Playing And Fight

1.2K 168 23
                                        

Singto membawa Krist ke taman bermain, dan mereka melakukan banyak permainan selama di sini. Singto menuruti semua wahana yang ingin dinaiki oleh Krist. Untungnya Singto sudah mempersiapkan baju ganti buat mereka, jika Krist memilih pergi ke taman bermain seperti saat ini.

“Singto aku ingin bermain itu…,” ucap Krist menunjuk wahana lain yang ingin dirinya coba.

“Apa tidak yang lain saja, Krist?” melihatnya saja sudah membuat Singto ngeri. Dari tadi permainan yang dipilih oleh Krist, menguji rasa takutnya.

“Nggak, aku tetap mau itu dan kalau kau nggak mau nemenin, aku bakal ngadu sama Papa. Kamu kira kamu sendiri yang bisa ngadu sama Pho dan Mae,” ucap Krist menjulurkan lidahnya mengejek Singto.

Dengan menghela nafas, Singto menganggukkan kepalanya menuruti Krist. Sepertinya pilihannya sangatlah salah membawa Krist ke tempat ini. Kini mereka sudah bersiap-siap di tempatnya masing-masing, dan sebentar lagi akan meluncur ke bawah sana.

Krist tak hentinya tersenyum, dan Singto yang ada disampingnya sedang mempersiapkan dirinya agar tidak jantungan nanti. Dia menarik nafas dan mengeluarkannya secara berulang-ulang, untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Baik, persiapkan diri kalian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Baik, persiapkan diri kalian. Dalam hitungan tiga kalian akan turun.” Singto mencengkram dengan erat pegangan dikedua sisi, sedangkan Krist masih sama terlihat antusias.

“3 … 2…. Lepaskan…”

“Sialan, kau baru menghitung sampai dua,” umpat Singto sambil berteriak ketika dirinya didorong turun ke bawah.

“Woohooo, ini seru Singto….,” sorak Krist yang sangat berbanding terbalik dengan Singto.

“Aku nggak bakal mau kesini lagi, Krist!”

Singto teler ditempatnya, kepalanya agak pusing terjun bebas dari atas sana. Krist yang memang nyawanya ada 1000 langsung bangkit dari tempatnya dan ingin menghampiri Singto untuk melanjutkan permainan lain yang akan mereka coba.

“Ayo, bangun Singto. Kenapa malah tidur sih,” ucap Krist menggoyangkan lengan Singto.

“Krist, aku beneran capek. Udahan ya mainnya,” lirih Singto seolah tak lagi mempunyai daya.

“Ah, cemen banget sih. Baru juga 4 permainan udah teler aja, kayak gini kok mau jadi top,” ejek Krist.

Singto yang mendengar itu seketika bangkit dari tempatnya. “Heh, jangan salah ya. Kalau diranjang udah beda cerita ini, aku bahkan sanggup menusukmu sampai 3 hari tanpa istirahat.” Harga dirinya seolah jatuh kalau sudah berbicara soal posisi.

“Apaan, sini aja kamu yang aku tusuk,” teriak Krist yang juga tak terima. Kedua tangannya sudah bertengger di pinggangnya menantang Singto.

“Nggak ada, mana bisa gitu.”

Petugas yang ada di sana sampai kikuk sendiri mendengar topik pertengkaran mereka. Ingin mendekat tapi pasangan di depannya, lagi mode senggol bacok. Tapi, kalau nggak mendekat pekerjaannya yang menjadi taruhan disini. Dia menangkupkan tangannya dan berdoa. “Selamatkan aku tuhan,” dengan keyakinan dia berjalan mendekat untuk memisahkan mereka.

“Maaf, Tuan-tuan.”

“Apaaaa!” teriak Singto dan Krist bebarengan.

“Kalau bertengkar boleh ke pinggir aja ya, soalnya yang diatas udah mau terjun ke sini buat nyoba permainan ini.”

Seketika Krist sadar dimana dia berada sekarang, Singto saat itu juga langsung menarik tangan Krist untuk ke pinggir. Dan sebelumnya meminta maaf karena sudah membuat kegaduhan.

Pada akhirnya mereka tak jadi melanjutkan permainan dan memutuskan untuk pulang saja. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada yang mau buka suara. Singto yang fokus dengan jalanannya, dan Krist yang lebih memilih melihat pemandangan diluar jendela.

Dipertengahan jalan sebelum sampai di apartement mereka, Singto menghentikan laju mobilnya dan mampir ke minimarket karena ingin membeli sesuatu. Krist yang ingin bertanyapun tak jadi karena ternyata Singto sudah keluar dari sana.

