Angry

987 131 13
                                        

Sudah satu bulan lamanya Krist berada di rumah sakit. Sebenarnya dia sudah sangat bosan berada di sini, namun Singto tak memperbolehkan dirinya pulang karena katanya harus terapi rutin kakinya. Padahal dokter juga sudah memperbolehkan dirinya pulang dari bulan lalu, dan boleh rawat jalan saja. Dalam artian datang ke rumah sakit untuk terapi dan cek kandungan saja.

Sayangnya, Singto yang keras kepala bagaikan batu itu justru tak mengikuti saran dokter. Dan Krist mau tak mau harus menurutinya. Padahal Krist sudah menggerutu dan marah-marah, tapi Singto tetap teguh dengan pendiriannya yang mana tak memperbolehkan Krist pulang.

Banyak orang bergantian menjaga dirinya, antara orang tuanya dan temannya. Dan malamnya hanya Singto yang selalu menjaga dirinya. Seperti malam ini, Krist sudah sendirian dan Singto belum kunjung datang karena katanya sedang lembur. Tapi, meskipun dirinya di dalam kamar seorang diri, namun di depan ruang rawat inapnya ada dua bodyguard yang menjaga.

“Huuuhh,” Krist menghela nafas kasar.

“Sampai kapan aku harus di sini, aku ingin pulang!” teriak Krist frustasi.

Teriakan Krist yang sangat keras itu membuat dua bodyguard yang menjaga di depan ruang inapnya pada tergesa-gesa masuk ke dalam untuk melihat pasangan boss-nya.

“Tuan Krist, ada apa?”

“Apa terjadi sesuatu?”

Dua bodyguard itu saling melemparkan pertanyaan dan menatap Krist dengan raut khawatir. Pasalnya kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan, maka taruhannya pekerjaan mereka.

“Singto kemana? Kenapa dia belum ke sini juga. Aku bosan di sini, aku ingin pulang.”

“Tuan Singto…,” belum sempat ucapan bodyguard itu selesai. Sudah di sela terlebih dahulu oleh Krist.

“Kalau dalam satu jam dia nggak sampai ke sini juga, aku nggak mau ketemu dia lagi. Bos sialan kalian membuatku terkurung, cepat suruh dia kesini sekarang!” Krist mengatakannya dengan menggebu-gebu dan nafas yang naik turun karena emosi.

Sebenarnya bisa saja Krist bilang sendiri pada Singto, karena suaminya sudah membelikan ponsel baru untuknya. Sayangnya, Krist terlalu gengsi untuk menghubungi Singto terlebih dahulu.

“Eh, baik Tuan. Kami akan menghubungi Tuan Singto nanti. Anda tenang ya,” ucap salah satu bodyguard yang kebingungan menghadapi pasangan boss-nya.

“Nggak ada nanti-nanti, hubungin dia sekarang juga!” Krist menekankan setiap kata yang dirinya ucapkan.

“Baik Tuan, eh cepet hubungi Bos.”

“Lah, kenapa malah nyuruh. Lu aja sana hubungin Bos Singto.”

“Nggak ada nomernya Gua, Lu aja cepet buru. Keburu bininya makin ngamuk ini,” desak salah satunya. Mereka bicara sambil bisik-bisik agar tak terdengar oleh Krist.

“Heh, kalian nggak denger apa yang saya bilang tadi. Cepet hubungi Bos kalian sekarang! Ck, malah ngobrol lagi,” desak Krist yang sudah nggak sabar. 

Dalam hati dua bodyguard itu hanya bisa sabar, dan langsung menghubungi Singto. Dengan takut mereka menyampaikan pesan dari Krist yang menyuruh segera datang ke rumah sakit, sebenarnya bukan karena takut dengan bosnya. Namun, sedari tadi Krist menatap mereka berdua dengan begitu tajam.

“Tuan Singto, dalam perjalanan ke sini,Tuan.”

Krist mengaggukkan kepalanya, “Kalian keluar, saya muak lihat kalian.”

Dua bodyguard itu sempat tercengang dengan ucapan Krist, sayangnya mereka sadar kalau pasangan bosnya ini sedang mood buruk. Jadi, sebisa mungkin apa yang diucapkan oleh Krist tak dimasukkan dalam hati.

Connection Of Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang