Comeback Home

1.3K 179 36
                                        

Bass hari ini begitu kualahan menghadapi Krist yang sedang mengamuk, bahkan perawat tak berani mendekat. Hingga harus memanggil dokter yang biasa menangani Krist. Semua barang yang berada di meja yang ada di samping ranjangnya, sudah terlempar kemana-mana. Bodyguard juga sudah menghubungi Singto atas pemberontakan yang dilakukan oleh Krist.

“Tenang, Tuan Krist. Mari bicara baik-baik apa yang Anda inginkan?” tanya dokter final. Tadi dia sudah ingin menyuntikan obat penenang, namun Krist dengan cepat mengambil alihnya.

“Anda akan menuruti apa yang saya inginkan?”

“Nanti kita lihat dulu, apa yang Anda inginkan.”

Krist menggelengkan kepalanya karena menurutnya bisa saja setelah dia mengungkapkan keinginannya, dokter itu tidak menurutinya jadi dia berkata, “Tidak, katakan ya Anda akan menuruti keingin saya dulu.”

Dengan pasrah dokter tersebut menganggukkan kepalanya, yang terpenting pasien kelas vvip-nya ini tidak mengamuk lagi. Akan sangat kacau kalau itu terdengar oleh Tuan Singto yang sudah mempercayakan pasangannya pada rumah sakit ini karena Singto menanam saham yang cukup besar di rumah sakit ini karena pasangannya disini. Jadi, mereka harus berlaku sebaik mungkin bukan.

“Buat surat aku diperbolehkan pulang sekarang, aku tak mau tahu.” Akhirnya Krist berucap demikian. Sungguh dia sudah sangat bosan berada di rumah sakit ini, setiap hari yang dirinya lakukan hanya di kamar atau ke taman rumah sakit itupun hanya sesekali tidak boleh setiap hari.

“Tapi bagaimana kalau Tuan Singto…,” belum sempat dokter itu menyelesaikan ucapannya sudah disela terlebih dahulu oleh Krist. “Bodoamat kalau dia marah, saya sudah bosan disini! Cepat buatkan sekarang,” teriak Krist yang sudah merasa frustasi.

“Krist..,” panggil Bass. Dirinya nanti juga pasti akan terkena amukan Singto kalau Krist seperti ini. Apalagi ini terjadi ketika dirinya yang menjaga temannya yang begitu keras kepala ini, sungguh Bass kadang juga kasian dengan Krist, namun demi kesehatan temannya dia juga tidak bisa membantunya.

“Baiklah, suster segera buatkan surat diperbolehkan pulang Tuan Krist, dan ambilkan juga berkas di meja saya kebetulan tadi saya sedang membacanya itu hasil terakhir kali kondisi kakinya.”

Krist bersorak senang dalam hati karena akhirnya dirinya diperbolehkan untuk pulang, sudah sangat lama dia merindukan udara segar diluaran sana. Membayangkannya saja sudah membuat Krist begitu bersemangat saat ini.

“Krist, lu yakin pengen pulang nanti kalau kita dimarahin sama Phi Singto gimana dong?” tanya Bass dengan berbisik di telinga Krist.

“Gampang, nanti aku yang hadepin yang penting sekarang bisa pulang dulu,” balas Krist dengan berbisik pula.

Bass menghela nafasnya, percuma juga dirinya menasehati Krist.

Tak lama suster tadi datang dengan dua berkas di tangannya, yang satu berisi surat diperbolehkan pulang. Sedangkan yang satu adalah rekam medisnya. Dokter menyerahkannya pada Krist semua dan berkata, “Tuan Krist untuk kondisi kaki Anda sebenarnya sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat, namun meskipun begitu tolong jangan dipaksakan untuk berjalan ketika di rumah. Dan usahakan juga mengikuti terapi seminggu 2 kali di rumah sakit. Agar kami bisa terus memantau perkembangannya. Dan untuk masalah amnesia Anda, yang tergolong amnesia retrograde yaitu melupakan masa lalu anda. Saya sarankan untuk seminggu sekali melakukan fisioterapi karena pada tahap selanjutnya kami akan melakukan trail making test. Dan jangan lupa memeriksakan kondisi janin Anda sesekali, itu pesan dari dokter yang menangani Anda.”

Krist hanya menganggukkan kepalanya menjawab perkatan panjang lebar dari dokter yang menanganinya. “Iya, Dok. Sudah selesai kan bicaranya, saya mau pulang nih.”

Connection Of Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang