Krist sangat penasaran siapa pelaku yang meneror dirinya. Ternyata ada baiknya juga Singto mengetahuinya, mereka bisa tertangkap dalam waktu yang cukup singkat menurutnya.
“Aku bawa mereka ke polisi, agar di proses secara hukum.”
Krist bisa sedikit bernafas lega mendengar itu. “Mereka melakukan itu dengan motif apa, Phi? Apakah ada bosnya atau mereka sendiri yang punya dendam sama aku? Tapi, sepertinya aku ga pernah berbuat jahat deh sama orang-orang,” ucap Krist menerawang dirinya di masa lalu.
“Mereka bilangnya sih melakukan sendiri tanpa ada suruhan dari orang lain, tapi aku tetap penasaran jadi aku menyuruh polisi untuk mengintrogasinya sampai sedetail mungkin. Kamu mau jadi saksi?” tanya Singto.
Krist menganggukkan kepalanya. “Boleh, aku ingin lihat juga mereka.”
Singto memegang tangan Krist sambil tangan satunya yang masih menyetir. “Kamu udah aman sekarang, jangan main rahasia-rahasiaan lagi ya. Aku khawatir banget loh sama kamu.”
Krist bisa melihat tatapan serta ucapan yang begitu tulus yang diucapkan Singto padanya. Dirinya merasa bersalah sekarang karena selalu menyimpannya seorang diri dan tidak pernah memberi tahu Singto apapun yang telah menimpanya.
“Maaf,” cicit Krist sambil menundukkan kepalanya. Dia menggenggam erat tangan Singto yang ada di genggamannya.
Tak lama mereka sampai di rumah, namun belum ada yang ingin turun diantara mereka. Singto menghela nafas melihat Krist yang masih menundukkan kepalanya. Dia mendekat dan membawa Krist dalam pelukannya, Singto menghirup wangi rambut Krist yang selalu dirinya suka.
“Meskipun pernikahan kita karena perjodohan, namun aku tak pernah menyesali karena menyetujuinya Sayang. Malah aku merasa beruntung karena kamu yang dijodohkan oleh Pho sama aku, jadi aku nggak perlu repot-repot cari pasangan sih.”
Seketika Krist berdecih dan melepaskan pelukan dari Singto. “Oh, ternyata itu alasannya? Aku gak nyangka banget loh Phi.”
Singto terkekeh ketika Krist menggerutu. “Yang penting sekarang aku udah sayang beneran sama kamu.”
Benar juga sih, mungkin memang awal perkenalan mereka berdua memang buruk. Tapi, itu tak menjamin kalau masa depan mereka buruk juga kan. Nyatanya mereka sudah akan menjadi orang tua.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan Krist yang berjalan pelan-pelan karena ternyata kakinya terasa begitu lemas sekarang setelah dari siang pergi bersama dengan Bass. Cukup melelahkan untuk Krist yang jarang keluar rumah.
“Mau makan apa? Biar di masakin sama bibi,” tawar Singto ketika mereka berdua sudah di kamar.
“Tolong suruh masakin chiken steak aja sama jus alpukat aja, nanti bawa ke kamar. Aku males banget buat jalan keluar lagi.” Setelahnya Krist langsung merebahkan dirinya di ranjang.
Singto bergegas keluar untuk memberitahukan keinginan Krist, setelahnya dia masuk kembali dan menemukan Krist yang sudah tertidur. Padahal belum bersih-bersih, bahkan sepatunya saja masih terpakai saat ini.
Singto dengan telaten melepas sepatu dan kaos kaki Krist. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air hangat. Karena dia tahu kalau tidak nyaman tidur tanpa bebersih, alhasil dia membangunkan Krist sebentar untuk berganti baju dan Singto mengelap tubuh pasangannya. Krist hanya menurut dengan mata yang masih sangat mengantuk. Matanya terasa sulit untuk dibuka karena badannya benar-benar lelah sekarang.