Tak lama Krist menunggu Singto hanya sekitar 5 menit ternyata dia sudah kembali ke dalam mobil dan melemparkan hasil belanjaannya ke pangkuan Krist. tentu saja itu membuat Krist terkejut dengan tindakan Singto yang menurut dirinya sangat aneh itu.

“Apa nih maksudnya?” tanya Krist.

“Makan aja, ada es krim dan snack di dalem. Dari pada diem lihat jalanan nggak jelas,” jawab Singto sambil mulai menghidupkan mobilnya kembali.

“Kau fikir aku anak kecil yang bisa dibujuk sama makanan gitu?” tanya Krist tak habis pikir dengan Singto. Sayangnya lain di mulut, lain ditindakan karena ujung-ujungnya tangan Krist membuka satu persatu jajan yang dibelikan oleh Singto. Apalagi ada 4 es krim yang beraneka ragam, dan itu habis dimakan Krist seorang diri.

Singto yang berada di sampingnya dan melirik dari ujung matanya melihat Krist yang tsundere seperti hanya bisa tersenyum tipis tanpa Krist ketahui. “Tadi aja nolak, ngedumel nggak mau makan. Ini malah habis semua,” gumam Singto yang melihat Krist sudah tertidur karena kemungkinan kekenyangan.

Sampai di basement apartement karena Singto tak tega membangunkan Krist, akhirnya dia menggendong Krist sampai kamar mereka. tanpa Singto ketahui Krist sebenarnya terbangun akibat dirinya mau digendong oleh Singto, namun dia berpura-pura untuk tidur kembali karena kalau dirinya bangun. Pasti suasana akan semakin canggung diantara mereka.

Detak jantung Singto membuat Krist terasa begitu nyaman. Entah mengapa ada sensasi yang berbeda dari biasanya, dia merasa begitu aman dan menangkan dalam dekapan Singto.

Singto meletakkan Krist dengan perlahan di ranjang, dan setelahnya dia langsung melangkahkan kakinya untuk menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Krist yang merasa sudah tidak ada Singto disekitarnya langsung bangun dan menyandarkan dirinya di ranjang. “Apa itu tadi? Ini beneran Singto ngelakuin kayak gini, kenapa sih dia malah tambah baik. Padahal harusnya dia jengkel dan ceraikan aku karena sikapku yang bikin kita berantem terus. Aku nggak paham dengan pola pikirmu Sing, dan lagi malah tadi dateng ke kampus bawa bucket besar lagi. please deh Sing, jangan jatuh hati sama aku,” gerutu Krist yang berbicara sendiri.

Ponselnya berdering dan itu membuat Krist menghentikan gerutuannya, dia melihat di sana ada nama Plustor yang menghubungi dirinya sekarang. Seketika badannya menegang sekarang, pasti Plustor ingin tanya soal yang tadi. Dia langsung bangkit dari sana dan menuju balkon untuk mengangkat telefon tersebut.

“Halo, Phi. Ada apa ya?” tanya Krist ketika mengangkat panggilan dari kakak tingkatnya.

“Hai Krist, aku ingin bertemu besok. Apakah bisa?” tanya Plustor di sebrang telefon.

“Kalau Phi ingin tanya soal yang tadi, lewat telefon aja Phi,” tolak Krist secara halus.

“Eh.. bukan kok, aku hanya ingin ngobrol denganmu. Lagipula Bass sudah sedikit menjelaskannya padaku tadi, dan aku hanya ingin bertemu sebelum aku kembali ke Chiang Mai. Apakah bisa Krist?” tanya Plustor setelah menjelaskan maksud kenapa dirinya mengajak Krist bertemu.

Krist terdiam mempertimbangkan, haruskan dirinya bertemu dengan Plustor ataukah menolak. “Krist, kamu masih disana kan? Gimana Krist, bisakan?” tanya Plustor kembali karena tak mendengar jawaban dari Krist.

Mendengar suara Plustor yang berharap dirinya mau membuat Krist akhirnya luluh. “Baiklah, Phi. Besok ketemu di café secret se7en ya,”

“Oke, aku tunggu siang di sana. sekalian makan siang.”

“Iya, aku tutup dulu kalau begitu.”

Krist menghela nafas menutup panggilan diantara mereka. Dia berharap Plustor tak membahas soal ini besok.

.
.
.

Krist jangan mincing abang terus dong, kan jadinya berantem kan…

Double up?

Jangan lupa buat selalu ninggalin jejak, baik itu vote ataupun komen ya.

See you next chapter.

Connection Of Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang