Pernikahan mereka berjalan dengan lancar sebulan ini, minim akan pertengkaran. Namun, minim juga akan komunikasi diantara keduanya. Mereka kebanyakan bertemu hanya di pagi hari saat sarapan bersama. Dan ketika malam hari Singto pulang, Krist sudah terlelap dalam mimpi indahnya.
Masih ingat dengan honeymoon mereka kemarin yang mana Krist menghabiskan banyak uang Singto. Entah bagaimana saat Singto kembali ke kantor, ada banyak tawaran pekerjaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya. Mungkin memang ini timbal balik dari pengeluaran yang begitu besar, nyatanya tuhan mengembalikan dengan begitu cepat.
Singto juga senang ternyata mertuanya dan Namtan senang mendapat hadiah dari mereka berdua, sebenarnya bukan hanya mertuanya dan kakak iparnya saja yang dapat. Tapi papanya dan pho Krist juga mendapat hadiah sepulangnya Singto dan Krist dari Korea.
Selebihnya barang belanjaan Krist memenuhi walk in closet mini Singto yang tak terlalu besar itu. Dari baju dan sepatu-sepatu milik Krist yang begitu banyaknya, dan Krist hanya membelikan Singto dua pasang setelan jas, dan jam tangan saja. Sungguh dramatis bukan, bayarnya pakai uang Singto, namun belanjaannya yang paling banyak punya Krist.
Krist sedang mempersiapkan sarapan mereka berdua karena memang itulah yang bisa dia lakukan di apartement Singto. Masih ingat perdebatan Krist yang tak ingin jadi pihak bawah, tapi semua yang dilakukan oleh Krist mencerminkan sekali dia berada di pihak bawah. Rasanya Singto yang sedang melihatnya sekarang ingin bicara demikian, tapi dengan sepenuh jiwa dan raga dia menahannya karena sudah bisa dipastikan kalau Krist akan menggila dan mengajak dirinya bertengkar.
“Aku akan lembur lagi hari ini, ada klien penting yang harus aku temui,” ucap Singto sambil duduk di tempatnya.
“Iya, terserah kau. Aku juga seharian ini hanya di rumah ingin belajar materi aja karena besok aku akan sidang.”
Singto menegakkan kepalanya mendengar itu. “Kau ingin aku datang atau tidak?” tanya Singto basa-basi mencoba menjadi pasangan yang baik.
“Terserah kau, kalau memang nggak bisa ya nggak usah,” jawab Krist acuh dan terus memakan sandwich yang dirinya buat tanpa repot melihat Singto.
Singto menganggukkan kepalanya. “Oke, aku lihat jadwal nanti.”
Setelah selesai dengan sarapannya, Singto langsung bangkit dari sana dan berangkat bekerja. Meninggalkan Krist seorang diri yang masih menyantap makanannya. Dia memandang kepergian Singto dengan tatapan yang penuh rasa kesal.
“Nggak usah pulang seminggu sekalian sana!” Dia tak perduli Singto mendengar ucapannya atau tidak, yang penting dia sudah mengungkapkan kekesalannya.
Sedangkan Singto yang memang tak dengar hanya melajukan langkah kakinya. Sampai di kantor kedatangannya sudah ditunggu oleh Fah karena pagi ini dia ada klien yang datang jauh-jauh dari Kanada yang ingin melebarkan bisnisnya di Negara ini.
Ini adalah klien terjauh yang ingin menjalin kerja sama dengan Singto, jadi dia menyuruh para karyawannya untuk menampilkan presentasi sebaik mungkin. Agar tender mereka tembus dengan klien ini.
Dan ternyata usaha mereka tak sia-sia karena kini mereka sedang tanda tangan kontrak satu sama lain. “Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar, Tuan Freed.” Singto menjabat klien di depannya setelah mereka berdua tanda tangan.
“Saya juga berharap demikian Tuan Singto. Anda dan karyawan Anda sangat bagus dalam hal ini, kalau Anda masih lajang mungkin Anda berminat saya jodohkan dengan putri saya,” ucap Tuan Freed tiba-tiba yang membuat Singto terkejut. Tapi, sedetik kemudian dia menormalkan ekspresinya dan hanya bisa tersenyum canggung.