Setelah perjuangan cukup panjang akhirnya Krist sudah terlihat nyaman dalam tidurnya dengan bajunya yang sudah berganti menjadi setelan piyamanya. Sehabis membantu Krist, kini giliran Singto sendiri yang membersihkan dirinya. Bahkan hingga dia selesai dengan segala urusannya, Krist masih terlihat sangat nyenyak tidurnya. Hingga membuat Singto tidak tega untuk membangunkannya.
Baru saja Singto keluar dari kamar ternyata bertepatan dengan bibi yang ingin mengantarkan makanan. “Untuk makanan Krist letakkan di kulkas aja ya, Bi. Dia udah tidur soalnya, nanti kalau kebangun biar saya yang panasin di microwave buat dia. Dan punya saya biar saya makan aja di meja makan nanti,” ucap Singto.
“Baik, Tuan.” Setelahnya pelayan tadi langsung pergi dari hadapan Singto.
Sedangkan Singto ke ruang kerjanya sebentar untuk mengecek pekerjaannya karena takutnya ada email baru yang harus segera dirinya lihat. Soalnya dia kan pulang cepat hari ini.
Krist terbangun dan melihat di sampingnya ternyata tidak ada Singto. Dengan mata yang masih agak mengantuk dia bangun dan berjalan ke ruang kerja suaminya yang berada di samping kamar mereka memang, Sebelumnya dia mengetuknya terlebih dahulu, namun tak ada suara dari dalam. Jadi, dia langsung membukanya dan ternyata memang tidak ada Singto di sana.
Krist memutuskan untuk ke ruang tamu siapa tahu Singto ada disana, dan ternyata benar suaminya itu sedang ngopi sambil menonton televisi. Jadi, Krist segera menghampirinya dan duduk disebelahnya. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Singto.
“Kenapa nggak tidur lagi aja kalau memang masih ngantuk?” tanya Singto sambil mengelus rambut Krist.
Krist menggelengkan kepalanya dan berkata, “Baby laper, makanya kebangun. Padahal aku masih ngantuk,” jawab Krist dengan suara lemahnya.
“Yaudah, aku ambilin makanan. Kamu tunggu sebentar disini ya,” ucap Singto yang hanya diangguki oleh Krist.
Singto memanaskan sebentar makanan yang sudah dibuatkan bibi untuk Krist dan membawanya ke ruang santai dimana Krist menunggu dirinya disana. “Mau aku suapin atau makan sendiri?” tanya Singto ketika sudah duduk disamping Kristnya.
“Kalau mau suapin gapapa, aku gapunya tenaga rasanya.” Singto tersenyum tipis, dia selalu senang kalau Krist sudah bermanja dengannya seperti ini.
“Aku boleh tanya sesuatu nggak?” tanya Krist di sela-sela kunyahannya.
“Ditelan dulu itu baru bicara,” tegur Singto.
Krist menelannya dan kembali berucap, “Kenapa kamu dulu mau ceraikan aku?” tanya Krist tiba-tiba.
Sontak saja Singto terdiam di tempatnya, dia sangat terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Krist barusan. Dalam benaknya sontak berpikir apakah Krist sudah ingat kecerobohan yang pernah dia lakukan dulu sebelum mencari buktinya terlebih dahulu.
Melihat Singto yang terdiam membuat Krist berpikiran kemana-mana sekarang. “Padahal kamu bisa tanya loh sama aku dan malah memutuskan minta cerai. Jujur aku kaget banget waktu itu, apalagi setelahnya kamu gak bales chat aku dan gak angkat juga telfon aku. Sampai akhirnya aku mutusin mau nyamperin kamu ke kantor. Eh, malah aku kecelakaan.”
“Sayang…, kamu … kamu udah ingat semuanya?” tanya Singto dengan suara yang terbata-bata. Apakah setelah ini Krist akan meminta pisah darinya?
.
.
.
.
.
Hayoloh Singto …. Gugup kan sekarang.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, baik vote ataupun komen. Biar aku semangat lanjutinnya, dan buat yang selalu ninggalin jejaknya makasih banget.
See you next chapter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fanfiction(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
