, melainkan club malam kelas atas yang hanya bisa dimasuki oleh orang dengan tingkat kekayaan yang diatas rata-rata.
Dia langsung masuk dengan mudah tanpa harus menunjukkan tanda pengenalnya karena dia memang salah satu pemilik saham dari tempat ini juga, dan sebenarnya dia hanya membantu temannya yang dulu kekurangan dana.
"Hai Bro, kenapa lemes banget kelihatannya?" tanya seorang pria yang langsung merangkul pundak Singto.
"Iya, lagi suntuk banget nih pikiran." Singto mengeluarkan keluh kesah dalam benaknya.
"Ya udah, mending kita minum aja. Gue kasih gratis buat lu hari ini,"
"Tumben banget nih, ada apa emangnya?" tanya Singto yang heran. Pasalnya temannya yang satu ini terkadang pelit. Jadi, Singto cukup heran dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Jelek banget pikirannya, udah nikmatin aja. Gue tinggal dulu," ucap pria tersebut dan langsung pergi meninggalkan Singto.
"Thank's, Godt." Teriak Singto, namun suaranya juga tidak akan terdengar oleh temannya karena dentuman music yang begitu kerasnya saat ini.
Bartender yang ada di depan Singto mulai menyajikan minuman sesuai dengan perintah bosny. Tanpa mempunyai pikiran yang buruk Singto langsung meminumnya, sembar melihat ke sekitar di mana banyak orang yang sedang menikmati dunianya sendiri.
Bagian dance floor saja sudah dipenuhi banyak orang, mereka menggila sesuka hati dengan musik yang sama gilanya. Sungguh perpaduan yang sangat bagus bukan, dan ketika Singto melihat ke tengah. Matanya membola ketika melihat pria yang baru saja ditemuinya tadi bersama dengan papanya. Dia sedang menggerakkan badannya begitu sensual, dengan minuman di tangannya. Dan badannya diapit oleh dua orang wanita yang menempel pada Krist.
Singto masih nggak menyangka kalau pria yang akan dijodohkan dengan dirinya, sangatlah pria bebas yang menggoda wanita sana-sini, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah apa yang terjadi pada rumah tangga mereka, kalau mereka berdua benar-benar di satukan dalam bahtera rumah tangga.
Mungkin yang ada hanyalah pertengkaran setiap harinya. Singto bisa saja menyukai Krist, itupun kalau memang Krist menerimanya. Karena sejatinya Singto memang seorang bisexsual, dia pernah berhubungan dengan pria maupun wanita. Asalkan dia merasa terangsang, maka dia akan dengan senang hati bermain.
"Ck, yang seperti ini mau dijodohin sama Papa." Singto menggelengkan kepalanya melihat Krist yang semakin liar saat ini, karena masih di dance floor dengan banyak orang di sana. Krist kini malah berciuman.
Singto memutar tubuhnya dan mulai menikmati minumannya sendiri, dia tak ingin selera minumnya terganggu karena melihat Krist yang sedang berulah. Terlalu pandai mencibir, hingga Singto sendiri tidak instropeksi diri sendiri yang mana dia terkadang juga berbuat nakal.
Baru saja minumannya habis, music berhenti dan digantikan dengan aksi ricuh saling tonjok di belakang. Singto kembali membalikkan badannya, dan ternyata yang sedang saling tonjok berada di tempat Krist tadi yang sedang menikmati music. Suara teriakan wanita yang berlebihan membuat suasana sekitar semakin berisik dalam telinga Singto.
Dia melangkahkan kakinya mendekat, dan dengan sigap diberhentikan oleh Godt yang kebetulan berada di dekat sana. "Apa-apaan ini?" tanya Godt yang kini menengahi dua orang yang tadi sedang adu kekuatan.
"Dia merebut kekasihku!" Seorang pria menunjuk pria lain yang menjadi lawan adu kekuatan.
"Kekasihmu sendiri yang murahan, menempel padaku." Sedangkan yang dituduh juga tidak ingin mengakuinya karena memang dia merasa tidak menggoda siapapun.
"Sialan!" suasana kembali riuh dengan pria tadi yang sifatnya temperamental ingin melayangkan pukulannya lagi. Untungnya dipegangi oleh pengunjung yang lain.
"Lebih baik tanya sama wanitanya, jangan asal main menyalahkan." Entah mengapa Singto ingin buka suara saat ini.
"Singto! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria manis yang kaget karena melihat Singto di sini.
Pria yang sifatnya temperamental tadi semakin murka dan menggila kembali, melayangkan beberapa tonjokan di wajah lawannya. Membuat yang terkena tonjokan langsung limbung, namun untungnya ada Singto yang berada di belakangnya. Alhasil dia yang menahan bobot tubuh pria manis tersebut.
Godt yang geram karena pengunjungnya menciptakan kekacauan, langsung mengusir pria tadi. Begitu juga pria yang terkena tonjokan. Dia sedang tidak sadarkan diri dalam dekapan Singto karena mendapatkan pukulan tepat di wajahnya berulang kali. "Sing, kau kenal dengan dia bukan. Bawa dia pergi dari sini," usir Godt.
"Hah, menyusahkan sekali kau."
Akhirnya Singto membawa pria manis yang tak lain dan tak bukan itu adalah Krist yang wajahnya sudah babak belur saat ini. Dia meletakkan badan Krist di kursi penumpang dan melajukan mobilnya menuju apartement-nya yang untungnya terletak tidak jauh dari club temannya. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menita saja.
Tidak mungkin juga Singto memulangkan Krist, yang ada dirinya yang akan dituduh akan kekacauan wajah Krist saat ini. Dia membaringkan badan Krist di ranjangnya, ketika mereka sampai di apartement. Dan setelahnya dia ingin meninggalkan Krist yang tak sadarkan diri begitu saja, Singto membersihkan badannya dari darah Krist yang menempel pada jasnya.
Namun belum sempat langkah kakinya mulai meninggalkan tempatnya berdiri. Tangannya sudah ditarik oleh seseorang yang tiduran di ranjangnya, hingga kini badan Singto terhuyung hingga mengungkung badan Krist. Matanya membola ketika ternyata bibir mereka saling menempel satu sama lain, saraf motoriknya seakan berhenti bekerja semuanya. Badannya membeku dengan kejadian barusan, bau anyir masuk dalam indra penciumannya.
Namun bukannya bangkit segera memisahkan diri dari Krist yang masih memejamkan matanya, kini mereka malah saling melumat satu sama lain karena Krist menahan tengkuk Singto agar tidak melepaskan ciuman mereka yang sedang terjadi.
.
.
.
Jangan lupa buat selalu ninggalin jejak ya, baik itu vote ataupun komen.
See you next chapter
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fanfiction(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