“Ah, Anda bisa saja Tuan. Saya hanya pria biasa kok.” Singto mencoba rendah diri karena tak mungkin juga dia mengatakan kalau dirinya sudah menikah dengan seorang pria. Setiap orang berbeda, ada yang menerima pasangan sesame jenis, namun banyak juga yang menolak itu. Dan dia tak ingin Krist yang sekarang menjadi pasangannya mendapat cacian dari orang tak dikenal. Mereka memang menikah tanpa ada rasa di dalamnya, namun kalau sudah menjadi pasangan bukankah memang sudah seharusnya saling menjaga satu sama lain.
“Bagian mananya yang biasa saja, di usia muda saja Anda sudah bisa memimpin perusahaan ini menjadi begitu besar dan mempunyai beberapa cabang. Itu sebuah keberhasilan tersendiri untuk seorang pembisnis.” Lagi-lagi Singto mendapatkan pujian.
“Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan ini, Tuan Freed. Bukankan memang seharusnya begitu, saya hanya berusaha mempertahankan apa yang sudah tercapai tetap dalam porosnya. Ini semua juga berkat papa saya yang bisa membangun perusahaan ini dari nol, saya hanya melanjutkan saja,” ucap Singto dengan untain kata yang terdengar begitu bijaksana dan itu membuat Tuan Freed semakin kagum dengan sosok Singto.
“Wah, pasti kalau Anda mempunyai pasangan, dia akan sangat beruntung sekali bisa bersanding dengan Anda, Tuan Singto.” Freed menepuk pundak Singto atas rasa kagumnya.
Singto yang mendengarnya tersenyum. “Saya juga berharap begitu nantinya, Tuan.”
“Meskipun entah Krist merasa beruntung atau tidak karena pernikahan mereka saja terkesan dadakan sekali,” ucap Singto dalam hatinya kini.
Setelahnya Tuan Freed pamit untuk pergi karena masih ada beberapa urusan yang ingin dia lakukan selama disini. Singto dan sekretarisnya mengantarkannya sampai dilobby, setidaknya sebagai rasa terima kasihnya karena sudah mau menjalin kerja sama dengan perusahaan Singto ini.
Singto membalas lambain tangan Tuan Freed dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, setelah kepergian klien-nya itu dia menghela nafas lelah.
“Fah, masih ada berapa meeting hari ini?” tanya Singto sembari mereka berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangannya.
“Tadi yang terakhir, Tuan. Dan hanya ada beberapa berkas yang perlu persetujuan Anda, saya sudah meletakkannya di meja Anda tadi pagi,” jawab Fah ketika mereka sudah ada di dalam lift.
“Oh iya, apakah besok aku ada jadwal meeting yang penting?” tanya Singto karena dirinya teringat bahwa besok Krist ada jadwal sidang. Dia ingin mencoba menjadi pasangan baik, dan berniat untuk mengunjungi Krist. Pasti lelaki manis itu akan terkejut dengan kedatangan Singto, meskipun dirinya juga yakin Krist mungkin tak mengharapkan kedatangan Singto besok.
“Anda besok kebetulan tidak ada jadwal meeting, Tuan. Namun, lusa baru ada jadwal meeting dengan bagian keungan untuk melaporkan pemasukan dan keluaran buat bulan kemarin, Tuan.”
“Baik, kau atur saja ya. Dan tolong pesankan aku makan siang dan juga minumnya Americano saja, aku akan menyelesaikan pekerjaan ini sampai selesai saja karena besok aku ada acara bersama Krist.” Singto tak perlu menutupi pernikahannya dengan Fah karena beberapa jajaran penting di perusahaan ini memang datang ke pernikahannya kala itu.
“Oh begitu, baik akan saya pesankan, Tuan.”
Setelahnya Singto masuk ke dalam ruangannya dan Fah kembali ke meja kerjanya yang ada di depan ruangan Singto.
.
.
Dasar Krist tsundere wkwk
Cepet juga ya udah 70 lebih aja votenya wkwk, jadi harus update deh. Agak telat gapapa lah ya, baru buka soalnya hehe.
Jangan lupa buat selalu tinggalkan jejak ya, baik itu vote ataupun komen.
See you next chapter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fanfiction(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
